BANDAR LAMPUNG – Pemandangan tak biasa terlihat di teras Masjid Al Amin, Pahoman, Kota Bandar Lampung. Di tengah protokol kedinasan yang biasanya kaku, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal luruh dalam tradisi makan bersama satu nampan di atas lantai bersama warga, pengusaha, aktivis, hingga jemaah masjid, Minggu (1/2/2026).
Momen ini bukan sekadar jamuan makan biasa, melainkan sebuah laku spiritual dan sosial yang dilakukan secara konsisten oleh majelis tersebut setelah melaksanakan rangkaian ibadah salat dan siraman rohani.
Menghapus Sekat Hirarki
Dalam suasana yang khidmat namun hangat, tidak terlihat adanya perbedaan fasilitas. Gubernur yang mengenakan jaket hitam duduk melingkar bersama tenaga pendamping pertanahan H. Darussalam, SH, MH, dan elemen masyarakat lainnya. Tanpa piring pribadi dan tanpa jatah istimewa, semua tangan menjangkau nampan yang sama.
Tradisi ini menjadi simbol turunnya ego dan penguatan adab. Di atas tikar yang digelar, status sosial sebagai pejabat, wartawan, atau Gen-Z ditinggalkan, berganti dengan identitas tunggal sebagai sesama manusia yang bersyukur.
Implementasi Nilai Keagamaan dan Budaya
Kegiatan ini merujuk pada teladan Rasulullah SAW yang menekankan bahwa keberkahan hadir dalam kebersamaan. Sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Dawud: “Makanlah kalian bersama-sama dan jangan makan sendiri-sendiri, karena sesungguhnya keberkahan itu bersama kebersamaan.”
Selain nilai agama, tradisi ini juga menghidupkan kembali kearifan lokal Nusantara seperti bancakan atau kenduri, yang dimurnikan melalui niat ibadah dan sedekah tanpa pamer.
Pesan Kebangsaan dari Teras Masjid
Makan bersama ini menjadi jembatan sosial yang efektif untuk menghapus jarak yang sering kali tidak bisa diselesaikan melalui pidato formal. Melalui nasi hangat dan lauk sederhana, lahir persaudaraan yang kuat dan rasa saling menguatkan antar-elemen masyarakat.
Momen ini mengingatkan bahwa kemuliaan seorang pemimpin bukan terletak pada kursi yang diduduki, melainkan pada kesediaan untuk duduk sejajar dan berbagi dengan rakyatnya. Tradisi "Satu Nampan" di Masjid Al Amin ini menjadi oase di tengah dunia yang kian individualis, membuktikan bahwa iman dan kebersamaan bisa tumbuh subur di antara suapan nasi yang dibagi rata.