Tentang Wudhu’, Suci Lahir dan Batin

  • Whatsapp

Oleh: Yant Kaiy

Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk senantiasa berwudhu’. Lima kali dalam sehari-semalam kaum muslim berwudhu’ sebagai salah satu syarat sahnya ibadah shalat wajib. Banyak manfaat yang akan didapat bagi seseorang apabila ia selalu menjaga wudhu’nya.

Secara dhahir, manusia yang memperhatikan kebersihan tubuhnya akan terproteksi kesehatannya. Ia akan tetap segar-bugar sebagai cerminan kalau dirinya tidak jorok. Salah satu contoh penjual makanan. Pelanggan bakal setia membeli dan tidak akan pindah ke lain hati membeli makanan yang sama yang dijual orang lain. Pelanggan setia itu sangat yakin kalau makanan buatan orang yang bersih penampilannya tersebut menyehatkan badan. Ia tidak akan waswas lagi. Tentu berbeda ceritanya dengan penjual yang tidak menjaga kebersihan tubuhnya.

Seperti ada peribahasa yang mengatakan kalau kebersihan itu sebagian dari iman. Ini ada relevansinya dengan wudhu’ yang sebenarnya. Dalam Islam disyariatkan bagi umat muslim untuk mengambil wudhu’ sebelum mengerjakan shalat. Wudhu’ adalah media yang bisa menyatukan/mengantarkan seorang hamba kepada Sang Khalik.

Dalam wudhu’ sesungguhnya terbagi menjadi tiga tingkatan, antara lain:

1. Wudhu’ dhahir pakai air.
Pada tingkatan wudhu’ ini diterangkan dalam Al-Qur’an dalam surah Al-Maidah [5]:6, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”

Perintah Allah dalam Al-Qur’an sudah sangat jelas, bahwa seseorang yang wudhu’nya batal maka shalatnya batal juga.

2. Wudhu’ dhahir tak pakai air.
Wudhu’ yang satu ini bagian terpenting bisa diterimanya ibadah shalat seseorang. Tata cara wudhu’ dhahir tak pakai air yakni menjauhi dan menghentikan perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Logikanya begini, setiap perilaku dosa yang dikerjakan manusia adalah perbuatan kotor dan najis. Sedangkan wudhu’ diperintah Allah SWT untuk senantiasa suci dari perkara dosa.

Ibn ‘Abbas Ra. Mempunyai pernyataan bahwa apa yang menjadi hadast (pembatal wudhu’) itu ada dua jenis. Hadast pertama adalah yang muncul dari lisan, dan yang kedua hadast yang muncul dari kemaluan. Dan yang terberat adalah hadast yang muncul dari lisan.

3. Wudhu’ batin pakai air gaib.
Yang dimaksud dengan wudhu’ ini adalah membersihkan hati dengan senantiasa berdzikir hati mengingat Allah SWT dalam setiap waktu. Sedangkan air gaib yang dimaksudkan adalah dzikir seorang hamba kepada Sang Pencipta alam semesta ini. Dzikir tidak kelihatan oleh mata, tapi dzikir bisa menyucikan hati dari kotoran dosa dalam hati.

Ketiga jenis wudhu’ di atas adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Tidak sah shalat seseorang kalau salah satu diantara ketiganya tidak memenuhi kaidah yang telah diwajibkan.

Ada seorang salafusshalih (orang salih jaman dahulu), Isam bin Yusuf. Ia dikenal sangat wara’ (hati-hati) dan khusyu’ dalam shalatnya. Namun ia seringkali bimbang takut ibadahnya tidak diterima Allah SWT. Suatu hari ia menghadiri majelis seorang ‘abid bernama Hatim Al-Assam dan ia bertanya, “Wahai hamba Allah, bagaimanakah caranya Anda shalat?”
Hatim berkata, “Jika masuk waktu shalat, aku berwudhu’ dhahir dan batin.
Isam bertanya, “Bagaimanakah wudhu’ dhahir dan batin itu?”
Hatim berkata, “Wudhu’ dhahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Nabi SAW.

Sedangkan wudhu’ batin ialah membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yakni: (1) senantiasa bertobat kepada Allah atas segala dosa; (2) kemudian menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi; (3) membersihkan diri dari cinta dunia (hubbuddunya); (4) menghindarkan diri dari segala pujian manusia; (5) meninggalkan sifat bermegah-megahan; (6) tidak berkhianat dan menipu; (7) serta menjauhi perbuatan iri dan dengki.
Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita berwudhu’ ketiga-tiganya?

Penulis: Ketua Sanggar Adinda Pasongsongan-Sumenep

Pos terkait