Strategi Pertumbuhan Bank Syariah di Era Ekonomi Digital

  • Whatsapp
Neni Sri Wahyuni Simare-mare
Oleh: Neni Sri Wahyuni Simare-mare
(Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Gerakan Aksi Bela Islam yang fenomenal telah menunjukkan tingginya semangat dan kepercayaan diri ummat Islam hingga hari ini. Semangat yang dilandasi kecintaan kepada Al-Qur’an telah mempersatukan dan menggerakkan jutaan orang untuk menyuarakan pembelaannya. Kecintaan yang menjembatani berbagai perbedaan di tubuh internal ummat Islam dan menumbuhkan kepercayaan diri bahwa kekuatan massa yang didukung sumber daya finansial, informasi, dan pengorganisasian gerakan yang luar biasa. Pasca Aksi, berbagai elemen ummat Islam bertekad memelihara spirit aksi yang dibingkai dalam berbagai inisiatif gerakan yang berkelanjutan, maka muncul gerakan sholat shubuh berjamaan, inisiatif mendirikan jaringan toko ritel M212 dan pembentukan koperasi syariah 212. Bahkan muncul opini mendirikan Bank Islam 212 (Republika, 28 Desember 2017).

Gairah semangat ummat Islam tersebut lahir disaat kinerja perbankan syariah pada kondisi yang tidak diharapkan, pertumbuhan asset dan market share sedang mengalami perlambatan sejak tahun 2013, bahkan bank syariah melakukan pemotongan besar-besaran untuk biaya pengembangan SDM dan propmosi. Namun dalam pengamatan sampai saat ini Bank Syariah tidak melihat dan menjadikan semangat ummat Islam kedalam kegiatan bisnis, seperti pengembangan dan promosi produk, atau melakukan ekspansi pasar. Sangat disayangkan jika Bank Syariah bisa mengkonversi momentum ini dan membiarkan lewat begitu saja.

Baca Juga

Untuk memastikan eksistensi Bank Syariah di masa depan, pada 12 November 2015 Otoritas Jasa Keuangan ( OJK), mengadakan konferensi internasional keuangan Islam, hasilnya di tuangkan dalam bentuk ” Roadmap of Indonesia Islamic Banking 2015-2019 “. Visinya adalah menjadikan Bank Syariah sebagai kontributor pembangunan ekonomi bangsa. OJK juga mencatat bahwa yang menjadi isu strategis yang dihadapi Bank Syariah adalah rendahnya pemahaman dan minat masyarakat terhadap Bank Syariah. Pada tanggal 12 Desember 2016 OJK telah mengeluarkan Surat Edaran tentang panduan penyelenggaraan digital brach. Dengan demikian tahun 2017 adalah waktu yang tepat bagi Bank Syariah bangkit.

A. Memilih Strategi Pertumbuhan

Pembahasan strategi pertumbuhan bank syariah sudah berjalan cukup lama, sepertinya pemerintah memilih strategi ” Merger ” terhadap tiga bank syariah milik Bank BUMN menjadi satu Bank BUMN Syariah besar dan kuat. Pilihan strategi merger tersebut memunculkan pro dan kontra. Penulis termasuk yang tidak setuju, kalau tujuannya pertumbuhan market share, merger bukan pilihan yang tepat, merger efektif untuk memperkuat struktur dan kinerja keuangan perusahaan. Analoginya seperti ini, umpama kan industri perbankan adalah industri trasportasi perkotaan Jakarta, bank konvensional adalah bus transjakarta sedangkan bank syariah adalah metromini, dengan cara menggabungkan tiga pemilik besar metromini.

Meningkatkan pangsa pasar pada umumnya menggunakan strategi pertumbuhan organic. Philip Kolter sebagai guru Marketing Management terkemuka sampai saat ini, memberikan tiga rumusan untuk meningkatkan market share, yaitu : intensive growth opportunity, integrated growth opportunity, dan diversification growth opportunity. Dengan memperhatikan kondisi lingkungan bisnis bank syariah ekternal dan internal bank syariah sekarang.

B. Fokus Pada Penetrasi Pasar

Penetrasi pasar industri perbankan masih rendah. Menurut Bank Indonesia hanya 20% penduduk dewasa yang memiliki rekening bank. Angka ini sesuai dengan data yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik, jumlah pemilik rekening bank ( unique number) yaitu sebanyak 60 juta. Artinya peluang memperbesar market share masih terbuka lebar. Dengan catatan bank syariah mampu meningkatkan kompetesi dibidang teknologi informasi digital disertai kemampuan dalam big data analytic. Dengan demikian bank syariah akan mudah mengenali kebutuhan pasar dan memahami perubahan perilaku nasabah ( voice of customer) terutama pelanggan segmen retail dan segmen pasar Usaha Kecil Mikro ( UKM).

Potensi pasar segmen pelajar masih terbuka lebar perkiraan jumlah pelajar saat ini sekitar 38 juta, enam belas persen ( 6 juta) adalah pelajar di pesantren. Berdasarkan tingkat inklusi pelajar sebesar 22% maka pelajar yang sudah mempunyai rekening bank baru 8,4 juta. Terdapat 30 juta pelajar yang belum memiliki rekening. Untuk segmen mahasiswa di perguruan tinggi islam bank syariah mampu menjadi bank pilihan. Dari survey yang penulis lakukan terhadap 150 mahasiswa di perguruan tinggi islam swasta di bekasi, diketahui market share bank syariah mencapai 54% artinya bank syariah sebagai market leader. Yang menarik 65,7% mahasiswa pengguna layanan mobile banking. Sementara untuk segmen usaha kecil dan mikro yang belum tersentuh layanan pembiayaan formal sebanyak 50 juta per orang.

C. Perkuat Pada Segmen Mikro

Peran bank syariah secara prinsip keuangan Islam tidak semata sebagai intermediary, tetapi adalah sebagai investor aktif ( musharakah), investor pasif ( mudharabah). Atau sebagai penyalur dana bantuan ( Qard). Dengan prinsip tersebut seharusnya bank syariah merupakan mitra penyedia modal yang tepat untuk segmen pasar pelaku usaha kecil dan mikro. Dalam prakteknya bank syariah lebih banyak memberikan pembiayaan dengan akad jual beli ( murabahah). Selain itu bank syariah selama ini belum ditunjuk sebagai penyalur kredit usaha rakyat ( KUR). Kabar baiknya di tahun 2017 ini OJK akan memberikan izin kepada bank syariah untuk menyalurkan KUR.

Mesiasati keterbatasan regulasi dan teknologi Informasi, pengembangan pasar di segmen pembiayaan keuangan mikro, bank syariah harus lebih akresif melakukan kolaborasi dengan pemain fintech P2P Lending, yang sampai saat ini telah menyalurkan dana pembiayaan sebesar Rp 150 milliyar. Artinya bank syariah dituntut lebih kreatif dalam membuat model bisnis baru yang berdasarkan profit/ loss sharing, dengan menggandeng pemain fintech, dan pelaku usaha mikro yang berbasis komunitas.

D. Inovasi Produk

Pekerjaan rumah Bank Syariah berikutnya, yang harus diselesaikan segera diawal tahun 2017 ini adalah mengembangkan saluran pelayanan Omni Channel berbasis teknologi informasi. Dengan demikian nasabah Bank Syariah bisa mendapatkan layanan dari berbagai macam saluran atau devince dengan fungsi dan rasa (Experiance) yang sama. Strategi memperbanyak jumlah kantor cabang sudah harus di tinggalkan, karena tren ke depan nasabah lebih suka menggunakan elektronik channel daripada datang ke kantor layanan. Chriss Skinner penulis bukunya Digital Bank, mencatat tren pengurangan jumlah kantor cabang sebesar 18% per tahun, dalam kurun waktu 2013-2015 di seluruh Eropa ada sekitar 20.000 kantor cabang yang sudah di tutup.

Bank Syariah harus segera melakukan pengembangan produk dan layanan fokus pada target segmen retail konsumtif dan retail produktif, seperti layanan pembayaran dan pembelian menggunakan E-Money (Cash Lash) yang menggunakan teknologi Near Field Communication (NFC) baik yang ada di smartphone maupun dalam bentuk stiker. Bank syariah juga harus memperkuat saluran digital channel dan financial technology ( fintech), seperti menyediakan layanan infak/ sedekah ( crowdfunding), layanan personal finance management, layanan marketplace untuk produk konsumtif maupun produk investasi yang berkolaborasi dengan merchants yang beragam namun selektif.

Industri perbankan saat ini memasuki revolusi gelombang ketiga setelah revolusi gelombang pertama pada tahun 1970 ketika city bank memperkenalkan layanan Automatic Machine Teller (ATM) Pertama kali. Gelombang revolusi kedua disebut “Digital Hybrids” Dimulai pada tahun 2009 ketika Bank simple Bank melakukan outsource atau manage servis untuk fungsi back end kepada Bank pertahanan, sementara mereka fokus pada pengembangan kualitas layanan disisi front end yang di jadikan sebagai nilai tambah dan keunggulan dalam bersaing. Model Hybrid ini terbukti 20%-40% lebih efisien dibanding Bank tradisional. Gelombang revolusi ketiga adalah Digital Banking, yaitu bentuk layanan perbankan menggunakan media elektronik. Brett King dalam bukunya Branch Today Gone tomorrow, menulis bahwa sejak tahun 2010, sebesar 75%-90% transaksi Bank retail dilakukan melalui internet, smartphone dan ATM.

Ditahun 2017 ini adalah waktunya bagi Bank Syariah, dengan melakukan langkah langkah berikut:

1. Membuat program intensive Growth Strategy, secara cepat dan konsisten dalam melakukan eksekusi.

2. Menjalankan model bisnis Bank hybrid untuk fungsi-fungsi back office, dan

3. Memulai Bank syariah bertransformasi menjadi Bank retail digital.

 

Pos terkait