Resonansi Pendidikan dan Membangun Manusia Merdeka di Era Disrupsi

  • Whatsapp
Penulis : Dr. H. Akik Zaman 

Pada kesempatan ini, semua undangan – civitas akademika terutama orang tua mahasiswa diliputi rasa riang gembira, bahagia menyaksikan inaugurasi – wisuda mahasiswa STKIP PGRI Situbondo. Dalam tradisi akademik, wisuda adalah salah satu upaya membangun memorial keilmuan untuk terus mencoba, memperbaiki dan memproduksi amal keilmuan melalui trial and error. Bagaimana mengelola uji coba, menemukan konsep baru, menyusun action plan dan menyempurnakan kerja. Wisuda bukan tahapan akhir, melainkan gerbang Pendidikan berkelanjutan kearah siap latih menuju siap pakai dan begitu seterusnya.

Trial and error adalah upaya menemukan formula baru, paradigma baru dan teori baru melalui serangkaian eksperimen yang panjang, hasil dari refleksi dan analisis yang berkelanjutan. Hal yang semula baru bersamaan dengan perjalanan waktu, menjadi usang dan tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman (anomaly science) sehingga perlu dirumuskan ulang untuk menemukan paradigma baru yang lebih sesuai dan mampu merespon keadaan (normal science), menurut Thomas S Kuhn dalam The Structure Of Scientific Revolution disebut dengan shifting paradigm.

Baca Juga

Pergeseran paradigma juga terjadi dalam Pendidikan sekolah. Proses pembelajaran kelas tidak lagi seperti jaman dahulu, peran guru mengalami perubahan drastis. Jangan dibayangkan lagi, guru masuk kelas membuka buku dan berkisah tentang bab-bab, apalagi mendektekan isinya, karena peserta didik dengan mudah mencari melalui online, mereka adalah generasi yg highly-mobile. Apps-dependent dengan cepat mencari berbagai informasi melalui jejaring sosial. Generasi ini masuk alam merdeka belajar, yang meminta proses pembelajaran, guru memulai dengan mengangkat isu-isu penting dan mendorong murid untuk mencari bahan-bahannya melalui situs online, mereka akan berselancar di google untuk memproses, mengurai dan menganalisis setiap informasi guna menyusun rumusan-rumusan berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Pendidikan tidak lagi dibatasi oleh kelas melainkan sudah terjadi dimana saja, anytime, anywhere, anyplatform, termasuk memanfaatkan artifisial intelegensia.

Dalam perjuangan kemanusiaan, Pendidikan memberikan makna penting bagi lahirnya peradaban manusia yang penuh makna. Banyak tokoh – tokoh besar dunia ketika perang usai dan hanya menyisakan kehancuran, dia bertanya masih adakah guru yang hidup ? berapa sekolah yang tersisa ? dengan itu kita bangun kembali manusia merdeka, manusia yang punya ideologi, punya warna dan karakter. Membangun bangsa dimulai dari kelas dan sekolah. Proses pembelajaran yang humanis, memosisikan peserta didik sebagai subjek aktif, mendorong rasa hati dan pikirannya dapat berekasi, berefleksi dan merespon setiap perkembangan lingkungan sekitarnya. Dengan ini, maka setiap murid, siswa dan mahasiswa paham posisi dirinya ditengah – tengah komunitas kampus maupun masyarakat.

Menurut teoritikus Pendidikan asal Brazil, Paulo Freire, Pendidikan tidak hanya diletakkan sebagai pengajaran tetapi merupakan proses dialog antara murid dan guru dimana keduanya sama – sama memerlukan terjadinya proses belajar dalam mengembangkan konsep khazanah keilmuan mereka untuk meningkatkan Khidmah dalam ruang bhaktinya masing – masing. Keberhasilan membangun peradaban bangsa, diawali  dari mewujudkan iklim merdeka belajar, sebagaimana digagas Mendikbud Nadiem Makarim.

Gagasan merdeka belajar, bertujuan agar proses Pendidikan lebih punya pengaruh dan daya getar (resonansi) membentuk tiga kemampuan penting : literasi, numerasi dan karakter sebagai dasar assessment kompetensi bagi peserta didik. Merdeka belajar sekaligus menilai ulang pijakan peserta didik dan institusi sekolah dalam proses belajar mengajar. Isu penting menyertai gagasan itu, pergantian format ujian nasional, pengembalian kewenangan ujian sekolah berstandart nasional pada sekolah, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang tidak ribet, hanya satu lembar. Bila dicermati, gagasan ini berdampak pada pemberian kemerdekaan dan kelulusan kepada guru dan sekolah dalam pengelolaan Pendidikan.

Sebenarnya, instrument evaluasi memiliki banyak ragam tergantung mata pelajaran yang dinilai. Instrument evaluasi bukan sesuatu yang baru, Indonesia mempunyai sejarah cukup panjang, hanya saja apakah berbagai instrumen evaluasi belajar itu telah membantu pada suasana merdeka belajar tentu harus diuji dengan hasil dan perjalanan waktu. Tempo dulu tahun 1950 – 1964 pelajar Indonesia mengenal ujian penghabisan (UP) soal ujian yang berbentuk essay hasilnya dikontrol Negara. Tahun 1965 – 1972 diganti dengan ujian nasional (UN) dengan soal serupa UP. Tahun 1972 – 1979 berubah lagi menjadi ujian sekolah (US) sedikit berbeda dengan UN karena sekolah mempunyai kewenangan menyelenggarakan ujian secara mandiri, Pemerintah Pusat hanya menyiapkan kebijakan umum.

Ujian sekolah ini, sebagian mengeksplorasi semangat merdeka belajar dengan modifikasi yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Ujian sekolah tidak bertahan lama, tahun 1980 – 2000 diganti dengan EBTA dan EBTANAS. Kelulusan ditentukan oleh campuran antara EBTA – EBTANAS dan nilai rapor. Tahun 2001 – 2004 EBTANAS diganti dengan ujian akhir nasional (UAN) yang soal ujiannya disiapkan oleh Pemerintah Pusat.  Satu  tahun kemudian tahun 2005 berganti menjadi ujian nasional (UN). Ujian nasional ini hampir setiap tahun berubah standar kelulusannya terkait dengan nilai rata – rata minimal. Model ujian ini membuat heboh bukan hanya peserta didik tetapi pihak sekolah, guru dan orang tua murid bahkan tidak sedikit diantara mereka yang mengalami stress dan depresi. Tentu suasana seperti ini tidak menyuburkan karakter manusia merdeka yang progresif, inovatif, imajinatif dan mampu menembus batas – batas kelaziman.

Lingkungan yang biasa terjajah, tidak gampang didorong untuk mandiri dan merdeka. Mereka yang seharusnya focus mengajar disibukkan dengan segala bentuk rutinitas administratif dan teknis yang serba kaku serta menggunakan kacamata kuda yang justru sering kali menumpulkan imajinasi dan inovasi bahkan melahirkan kegagapan baru. Merdeka belajar seharusnya terlepas dari hambatan regulasi dan administrasi yang bertele – tele dan tidak efisein.

 

Pendidikan Membahagiakan

Di lingkungan Pendidikan dikenal quantum learning, suatu strategi belajar yang merangsang belajar dengan suasana menyenangkan. Konsep Montessori, memperlakukan anak – anak usia dini tidak hanya belajar dikelas tetapi melibatkan belajar dengan kehidupan mereka, mulai belajar berjalan, belajar berbicara, memahami gender, mempersiapkan diri untuk membaca, belajar membedakan tindakan benar dan salah serta belajar mengembangkan kesadaran komunitas melalui penggunaan indera belajar terhadap lingkungan kehidupan mereka. Kelas dibuat terbuka pandangan keluar, belajar sambil memandang aktifitas kehidupan di luar kelas dan belajar sambil bermain.

Kekuatan indera peserta didik sejak usia dini terbangun melalui interaksi dengan fenomena sekitarnya yang hidup dan membesarkan hati serta harapan mereka. Pendidikan yang membahagiakan mendorong gairah, semangat untuk mengasah hati dan pikirkan, merangsang imajinasi, inovasi dan melahirkan pikiran – pikiran besar. Hasrat dan prakarsa sulit berkembang ketika kebahagian diambil oleh cara pembelajaran yang memaksakan model belajar dan kehendak kurikulum yang berjubel (padat) serta bernafsu mengakomodir banyak kehendak. Mereka tidak berkesempatan mencermati setiap topik bahasan. Topik pelajaran dalam posisi berkejaran dengan topik berikutnya tanpa punya kesempatan memeriksa pemahaman peserta didik terhadap topik sebelumnya.

Banyak peserta didik yang mengalami kehidupan belajar kurang wajar, terbebani oleh muatan kurikulum dan penekanan cara belajar yang sangat melelahkan, kurang memberikan kesempatan untuk mengembangkan komunikasi dengan banyak pihak termasuk komunikasi dengan orang tuanya sendiri dan dengan lingkungan yang lebih terbuka.  Hafidz Abbaz seorang ahli Pendidikan menyatakan bahwa prestasi besar akan lahir dari kegiatan kurikulum yang memberikan : (1) penekanan penguasaan konsep – konsep dasar (2) pembiasaan berfikir bebas dan kreatif (3) peningkatan mutu proses belajar mengajar yang memungkinkan adanya interaksi belajar dengan melibatkan semua siswa (4) proses belajar tuntas dimana guru memberi tahu setiap siswa untuk memahami suatu topik sebelum pindah ke topik lain sehingga tidak seorangpun  di kelas tertinggal dari yang lain.

Setiap kali ada kesempatan, seyogyanya dibangun dialog dengan peserta didik, apakah sejak berangkat dari rumah hingga kelas belajar, mereka dalam suasana senang dan membahagiakan, bukan bayangan yang menyeramkan. Sederet wajah angker mengisi relung pikiran dan suasana batin pelajar. Gambaran punishment (hukuman) lebih terbayang dibanding reward (ganjaran). Lebih dari itu, keterikatan kepada punishment ini sering berwujud motivitasi dan aktivitas belajar yang dangkal, belajar hanya karena tekanan dan keterpaksaan tidak lagi dilakukan sebagai kewajiban beribadah dan khidmah kemanusiaan dengan landasan motivasi yang benar akan mengantarkan peserta didik yang menurut banyak pakar Pendidikan dengan mengadaptasikan pada pandangan Al-Ghazali yang menyatakan bahwa kehidupan manusia sebagai hasil belajar berada dalam tiga dimensi; kitab, mihrab, dan adab.

Dalam konsep merdeka belajar, guru tidak menempatkan sebagai subjek aktif, sementara siswa diletakkan sebagai objek yang pasif. Peran pendidik bukan hanya transfer pengetahuan melainkan sebagai fasilitator yang berperan sebagai motivator, membimbing dan memberikan bantuan pada saat peserta didik mengalami kesulitan belajar. Siswa – mahasiswa didorong untuk mengolah pengalaman dan pengetahuanya untuk terintegrasi dengan identifikasi realitas sosialnya. Inilah mengapa banyak tokoh-tokoh bangsa dengan latar belakang Pendidikan Teknik, asitektur, ekonomi, militer, Pendidikan agama bahkan yang tidak belajar di sekolah formal sekalipun justru mampu tampil sebagai pahlawan bangsa. Sebut saja, Ir Soekarno, Moh Hatta, KH. Agus Salim, Ahmad Yani, Guru Besar KH. Hasyim Asy’ari, KH Abd. Wahid Hasyim, KH Wahab Hasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin dan sederet nama besar lainya. Pribadi–Pribadi besar itu tidak menjadikan sekolah sebagai tabung, gerbong atau bagunan tinggi yang terlepas dari realita sosial dan tercabut dari akar budayanya sendiri. Tamat dari sekolah menjadi mahluk asing, tidak mengenali sel-sel lingkungan dimana mereka berada, tidak memahami posisi diri dan orbitnya di tengah-tengah komunitas lingkungan, tidak lagi mampu menjawab pertayaan sesunguhnya mereka dari mana, sedang apa dan hendak kemana.

 

Mengapa Karakter ?

Karakter dapat juga dinyatakan sebagai Learned Behavior kebiasaan yang dipelajari. Terdapat pula unsur genetic yang turut berkontribusi membentuk karakter dan kepribadian. Seseorang berkarakter adalah mereka yang punya warna, jalan hidup yang dibangun melalui penalaran akal budi. Karena itu, keteladanan yang ditunjukkan guru memberikan warna yang terang pada pribadi murid. Dalam psikologi pendidikan, ketika guru mengajar bukan saja terjadi transfer ilmu pengetahuan melainkan yang justru lebih awal berlangsung adalah transfer life style – gaya hidup, gaya bertutur, gaya bersikap yang merupakan gerbang masuk pembentukan karakter mengalir dari guru pada murid, baru kemudian disusul transfer ke ilmuan. Dengan demikian, pilihan gaya seorang guru harus dihitung dengan penuh bijaksana agar searah dengan mengalirnya ilmu pengetahuan pada murid. Gaya hidup merupakan produk peradaban, namun dapat berperan mengelapkan atau mencerahkan sinar keilmuan yang disampaikan bahkan bisa menjadi cover pertama yang timbul atas nama ilmu pengetahuan.

Nilai-nilai transenden seorang guru seharusnya mampu mewarnai pengelolaan ruang belajar agar para muridnya beprestasi. Proses belajar diarahkan untuk melahirkan murid yang mahir menjawab soal ujian sekaligus terampil menghadapi soal kehidupan. Inilah yang disebut sebagai kapasitas Learning Power yang membentuk kekuatan visi pribadi setiap murid, pola pikir positif, ketanguhan pribadi, kecerdasan dan kemampuan refleksi diri serta kemandirian. Inilah belakangan disuarakan sebagai pendidikan karakter yang sesunguhnya berangkat dari kerisauan terhadap profil murid yang dirasa semakin jauh dari tujuan pendidikan.

Kerisauan terhadap bepencarnya antara nalar dengan budi pada diri peserta didik yang menimbulakan banyaknya tindakan tidak produktif dan menganggu martabat kalangan terpelajar disebabkan oleh tidak bekerjanya organism perilaku (Behavior Organism) sistem kepribadian (personality sytem), sistem sosial (social sytem) dan sistem budaya (culture sytem) dalam lingkar yang saling memperkuat dan menopang untuk mewujudkan peserta didik sejalan dengan tertib sosial.

Karakter terbagun oleh kebiasaan-pembiasaan yang menjelma menjadi norma kolektif dan personal lalu menjadi aturan atau ketentuan dan kemudian mengokohkan kebiasaan-kebiasaan baik. Dalam pribadi terbentuk unsur-unsur internal yang berkorelasi dengan nilai-nilai agama dan filosofi kehidupan yang menunjukkan pada ciri-ciri pribadi berkarakter, seperti ciri yang diajukan Sumardi seorang Guru Besar pendidikan sebagai berikut: 1- religious, 2- memiliki watak atau moral tinggi, 3- berkomitmen atau bertanggung jawab, 4- disiplin kuat, 5- semangat dan etos belajar kuat, 6- tinggi motivasi untuk sukses, 7- optimistic, 8- berdaya tahan menghadapi kesulitan tinggi, 9- kerap berpikir positif, 10- pandai memulihkan diri atas tekanan mental, 11- kepekaan sosial tinggi, 12- cerdas mengelola emosi, 13- berani mengambil resiko dan 14- selalu bekerja dan membantu sesama dengan ikhlas. Tentu banyak ciri lain yang bisa dirumuskan untuk melengkapi sosok pribadi berkarakter dan unggul.


Orasi Ilmiah disampaikan dalam rangka wisuda sarjana STKIP PGRI Situbondo, tanggal 28 Januari 2020

 

 

Pos terkait