Pesantren dan Madrasah (Eksistensi madrasah di Era Global)

  • Whatsapp

Di Tahun 2017, telah diselenggarakan Kompetisi Robotik Internasional (First Global Challenge 2017) di Washington DC. Kita patut bangga,karena Delegasi dari Indonesia meraih medali perak untuk kategori Inovasi Teknik Terbaik. Yang cukup mengejutkan, Delegasi Indonesia diwakili oleh Madrasah (Aliyah) TechnoNatura Depok Jawa Barat.

Selama ini, mungkin di kalangan mayoritas masyarakat kita punya persepsi bahwa belajar di Madrasah selalu identik dengan kajian – kajian keagamaan, dengan prestasi – prestasi yang telah diraihnya, Madrasah TechnoNatura ini adalah salah satu Madrasah yang sepertinya akan berhasil mengubah persepsi tersebut.

Baca Juga

Madrasah yang satu ini memadukan Pendidikan Agama dan Sains dengan menciptakan suasana belajar menyenangkan, dengan konsep belajar tidak hanya mengacu pada Kurikulum K 13 dan K16, namun juga dilakukan eksperiman dengan menggunakan konsep – konsep pembelajaran yang banyak diterapkan di Negara – Negara lain.

Kenapa dalam artikel ini penulis mengaitkan Madrasah dengan Pesantren..??

Hal ini dilatar belakangi oleh pernyataan Karel Steen Brink yang mengomentari berdirinya Madrasah Manbaul Ulum Kerajaan Surakarta di tahun 1905 dan Sekolah Adabiyah yang didirikan Syech Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909.

Madrasah ini berdiri atas inisiatif dan realisasi dan pembaharuan Sistem Pendidikan Islam yang telah ada. Pembaharuan tersebut menurut Karel Steenbrink meliputi tiga hal, yaitu :

A. Usaha untuk menyempurnakan Sistem Pendidikan Pesantren.

B. Penyesuaian dengan Sistem Pendidikan Barat, dan

C. Upaya menjembatani antara Sistem Tradisional Pesantran dengan Sistem Pendidikan Barat.

Faktanya, merealisasikan tigal hal tersebut bukanlah hal mudah. Sebab dalam upaya pembaharuan tersebut, Madrasah dituntut untuk tetap mampu melestarikan tradisi – tradisi ”adiluhung” ciri khas Pesantren yang telah memanifestasikan dirinya sebagai Lembaga Pendidikan Islam dan telah eksis sekian abad di Nusantara ini.

Di sisi lain, Madrasah dituntut untuk mampu menghadirkan nuansa baru yang bisa menyiapkan anak didiknya menghadapi tantangan global abad ini. Tentunya kemampuan tersebut akan menjadi modal utama yang akan menjadi penyebab munculnya minat lebih besar untuk belajar di Madrasah.

Saat ini, di beberapa pusat kota besar telah bermunculan Madrasah – madrasah favorit yang telah berhasil menghapus ”rasa alergi” di masyarakat untuk belajar di Madrasah. Gejala ini tentunya sangat menggembirakan.

Namun hal tersebut tidaklah cukup untuk kita jadikan kebanggaan semata dan malah kemudian menyebabkan kita terlena. Harusnya hal tersebut bisa dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan eksistensi Madrasah di daerah pinggiran, terutama bagi Madrasah yang berada di lingkungan pesantren.

Dengan segala keterbatasan yang ada, para pengelola Madrasah di kawasan pinggiran dan juga Pesantren tentunya dituntut kreatif untuk bisa mewujudkan cita – cita tersebut.

Amir Sunan Kalijogo pernah mengulas realita yang dihadapi Madrasah dalam salah satu tulisannya yaitu :

“Ironisnya, sejak zaman penjajahan sampai saat ini posisi Madrasah selalu berada dalam posisi marginal. Meskipun saat ini pemerintah mulai memperhatikan eksistensi Madrasah melalui UU No. 20 Tahun 2003, namun penganaktirian terhadap Madrasah tetap saja terjadi. Hal ini bisa dilihat dari masih minimnya aliran dana Pemerintah ke Madrasah. Juga masih minimnya perhatian Pemerintah terhadap kesejahteraan dan Masa depan Guru.”

Adalah sebuah keberuntungan, di lingkungan pesantren kearifan local tentang “keberkahan” atau nilai barokah masih bertahan sampai saat ini. Sebab keyakinan akan hal itu cukup manjur menjadi motivasi untuk menumbuhkan semangat dalam proses pengelolaan Madrasah di tengah keterbatasan. Akan tetapi hal itu tentunya harus diimbangi dengan usaha maksimal untuk meningkatkan eksistensi Madrasah baik dari sisi Kuantitas juga dari sisi kualitasnya.

Kisah tentang Madrasah TechnoNatura di awal tulisan ini penulis harap bisa menjadi salah satu sumber inspirasi bagi kita untuk ikut serta memikirkan pengembangan pengelolaan Madrasah di lingkungan Pesantren.

 

Penulis: Abdul Wafi S.Pd. I. alumni IAI Nurul Jadid & Mahasiswa semester akhir Pasca Sarjana IAI AL KHOZINY Buduran – Sidoarjo

Pos terkait