Pesan Pecinta Shalawat Nariyah

  • Whatsapp
KHR. Moh. Kholil as'ad :Pengasuh Ponpes Walisongo Situbondo
Oleh: Khalil bin Malwi

Berbicara cinta memang selalu enak didengarkan. Betapa tidak, setiap orang yang memasuki masa remaja, apalagi saat mencapai usia dewasa, cinta menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Hadirnya bukan saja membuat yang lusuh menjadi bersih, bahkan bisa menjelma jadi indah. Perubahan yang terjadi serupa demikian, itu baru satu di antara sekian banyak sesuatu yang merupakan pengaruh dari cinta. Pastinya, apa pun bagi pecinta terasa begitu menyenangkan.

Berbeda dengan asmara yang tak jarang membuat hati seseorang gelisah dan tidak stabil, cinta merupakan sebuah rasa yang mampu mengantar kedudukan pecinta senantiasa meningkat pada tahapan yang lebih tinggi. Sebab, selain piawai menggerakkan setiap jiwa yang mengalaminya untuk terus bergairah dalam bekerja dan berevolusi, hadirnya cinta dipastikan lebih abadi. Dan, cinta adalah pemberian yang tanpa tapi.

Baca Juga

Seperti lumrahnya sesuatu, cinta juga memiliki ciri-ciri. Apa itu? Di antaranya dan yang bahkan paling utama adalah selalu ingat pada yang dicintai. Sama sekali berbeda dengan seseorang yang hatinya sepi dari cinta, setiap pecinta akan selalu perhatian terhadap apa pun yang berkaitan dengan yang dicintai.

Dalam cinta, jangan sekali-kali mengurangi sikap perhatian! Karena, tidak hanya sebagai pertanda bahwa seseorang mulai melupakan, perihal kurangnya perhatian juga berpotensi mendorongnya melakukan hal-hal yang berbentuk kekerasan. Silahkan perhatikan bagaimana orang-orang yang beragama tanpa cinta!

Lewat syair yang digubahnya yang kemudian akhir-akhir ini sedemikian sering dilantunkan oleh grup hadroh Al Mahabbah, seorang ulama kharismatik asal Situbondo bernama lengkap Muhammad Kholil As’ad Syamsul Arifin menyampaikan bahwa Islam, yang dibawa oleh Sang Nabi akhir zaman, adalah agama yang menyenangkan dan menggembirakan. Demikian berarti, secara tersirat, di dalamnya mengandung maksud tentang pentingnya cinta, yang semestinya dimiliki oleh setiap orang yang beragama.

Pembawa agama yang menyenangkan

Pembawa agama menggembirakan

Selain tentu menyenangkan, cinta itu melembutkan. Dengan kata lain, bisa dipastikan bagi yang mengalaminya akan bersikap lemah lembut terhadap siapa yang dicintai. Sama sekali bukan sebaliknya, yaitu bersikap keras dalam arti minimalnya mudah tersulut emosi, karena sikap semacam demikian hanya diekspresikan oleh orang yang hatinya kering dari cinta.

Nah, oleh sebab secara esensial bahwa Islam merupakan agama cinta, maka wajar jika yang membawanya ke dunia ini adalah seorang manusia yang selama hidupnya memang berselimut cinta. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan yang bernama Muhammad, sang nabi pengentas umat dari kekerasan dan, lebih-lebih kegelapan. Untuk itu, menyambung hubungan dengan seorang manusia yang paling agung sejagad raya bernama Muhammad adalah kemestian dan bahkan keharusan bagi siapa saja yang ingin dirinya, gerak-gerik aktifitasnya dan juga semua yang didambakan dalam hidupnya berlangsung harmonis, dalam arti apa yang dibutuhkan dan diinginkannya sesuai harapan dan, yang paling penting, proses hingga hasilnya berbuah manis.

Artinya, kenyataan pahit maupun manis yang sulit dihindari di dalam perjalanan kehidupan setiap insan, silih bergantinya sulit untuk tidak dialami sama sekali, dengan memperkuat hubungan pada Sang Nabi maka baginya akan lebih mudah menerima. Sebab menolak kenyataan yang dirasa pahit dapat semakin memperburuk suasana. Pergolakan hidup antara susah dan senang, pahit dan manis, yang dialami oleh seseorang yang sudah sedemikian kuat hubungannya dengan Sang Nabi menjadi senantiasa stabil dan berlangsung harmonis.

Adapun seseorang yang ingin agar pesan yang hendak disampaikannya dapat tersebar ke seluruh penjuru, berada di posisi tengah adalah yang paling tepat. Adapun Makkah dan selanjutnya Madinah, secara geografis, merupakan wilayah yang berada di Timur Tengah. Relevansinya, selain lebih memudahkan untuk menyebarkan secara merata baik ke Timur maupun Barat, keduanya juga menjadi wilayah yang letaknya berada tepat di tengah-tengah dari seluruh belahan bumi. Demikianlah yang mungkin bisa dijadikan salah satu jawaban jika muncul pertanyaan menyangkut sebab risalah kenabian yang dipercayakan kepada Sang Nabi yang menjadi pamungkas para nabi adalah harus bertempat di negeri Arab; Timur Tengah. Namun, bagaimanpun, tetaplah Allah yang paling mengetahui hakikat tempat paling tepat dari ditempatkannya risalah-Nya itu.

Selanjutnya, agar lebih menarik perhatian, maka dibutuhkan seseorang yang paling simpatik dan begitu menyenangkan dalam menyampaikan pesan. Karenanya, sebagaimana setiap yang berakal sehat seraya objektif dalam menilai pasti mengakui tentang keluhuran pribadinya, maka yang terpilih kemudian tak lain dan tak bukan adalah Sang Nabi sebagai penabur kasih sayang, dan yang mempersonifikasikan kasih sayang itu sendiri.

Selayaknya bagi siapa pun agar menghormati dua orang yang telah membuatnya lahir ke dunia. Bahkan tidak hanya dijadikannya terlahir, melainkan sejak usianya dalam buaian, kehadirannya betul-betul dipelihara. Tak akan dibiarkan apa pun menyakiti tubuhnya. Dia dirawat. Dia dibesarkan. Bahkan dia diantarkan menuju kesuksesan. Sebagai insan yang baik dan mengerti keluhuran budi, maka menghormat dan membalas kebaikan yang telah diberikan kepadanya dengan setulus hati dan sekuat kemampuan oleh kedua orangtuanya sudah selayaknya diupayakan.

Lantas, bagaimana jika yang menjadi sebab diterimanya kebaikan dan kesejahteraan yang bahkan dapat dirasakan bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat, itu adalah Sang Nabi? Yang mana wujudnya bahkan menjadi penyebab wujudnya alam, di mana seluruh manusia merupakan bagian darinya.

Oleh karena itu, dalam rangka membalas kebaikan jasanya dan kedermawanan hatinya—meski sebenarnya mustahil memberi balasan sepenuhnya, maka mencurahkan sholawat dengan memohonkannya kepada Allah agar senantiasa dilimpahkan kepada seorang manusia yang bernama Muhammad adalah yang mesti dan bahkan harus terus diupayakan. Terlebih, bersholawat atasnya memanglah diperintahkan kepada semua orang yang beriman. Pun, kemestian bersholawat bukanlah lantaran diperintahkan oleh perintah yang berdasarkan inisiatif atau kehendak Sang Nabi pribadi, bukan. Tapi Allah yang memerintahkannya.

Nah, oleh kehadiran salah satu redaksi sholawat yang masyhur disebut Shalawat Nariyah itulah yang, dengan kehendak-Nya dan sekaligus kemurahan-Nya, dapat menjadi pertanda bahwa pembacanya berupaya untuk mengingat Sang Nabi. Sebagaimana di atas telah dipaparkan perihal ciri-ciri dari cinta adalah selalu ingat, semoga pembacaan Shalawat Nariyah yang dibaca tanpa jenuh akan menjadi salah satu ciri berikut pula sebagai bukti bahwa diri ini mencintai Sang Nabi; pengenal manusia terhadap apa pun yang sifatnya pasti sejati. Apa pun yang diperkenalkan olehnya tidak bersifat temporal, tapi sampai ke akhirat yang menjadi alam keabadian.

Pos terkait