Perempuan, Jalan Cinta Menuju Tuhan

  • Whatsapp
Perempuan, Jalan Cinta Menuju Tuhan
Oleh: Khalil bin Malwi,
Penulis buku Falsafah Nubuwwah

Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud adalah perempuan halal, sehingga menjalin hubungan dengannya mendapat legalitas hukum baik agama maupun negara. Atau sekurang-kurangnya seumpama belum halal, tapi sudah terjadi kesepakatan menyangkut peresmian hubungannya melalui sebuah akad sehingga legal saat menjalani hidup bersama.

Secara biologis, setelah mencapai usia dewasa baik laki-laki ataupun perempuan, keduanya akan terdorong untuk sama-sama menginginkan. Ingin bertemu sebab adanya hasrat, atau berhasrat ingin segera bertemu. Kondisi demikian merupakan sunnatullah; diciptakan-Nya untuk mengingatkan bahwa manusia akan tak berdaya bilamana menjalani hidup sendiri dan merasa tak sempurna jika tidak berpasangan. Walhasil, selain Allah satu sama lain pasti saling membutuhkan.

Bacaan Lainnya

Secara psikologis, watak keras kepala yang melekat pada diri seseorang cenderung melunak manakala yang dihadapi seorang yang disayanginya. Kala itu terjadi, sebetulnya dia disadarkan untuk tidak statis dalam berinteraksi dan bersikap. Ketika itu jiwanya dilatih lewat sebuah rasa bernama cinta, di mana wujud cinta memang efektif dalam melembutkan perangai seseorang.

Begitupun, hubungan spesial yang dekat dan dalam dengan pihak lain akan membantu seseorang mendapatkan kekuatan dan mendorongnya menjadi lebih mampu dalam menghadapi tantangan. Jadi, selain melembutkan, cinta begitu menguatkan.

Berdasar sebenar-benarnya cinta, setiap pemberian yang diupayakan otomatis menyenangkan. Akan merasa ada yang kurang, atau bahkan merasa begitu lemah ketika seseorang tidak mampu memberikan sesuatu kepada orang yang dicintainya. Berdasar sebenar-benarnya cinta, wujud pecinta bagi yang dicintai akan menjadi simbol afirmasi, bukan konfirmasi. Artinya, dengan kapasitas dan kemampuannya dalam memberikan, dia akan cukup puas tanpa perlu menuntut balas.

Hanya saja, hal serupa demikian hanya dapat terwujud jika satu sama lain saling bersikap proporsional atau di masing-masing pihak mendapat perlakuan seimbang. Anda benar mencintainya, dan dia pun benar mencintai Anda.

Sebab cinta adalah dialog dua “aku”, dan harus sama-sama merupakan “benda hidup”. Diri Anda relatif hanya diperbudak jika yang Anda cintai berupa “benda mati”. Seperti Anda yang mencintai harta; yang mana harta tak lain merupakan benda mati. Begitupun ketika mencintai seseorang yang tidak mencintai Anda. Karena di dalamnya pasif dari sikap responsibility oleh rivalnya alias tak terjadi dialog antar dua “aku”, sehingga relatif hanya memperbudak yang bersangkutan.

Dan, cinta yang sebenar-benarnya tidaklah saling mengobyekkan, melainkan satu dan yang lain saling memenuhi kebutuhan lagi menyempurnakan kekurangan.

Manakala kebersamaan laki-laki dan perempuan terus-menerus memberlakukan prinsip saling mengimbangi satu sama lain berdasar sebenar-benarnya cinta, akan selalu lahir ketentraman di antara mereka. Nah, inilah yang oleh agama diistilahkan dengan sakînah, yaitu secara psikis keduanya dapat saling memberi ketenangan dan kenyamanan.

Dan, saat sama sekali tak terpikir untuk menyakiti dan berbuat curang, melainkan yang terbesit dalam benak Anda adalah senantiasa jujur kepada dia yang Anda cintai, kehadiran Anda bukan saja akan membuatnya tentram, tapi baginya diri Anda menjadi sosok yang menyenangkan. Kekosongan pikiran untuk tidak menyakiti dan berbuat curang itulah yang merupakan terjemahan dari istilah mawaddah, dan di sinilah yang hendak ditunjukkan oleh agama mengapa Anda perlu menikah.

Juga, sekadar memperluas wawasan, ada pula pakar Al-Qur’an yang menerjemahkan mawaddah dengan kecenderungan biologis.

Jika terhadap sosok yang dicintai Anda senantiasa termotivasi untuk memberdayakan, serta terus-menerus tergerak untuk bisa membuatnya tersenyum bahagia, berarti kualitas cinta di dalam diri Anda meningkat pada tahapan yang oleh agama diistilahkan dengan rahmah. Ketika itu, yaitu sepanjang rahmah sedemikian bersemayam maka pandangan Anda kepada sosok yang Anda cintai akan selalu memaafkan kesalahan, memaklumi kekurangan dan mensyukuri kelebihan yang dimilikinya.

Sehingga, bagi sepasang suami istri yang telah sedemikian terikat oleh ikatan rahmah, kebersamaannya menjadi lebih langgeng. Bahkan, saat rambut telah memutih pun kebersamaan mereka menjadi terikat semakin kuat.

Namun, terpenuhinya hasrat biologis dan psikologis yang merupakan fitrah setiap orang akan membuat seseorang merasakan kepuasan dan kebahagiaan cukup di dunia saja. Untuk itu, jika Anda mampu menjadikan kebersamaan dengan perempuan Anda sebagai pengantar dalam menggapai “maksud” Tuhan, kepuasan dan kebahagiaan di akhirat akan menyambut keberpasangan Anda berdua.

“Maksud” Tuhan berarti ayat-Nya. Dan ayat-Nya dapat berarti jalan (petunjuk). Pernikahan, yang oleh agama disunnahkan dalam arti mengikuti sunnah Nabi, selain bermanfaat bagi ketentraman, kenyamanan, kepuasan dan kebahagiaan, juga menjadi momentum agar yang bersangkutan menyadari bahwa yang dia terima tak lain merupakan ayat yang berarti bukti kuasa Tuhan sekaligus jalan yang dapat dilewatinya dalam menuju Tuhan. Di sinilah yang kemudian lahir dimensi spiritualitas dari pernikahan, yakni sebagai sarana bagi setiap orang untuk menghayati dan merasakan benar-benar ayat Allah yang telah menciptakan keberpasangan bagi segenap makhluk. Allah berfirman:

ومن اياته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة ان في ذالك لايات لقوم يتفكرون

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS: Ar-Rum: 21)

Pos terkait