Nisfu Sya’ban Menjadi Malam Dianjurkannya Kebaikan dan Ditetapkannya Kembali Kebijakan 

  • Whatsapp
Penulis: Khalil bin Malwi Ketua Paguyuban PESAN (Pecinta Shalawat Nariyah) Yogyakarta

Oleh: Khalil bin Malwi
(Alumni Ponpes Sumber Bunga, Seletreng, Situbondo)

Nishfu Sya’ban atau yang juga akrab disebut malam Sya’banan memang merupakan momen sakral, khususnya bagi orang-orang pesantren atau mereka yang gaya hidupnya bernuansa pesantren. Tidak seperti biasanya, mereka akan menghabiskan malam Nishfu Sya’ban dengan aneka macam dzikir dan doa. Nah, mari, lewat artikel kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mendiskusikannya.

Bacaan Lainnya

Karena tak seperti Nabi yang bahkan sebelum berbuat salah sudah mendapat asuransi maghfirah-Nya, sehingga kealpaan dalam suatu perbuatan akan terus mengintai hidup kita. Bahkan eksistensi diri kita memang menjadi wadah bagi kesalahan dan kekhilafan, seperti telah dikatakan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Saat didapati seseorang berbuat salah terhadap diri kita, reaksi yang menegasikannya sekaligus menunjukkan kedermawanan hati adalah ketika kita mau memaafkan. Untuk berlaku adil menyikapi kesalahan yang diperbuatnya tentu saja kita bisa dan berhak. Namun, dengan memaafkannya menandakan bahwa kita adalah pribadi yang mulia.

Perbuatan salah itu seperti halnya sampah. Yang akan merasakan tidak enaknya adalah dia yang ada di sekitarnya. Untuk itu, dengan memaafkan bukan saja berguna untuk menyembuhkan rasa kecewa, tapi juga semakin merangsang terhadap progresivitas serta kualitas pribadi yang bersangkutan.

Seperti halnya seorang pengendara yang sesekali menengok kaca spion kendaraannya, pemberian maaf juga bermanfaat untuk memastikan bahwa ketika itu yang bersangkutan betul-betul steril dari perbuatan salah, baik yang dilakukan orang lain kepadanya maupun yang dilakukannya kepada orang lain.

Maaf adalah bagian dari ihsan. Apa itu ihsan? Nabi Isa as yang pernah ditanya tentangnya lalu menjawab, “Berbuat baik kepada orang yang memperlakukanmu dengan baik itu baik, sedang perlakuan baikmu terhadap orang yang tidak berlaku baik kepadamu itulah ihsan.”

Nah, kedermawanan hati semacam demikian itulah makna dari kebajikan. Sehingga diberitakan, bagi yang berselisih dan tak mampu berdamai baik dengan dirinya sendiri ataupun orang lain, akan sulit meraih kegemilangan di malam Nishfu Sya’ban.

Selain merupakan malam yang di dalamnya catatan amal perbuatan selama setahun disetorkan, Nishfu Sya’ban juga menjadi malam diputuskannya kembali ketetapan atau takdir dari setiap hamba. Untuk itu, mensterilkan diri dari dosa dan mengoptimalkan kesungguhan dalam berdoa di malam mulia ini sangatlah dianjurkan.

Ada banyak “amalan” istimewa yang diketengahkan oleh para ulama terkait keistimewaan malam Nishfu Sya’ban. Antara lain, seperti yang termaktub di dalam doa Nishfu Sya’ban:
يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده ام الكتاب
Redaksi di atas yang sebetulnya merupakan firman Allah dalam surah Ar-Ra’d di ayat 39, berarti bahwa Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkannya, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. Maksud Ummul Kitab adalah Lauhul Mahfudz, demikian pendapat para ulama.

Kehendak Allah bersifat mutlak. Tak ada satu pun makhluk yang dapat mengintervensi. Namun demikian, terhadap apa pun yang telah diputuskan-Nya, Allah berhak untuk tetap memberlakukannya atau menghapusnya.

Ketika Allah berkehendak menghapus ancaman-Nya, Dia akan mengilhami penyesalan dan bertobat kepada yang berdosa. Pun, ketika Allah bermaksud menetapkan keberuntungan bagi seorang hamba, Dia akan mengilhaminya semangat dalam berusaha dan berdoa kepada-Nya.

Di malam Nishfu Sya’ban ini, mengupayakan kebajikan demi mendapatkan keputusan terbaik yang “sesuai” harapan dari putusan bijak-Nya, adalah disarankan. Seperti saling bermaaf-maafan dan, lebih-lebih bertobat.

Sekitar abad sembilan Sebelum Masehi, pada saat terjebak di dalam perut ikan, yang dibaca oleh Nabi Yunus as adalah, “Lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minadzdzâlimîn.” Artinya, tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang dzalim.

Dzikir yang dibaca oleh Nabi Yunus as tersebut, yang sebetulnya merupakan firman Allah dalam surah Al-Anbiya’ di ayat 87, di malam Nishfu Sya’ban ini juga dianjurkan kepada kita untuk dibaca sebanyak 2.375 kali.

Tujuannya adalah, sebagaimana Nabi Yunus as yang dulu membacanya penuh penyesalan dan kesungguhan dalam memohon kepada Allah agar dibebaskan dari kegelapan perut ikan dan lautan, agar di malam Sya’banan ini amal yang kita hadapkan (menyetorkan hingga menerima “buku catatan” baru) adalah dalam keadaan baik lagi bajik, sehingga yang akan kita terima di masa depan (setahun ke depan) dari kebijakan putusan-Nya pun akan baik lagi “sesuai” harapan.

Pos terkait