Nasib Pendidikan di Tengah Pandemi Corona

  • Whatsapp
Ilustrasi santri
Oleh : Subliyanto

Pendidikan merupakan elemen utama generasi bangsa. Dengannya, proses pengembangan seluruh aspek kehidupan manusia terinstal. Baik aspek afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Namun peran pendidikan saat ini sedang tersandera oleh Corona. Virus yang belum diketahui secara detail obatnya. Langkah-langkah antipatif oleh pemerintah terus dilakukan dan diupayakan, termasuk dalam bidang pendidikan.

Belajar di rumah merupakan salah satu solusi yang disepakati, sehingga kegiatan pembelajaran di berbagai elemen lembaga pendidikan di liburkan. Dan hingga kinipun masih menjadi pembahasan di berbagai pihak untuk diaktifkannya kembali kegiatan di sektor pendidikan, mengingat pandemi corona yang belum sirna.

Baca Juga

Tidak dinafikan bahwa semua langkah antipatif dari setiap kebijakan di bidang pendidikan perlu diapresiasi, kendatipun hal itu juga menimbukan polemik baru sebagai efeknya. Namun diakui atau tidak, setidaknya hal itu dapat meminimalisir persebaran virus yang sedang melanda negeri ini.

Beban dan tanggung jawab orang tua tentu semakin bertambah ketika putra-putrinya harus belajar di rumah. Apalagi dengan menggunakan sistem pembelajaran online yang notabeni membutuhkan perangkat belajar yang berbasis IT, maka sistem monitor dan control dari para orang tua juga membutuhkan sensitivitas yang tinggi terhadap apa yang dikerjakan oleh putra-putrinya.

Belajar di rumah secara online memang meminimalisir persebaran virus corona yang basis penularannya melalui kerumunan. Namun demikian hal itu juga belum tentu bisa tercegah dari virus-virus lain yang bersebaran di dunia maya yang secara tidak langsung juga menjadi konten edukasi kepada anak. Mungkin virus dunia maya tidak mematikan secara fisik, tapi bisa “mematikan” sel-sel otak. Maka disinilah hakikat dari beratnya peran orang tua saat pendidikan tersandera oleh Corona.

Betapa banyak akun-akun media sosial bertambah. Betapa banyak pula bertambahnya group-group dunia maya, yang kontennya dihidupkan oleh generasi-generasi emas bangsa. Baik itu kelompok satu kelas, satu sekolah, atau satu pondok dan lainnya, yang inti dari semuanya adalah mereka rindu dunianya, rindu aktivitasnya, rindu teman seperjuangannya, rindu sebuah kenormalan yang selama ini mereka lakukan di sebuah taman bernama pendidikan. Namun apalah daya Corona sedang menghantuinya.

Kebebasan generasi emas bangsa dalam dunia maya sangatlah membuat para orang tua dilema. Maka “back to school” adalah harapannya karena disanalah terdapat sosok yang bisa meringankan peran mereka sebagai orang tua, yaitu guru. Lagi-lagi apalah daya dunia pendidikan sedang tersandera oleh Corona.

Aura kejenuhan belajar di rumah saja mulai tampak dengan sendirinya. Belajar online pun sudah mulai ditinggalnya. Virus dunia maya sudah mulai menempelnya. Sehingga yang terjadi adalah bukan belajar yang sebagaimana diharapkan bersama. Namun publikasi status, intensitas chat dan video call, serta intensitas nonton, mendominasi dalam kesehariannya.

Lantas kapankah dunia pendidikan saat ini akan terbebas dari sandera Corona ?

Sejumlah upaya terus dilakukan, mulai dari di rumah saja, pembatasan sosial berskala besar, dan yang terbaru adalah new normal yang juga masih menjadi tarik ulur untuk pemberlakuannya. Apalagi dunia sudah disajikan dengan pemberitaan tentang “kegagalan” Korea Selatan dalam menerapkan new normal. Dikutip dari kompas.com (29/05/2020), “Korea Selatan Kembali Perketat Pembatasan Sosial Setelah New Normal Gagal”. Maka hal ini juga akan menjadi semakin menambah kekhawatiran dari berbagai pihak pemberlakuan new normal di Indonesia.

Sehingga karena akhir dari Corona tidak bisa diterka, maka win-win solution yang satu-satunya bisa dilakukan saat ini adalah mulai dari diri kita, yaitu dengan menjaga kesehatan. Setidaknya dengan mengikuti protokol kesehatan yang sudah dirumuskan berdasarkan kajian dan riset oleh para ahli di bidang kesehatan.

Di bidang pendidikan, maka hendaknya orang tua, guru, dan para pengelola pendidikan juga memaksimalkan perannya dalam mendidik para siswa selama dalam masa pandemi. Dimanapun mereka berada, darimanapun mereka belajar, dan metode belajar apapun yang diterapkan, serta kebijakan apapun yang menjadi pedoman, maka peran dari semuanya dimaksimalkan agar esensi dari tujuan pendidikan tersampaikan kendatipun dalam masa pandemi yang masa berakhirnya tidak bisa dipastikan.

Semoga dengan demikian, dapat menjadi alternatif pendampingan kepada para generasi emas kita. Generasi penerus perjuangan bangsa. Dan semoga pandemi ini segera berakhir agar semua aktivitas kehidupan sosial manusia di semua lini kembali berjalan dengan normal.

*Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan.

Pos terkait