Musikalisasi Sholawat Nabi

  • Whatsapp
Penulis: Khalil bin Malwi

Apa pun, agar terdengar hingga kemudian dimengerti, diperlukan bersuara. Dan, dari berbagai jenis suara yang dapat didengar di alam raya ini, musik termasuk yang asyik ketika didengarkan. Betul kan, begitu? Bahkan, sekalipun suara yang muncul dari satu atau dua alat musik yang dimainkan maksudnya tidak dimengerti, lantaran bukan berupa kalimat, ia tetaplah dapat dinikmati. Sementara, secara hukum Islam, mendengarkan musik tidak selalu berarti halal.

Ketika suara yang terdengar dari musik yang mengalun itu membuat terlena hingga mengabaikan kewajiban syar’i, mendengarkannya sebaiknya tidak dilanjutkan, mengingat alat-alat musik oleh banyak pakar fikih disebut alatul malahi yang diharamkan. Dan, agaknya memang, yang terlarang tidaklah semua alat musik. Namun, sekali lagi, jika benar melalaikan maka hukum haram tetap dijatuhkan terhadap orang yang mendengarkan dan sekaligus menikmati alunan suara musik, begitupun yang memainkan alat-alatnya.

Baca Juga

Mengapa demikian? Sebab, selain begitu tidak mudahnya menolak sama sekali kecenderungan buruk dari hawa nafsu bagi umumnya orang, setan pun tak akan berhenti berusaha untuk menjerumuskan setiap orang ke dalam kelalaian dan kedurhakaan.

Seorang pakar tafsir dan sejarah yakni Imam Ath-Thabari bercerita, dan cerita ini ditulis oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Setan dalam Al-Qur’an”. Singkatnya, awal mula kemunculan suara yang berirama dan bernada melalui alat musik, adalah bermula dari inisiatif iblis yang ingin mengelabui putra-putri nabi Adam as.

Mula-mula iblis menjelma menjadi sosok seorang laki-laki yang ikut bergabung bersama mereka, putra-putri nabi Adam as. Lama-lama dia ciptakan sebuah alat musik dan kemudian memainkannya. Akhirnya iblis pun berhasil menjerumuskan mereka jatuh di dalam kemaksiatan.

Hari ini, yang semacam dengan cerita di atas sebagaimana disampaikan oleh Imam Ath-Thabari yang wafat pada tahun 933 Masehi, bisa kita saksikan bagaimana pengaruh dari hiburan yang berupa musik, yang mungkin memang mengasyikkan, bagi orang-orang yang gemar mendatangi klub-klub malam. Betapa suara musik yang cenderung melenakan dan bahkan membuat mabuk kepayang begitu akrab terdengar di telinga mereka. Tak jarang hiburan musik yang diperdengarkan di tempat-tempat semacam itu menjadi pengantar menuju kemaksiatan-kemaksiatan berikutnya.

Pun, masih seperti yang dikemukakan M. Quraish Shihab di buku yang sama, menyangkut suatu peristiwa yang pernah dialami oleh musisi asal Italia bernama Jiosvi Tirtiani. Konon, saat dirinya tidur, setan memainkan gitarnya dengan irama yang sangat menarik sehingga membuat seorang Tirtiani seketika itu terbangun yang kemudian merasa ditantang untuk meniru apa yang telah didengarnya. Walhasil, meski tak mampu meniru secara utuh, namun apa yang dapat ditirunya kemudian diperkenalkan ke muka publik dengan nama “Sentakan Setan”.

Lantas, bagaimana jika suara yang didendangkan berasal dari aneka alat musik yang biasa dimainkan dan dimanfaatkan untuk mengiringi syair-syair sholawat sebagai bentuk puja-puji atas keluhuran Sang Nabi? Bahkan andaikan itu seruling? Pasalnya, sebagaimana dikemukakan Husein Muhammad di dalam buku karyanya dengan judul “Samudra Kezuhudan Gus Dur”, bahwasanya bunyi seruling oleh banyak ulama spesialis ilmu fikih itu dikatakan sebagai tiupan mulut setan yang selalu mengajak untuk menarik hasrat-hasrat rendah, menipu, melalaikan, dan mencelakakan.

Musik menjadi bagian dari seni, dan seni sama sekali tak terpisah dari jiwa penciptanya. Secara estetis, oleh karena seni merupakan keindahan maka wajar jika setiap jiwa yang dianugerahi kelebihan tentangnya pasti menyukai dan mencintai yang indah-indah.

Ketidakterpisahan seni dengan jiwa penciptanya dapat menjadikan keduanya menyatu. Sehingga, penyatuan antara seni dan yang menciptakannya memungkinkan keduanya untuk bisa diposisikan sebagai pelaku (subyek). Bahkan, dia pun dapat mengundang orang lain yang menyaksikan dan terutama bagi yang menikmati keindahan dari seni yang dikarang dan diciptakan olehnya itu untuk menyukai dan mencintainya juga. Dengan begitu seorang seniman, dalam hal ini musisi atau bahkan demikian juga penikmat musik, mempunyai potensi dalam menciptakan “sesuatu” yang kemudian dapat dijadikannya sebagai sarana untuk menggapai keindahan selanjutnya yang lebih tinggi.

Memang, yang demikian bukan berarti musisi atau penikmat musik secara umum, melainkan khusus bagi mereka yang memainkan alat-alat musik seperti darbuka, rebana, keprak dan lain sebagainya yang difungsikan untuk mengiringi sholawat atas Sang Nabi. Dan, semua tentu tahu, sangatlah tidak sama antara musik berikut alat-alat yang dimainkan saat dangdutan dan sholawatan. Nah, perbedaan semacam demikianlah yang mengantarkan pada perbedaan lain menyangkut putusan hukum yang ditetapkan.

Bagi kalangan sufi, yakni orang-orang yang jiwanya telah sedemikian indah oleh panorama ruhani, alunan suara musik seringkali mampu menggugah dan membangkitkan kesadaran ruhani mereka bahkan bukan sekadar pada yang lebih tinggi, tapi mengantarkan mereka sampai kepada Yang Mahatinggi lagi Mahasuci. Demikianlah memang, sedemikian dahsyat pengaruh dari musik saat mengalun. Pun, sedemikian mudah alunan suaranya yang acap kali mendayu-dayu itu menciptakan nuansa relegiusitas di kedalaman hati orang-orang yang menikmatinya. Semua keindahan, sejatinya, adalah Allah yang menciptakan.

Bahkan andaikan itu seruling! Saksikanlah bagaimana bunyi seruling yang terkadang cukup menyayat-nyayat hati yang tengah kasmaran begitu piawai dalam membantu para penari sama’ saat berputar-putar. Sama’ merupakan tarian spiritual yang diperkenalkan pertama kali oleh Maulana Jalaluddin Rumi, Sang Sufi yang syair-syairnya sangat mendunia itu.

Untuk itu, menurut hemat penulis, tak ada cukup alasan untuk tidak membolehkan penggunaan alat-alat musik yang biasa digunakan setiap kali sholawat-sholawat atas Sang Nabi dilantunkan. Adalah itu musik Islami; yang tak jarang menjadikan penikmat sholawat tergugah kesadarannya hingga bertambah rasa kagum dan cintanya kepada Sang Nabi. Bahkan jika salah satu alatnya berupa seruling! Adalah dapat menjadi seruling ruhani.

Dan, tampaknya sungguh relevan jika penulis mengutip bait-bait syair berbahasa Madura yang digubah oleh Muhammad Kholil As’ad, seorang ulama kharismatik asal Situbondo yang dalam beberapa hari ini sedang berdakwah di Malang,

Cem-macem seni e alam dhunnya
Jughen cem-macem nyi-nyanyianna
Bede bhegusse bede chube’na
Ben jughen cakna orengnga
Bede ahibur deddhi dhusana

Bede ahibur deddhi ghenjherenna
Bede se lebur ka tabbhuenna
Bede se lebur ka sholawatanna
Bede se lebur ghun ka hadrahna
Tak sampe’ de’ ka sholawatanna
Bede se lebur ka sholawatanna
Hadrah panika coma bujena

Pos terkait