Merajut Ketulusan Guru dalam Meneguhkan Bhakti Profesi

  • Whatsapp
OLEH : DR. H. AKIK ZAMAN
Ungkapan klasik, Guru digugu dan ditiru mengandung dua otoritas, sebagai sumber ilmu dan keteladanan. Sosok guru menyingkap gelap menjadi terang, memandu perjalanan murid menemukan cahaya ilmu dan keutamaan amal. Dalam sejarah jawa, penyebutan guru menggunakan diksi yang merangkum makna lahir dan bathin, menggambarkan kekuatan pemikiran dan kerohanian, seperti sebutan  Empu dan Panembahan. Dalam tradisi melayu terdapat sebutan Sidi –dari Sayyidi dan Tengku yang kemudian menjadi simbol Trah. Tugas Guru memberikan arti  kemuliaan status dan peran, lebih jauh Hujjah al-Islam Al-Ghazali menyebut peran guru sebagai mengikis unsur hewani dan meneguhkan insaniyah – Ilahiyah. Karena itu, Guru dalam menjalankan tugas seyogyanya  menyentuh titik sentrum kemanusiaan dengan menata hati dan niat, membangun jiwa , membentuk pribadi dan karakter serta mengatur transmisi keilmuan. Dengan begitu, maka energi pemikiran dan keilmuan terus berada dalam pengendalian hati yang bersih dan jiwa yang luhur serta terus menuntun abdi keilmuannya sesuai dengan panggilan medan juang dan tugas Guru.
Guru yang diniscayakan selalu berada dalam ruang bakti dan profesi, menurut Undang – Undang  No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dinyatakan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Begitu luasnya tugas Guru, maka tanggung  jawab pendidikan memerlukan partisipasi semua pihak, semua dapat berkontribusi dan bergerak bersama secara bermakna untuk bisa mengubah pendidikan lebih baik. Karena itu, pendidikan harus dipahami lebih dari sekedar kegiatan sekolah – bermadrasah, melainkan merupakan proses kolaboratif antara anak , orang tua, pendidik dan lingkungan sosialnya yang terjadi sepanjang hayat.
Dalam sejarah, Guru lahir dari sayap tempat peribadatan yang kemudian membelah selnya menjadi tempat pendidkan,  mereka yang terlibat dalam proses pendidikan sebagai pengajar disebut sebagai Guru. Universitas al Azhar di Mesir yang berdiri tahun 975 M misalnya, semula adalah aktifitas Masjid yang kemudian menjelmah menjadi Universitas terkemuka di dunia. Ini artinya , Guru lahir dari pusaran peribadatan sebagai pusat pengembangan  jiwa – ruhani dan spritualisme [ Tazkiyah al-Nafs ] Yang memancar kedalam pikiran, orientasi dan keraga-an yang kemudian dirangkum dalam bhakti profesi. Dalam buku – buku jawa klasik, Guru dinyatakan sebagai para Empu yang hidup di atas angin dan mengukir sejarah di bumi. Karena itu, sikap ketulusan bersifat indigenous – orsinil dari jiwa dan marwah Guru. Jika ini hilang, maka Guru akan keluar dari akar sejarahnya, karena dengan itu telah mampu menggerakkan jiwa murid ke jalan keshalehan , jalan pencerahan bahkan revolusi kemanusiaan.
Guru dinyatakan juga sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena Ia membangun peradaban sebagai sumber jiwa kepahlawanan, sekalipun secara satire oleh Musisi Iwan Fals Guru disebut sebagai  Oemar Bakri yang penuh dedikasi tetapi minus prestige, ini untuk menggambarkan bahwa perhatian Negara belum memadai, walaupun sudah ada ikhtiar perbaikan namun masih bersifat tambal sulam dalam menujukkan respon terhadap kesejahtraan Guru. Sebuah lingkungan dapat dinyatakan mempunyai peradaban yang tinggi bila jumlah Guru cukup, jumlah lembaga pendidikan memadai serta seberapa tersedia perpustakaan , buku bacaan termasuk keberadaan toko buku- kitab didaerah itu. Tentu indikator ini akan bertambah sejalan dengan revolusi indutsri yang belakangan dikenal 4.0.
Dalam revolusi industri 4.0 peranan Guru tertantang, karena semakin tergerus oleh peranan lain yang ditimbulkan oleh membanjirnya produk  industri  tekhnologi informasi baru. Banyak pihak terkejut, setelah membaca penellitian yang menyatakan bahwa kurang lebih 90% waktu dalam lingkungan belajar mengajar dihabiskan untuk memamainkan whatsApp, Line, Instagram seta aplikasi android lainnya. Kecendurangan  ini berimplikasi pada berkurangnya intensitas Guru dalam membangun relasi dengan murid yang mempunyai kekuatan mendorong transmisi pembentukan karakter peserta didik. Bahakn lebih dari itu, gerbang perubahan masyarakat akan berlangsung minus panduan guru.
Para Guru patut bertanya, dalam sekian jam setiap hari sebenarnya siapa yang paling dominan mempengaruhi murid, sebut saja, TV, Game, whatsApp line dan application store ataukah guru, orang tua , kawan karib dan sebagainya. Disinilah sebenarnya diskusi tazkiyah al- nafs menjadi penting  yang memproduksi ketulusan,  karena besarnya tantangan relasi Guru dengan murid hanya dapat diatasi oleh pribadi yang tangguh yang keluar dari kawah chandra dimuka sebagai keunggulan pribadi yang berwawasan transenden – ukhrawiyah dan menjadi kekuatan yang berkelanjutan tanpa lelah, tanpa putus asa karena pengharapannya begitu kokoh terhadap pertolongan Allah SWT.
Membangun karakter dalam relasi Guru dan murid berpangkal pada nilai – nilai esensial  keagamaan yang mampu mewujudkan dimensi kehidupan serba ibadah. Para Guru mengambil jalan hidup submission dalam makna mengorientasikan seluruh aktifitas keduniawian kedalam suatu tatanan nilai Ilahiyah. Dengan demikian, kegiatan tarbiyah wa al – taklim seorang guru adalah wujud dari ibadah itu sendiri., inilah yang dapat menjelaskan, mengapa dengan segala keterbatasan  – apalagi dengan berkecukupan  – mereka mampu mengerakkan para murid untuk menempuh jalan keshalehan dalam hidupnya, bahkan  memiliki energi yang mampu melakukan perubahan sejarah dan merekontruksi masyarakat min- al dhulumat  ila al –nur.
Nilai- nilai transenden seorang guru seharusnya mampu mewarnai pengelolaan ruang belajar agar para muridnya berprestasi. Pengaturan ruang belajar diarahkan untuk melahirkan murid  yang mahir menjawab soal ujian sekaligus terampil menghadapi soal kehidupan. Inilah yang disebut sebagai kapasitas learning power yang membentuk kekuatan visi pribadi setiap murid, pola pikir positif, kekuatan akhlak , ketangguhan pirbadi, kecerdasan, kemampuan refleksi diri dan kemandirian. Inilah yang belakangan disuarakan sebagai pendidikan karakter yang sebenarnya hasil dari kerisauan terhdap profil peserta didik yang dirasa semakin jauh dari tujuan tarbiyah wa al- taklim.
Dalam psikologi pendidikan, ketika Guru mengajar bukan saja terjadi transfer ilmu pengatahuan melainkan yang justru lebih awal berlangsung  adalah transmisi life style – gaya hidup , gaya bertutur, gaya bersikap yang merupakan gerbang masuk pembentukan karakter  mengalir dari guru kepada murid, baru kemudian disusul transmisi keilmuan. Karena itu, pilihan style seorag Guru harus dihitung dengan  penuh bijaksana agar searah dengan mengalirnya ilmu pengetahuan pada murid. Life style merupakan produk peradaban, bukan konten ilmu itu sendiri, namun dapat berperan menggelapkan atau mencerahkan sinar keilmuan yang disampaikan bahkan bisa menjadi cover pertama yang timbul atas nama ilmu pengetahuan.
Tugas Guru demikan berat , selain melafalkan kurikulum, lebih dari itu adalah mengemban ikthiar mengembangkan potensi peserta didik melalui penelusuran minat- bakat dan stimulasi kemampuan dasar indivIdu. Berdasatkan catatan Programme for International Student Assessment [ PISA ] menempatkan kemampuan literasi dan sains peserta didik Indonesia tergolong rendah, belum lagi data yang disampaikan  institusi Semua Murid Semua Guru [ SMSG] yang menyatakan bahwa siswa kelas dua SD  lancar membaca dan bisa memahami baru 47%, tidak lancar membaca tapi mampu memahami 26,3%, lancar membaca tapi tidak mampu memahami 20,7%, Tidak lancar membaca dan tidak mampu memahami 5,8%. Sedangkan siswa berumur 15 Tahun atau kelas 3 SMP \ MTS 37,6%, lancar membaca tapi tidak mampu menangkap makna. Adapun mahasiswa di Indonesia yang bingung dalam memilih jurusan kuliah sebanyak 90%  dan yang merasa keliru penjurusan 87%. Inilah yang menjadi tantangan dunia mengajar dalam membentuk dasar – dasar pribadi yang utuh dan dapat mengemban misi hidup agar bernilai manfaat. (*)

Pos terkait