Menggapai Keberkahan Langit dan Bumi

Subliyanto: Pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan
Oleh: Subliyanto

Akhir-akhir ini Indonesia sedang dirundung duka. Bencana alam dimana-mana baik berupa banjir, longsor, angin puting beliung dan bencana lainnya yang semuanya menjadi dominasi warta berita di media.

Berbagai faktor dan solusi dari analisa para analis, khusunya para pakar ilmu alam sebagai langkah penyelamatan telah dikemukakan dalam kerap dialog perbincangan. Baik secara teoritis maupun secara aplikatif.

Baca Juga:

Langkah riil solidaritas kemanusiaan dari berbagai elemen organisasi masyarakat pun juga dilakukan sebagai wujud simpati dan empati dalam kehidupan sosial manusia.

Warning informatif pun juga dengan aktif disampaikan oleh BMKG dengan tujuan yang sama, yaitu agar masyarakat terus lebih waspada.

Semuanya perlu diapresiasi dan terus didukung eksistensinya. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam perannya sebagai makhluk sosial masih ada.

Dalam perspektif Islam, rumus kehidupan manusia pun sudah dengan jelas dan gamblang dituturkan dalam kitab al-Qur’an, yang juga dicontohkan dalam potret sejarah kehidupan manusia di masa lampau, sebut saja salah satunya kisah Nabi Nuh, dimana dengan potret tersebut manusia diharapkan dapat mengambil sebuah pelajaran.

Konsep Islam sangat simpel tapi mendalam, bahkan saking simpelnya tidak bisa dinalar dengan akal, namun hanya bisa dijangkau oleh jiwa-jiwa yang mempunyai kekokohan iman.

Diantara konsep Islam, terdapat teori “dibuka dan dicabutnya keberkahan langit dan bumi” oleh Allah. Dalam perspektif mafhum mukhalafah, jika dikaitkan dengan alam dapat disimpulkan dengan istilah aman dan tidak aman.

Lantas kapan keberkahan langit dan bumi diberikan ? Dan kapan pula keberkahan langit dan bumi dicabut ?

Keberkahan langit dan bumi diberikan kepada manusia yang beriman dan bertakwa serta betul-betul diimplementasikannya dengan bentuk ketaatan pada Allah sang pemilik alam.

Demikian juga sebaliknya, keberkahan langit dan bumi dicabut manakala manusia ingkar dan banyak bermaksiat kepada sang pemilik alam.

Dalam al-Qur’an Surat al-A’raf Allah berfirman :

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf : 96)

Dalam ayat ini Allah mengatakan pasti, yang mana merupakan sebuah kata yang mengandung arti janji. Dan janji Allah sudah pasti ditepati. Sementara keberkahan secara umum bermakna “ziyadatul khair”, yang artinya adalah bertambahnya kebaikan.

Maka kalau dikaitkan dengan berbagai bencana alam yang kerap terjadi akhir-akhir ini, sejatinya ayat ini patut menjadi renungan bagi kita.

Patut kiranya kita sadari bahwa kita sebagai manusia penuh dengan khilaf dan dosa kepada pemilik alam dan isinya.

Maka, dalam menyikapi berbagai bencana yang melanda negeri ini, selain dari solusi yang berbasis logika oleh para pakar ilmu alam, juga patut kiranya solusi berbasis jiwa juga kita galakkan.

Bahkan sangat perlu “gas poll” spritual kita dengan beristighfar, memohon ampun kepada Tuhan sang pencipta, dan terus mendekatlah kepada-Nya dengan “move on” dari kemaksiatan pada ketaatan agar jaminan berupa keberkahan langit dan bumi yang telah Allah janjikan kita rasakan, berupa keamanan dan ketentraman dalam segala aspek kehidupan.

Semoga catatan singkat ini menjadi sumbangsih solusi bagi bangsa dan negara, yang selalu mendambakan “baldatun thayyibah wa rabbun ghafur”. Amin, Wallahu a’lam []

*Penulis adalah pemerhati sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

Pos terkait