Menerjemahkan Ceramah KHR. Moh. kholil As’ad “Pentingnya Mengontrol Diri”

  • Whatsapp
KHR. Moh. Kholil as'ad :Pengasuh Ponpes Walisongo Situbondo
Oleh: Khalil bin Malwi.
penulis buku Falsafah Nubuwwah

Pentingnya Mengontrol Diri

Menafsirkan Ceramah KHR. Muhammad Kholil As’ad Syamsul Arifin dalam Acara Do’a & Sholawat Kebersamaan di Alun-Alun Situbondo pada Malam Menjelang Pergantian Tahun Masehi (2020)

Baca Juga

Bagi seseorang yang ingin agar hidupnya baik, maka menjaga diri menjadi hal yang perlu diupayakan. Hal demikian diperlukan supaya dalam kehidupan selanjutnya dapat berlangsung harmonis, sehingga ia selalu mampu berdamai dengan dirinya sendiri serta senantiasa siap menghadapi apa pun di kemudian hari dengan perasaan tenang dan damai, tanpa terbesit suatu kekhawatiran yang berlebihan.

Sebab, umumnya orang tak mampu memerdekakan dirinya sendiri dari silih bergantinya kegundahan hati dan problem kehidupan. Mungkin saja hari ini tengah berbunga-bunga oleh sebab sesuatu hal yang menggembirakan, namun ia tidak tahu apa yang akan menimpanya di hari esok atau hari-hari berikutnya.

Oleh karena itu, dalam caramahnya di hadapan publik tadi malam (31 Desember 2019), Sang Kiai yang keunggulan karismanya bagi masyarakat Situbondo tidak diragukan lagi menyampaikan.

“Bede oreng, panike se ngontrol. Setiap minggu ekontrol abe’na, ekontrol atena, ekontrol pekkeranna, ekontrol lalakonna ben tengkana, ekontrol thibik. Ekontrol thibik, etengghu thibik atena, lalakonna, pekkeranna. Bede se ngontrol saminggu du kale. Bede se ngontrol, setiap are ekontrol. Bede se phen bulen, bede se phen minggu, bede se phen are, bede se setiap jem, ekontrol abe’na, ekontrol atena, ekontrol pekkeranna, ekontrol thibik lalakon ben tengkana. Mun bhegus, asyokkor de’ ka Allah. Mun jhubek, asapora de’ Guste Allah”.

Untaian-untaian kalimat yang dituturkannya ini, setelah diterjemahkan maka maksudnya dapat dipahami sebagai berikut:
Pertama, agar tetap terpelihara dari berbagai macam hal yang tidak diinginkan, seseorang perlu mengendalikan diri sedari.

Pertama, karena pengendalian terhadap diri sendiri dengan cara mengontrolnya terlebih dahulu sebelum melangkah dan melakukan suatu hal/perbuatan, dapat menjadikan seseorang terus aktif dan reaktif secara positif.

Maksudnya, dengan mengontrol maka aktifitas yang akan segera dilakukan menjadi lebih terarah pada tujuan dan cita-cita yang diharapkan. Dan, jika sewaktu-waktu mendapati sesuatu sikon (situasi-kondisi) yang dirasa tidak mengenakkan atau bahkan menyesakkan dada, reaksi seseorang dalam meresponnya akan lebih terkontrol hingga kondisi batin (hati)nya tetap terpelihara dengan baik, seperti terhindar dari kegalauan yang terlampau yang mengakibatkan putus asa.

Karena mengontrol artinya sama dengan mengendalikan dan, menurut hemat penulis, demikianlah signifikansi yang mendasar dari apa yang dituturkan dan dimaksud oleh Kiai Muhammad Kholil As’ad Syamsul Arifin dalam pengajiannya pada selasa malam di akhir tahun Masehi yang bertempat di Alun-Alun Situbondo, Jawa Timur.

Kedua, sebagaimana mengajak agar keterhubungan dan ketersambungan dengan Allah dan rasul-Nya selalu menjadi ciri khas nan istimewa dalam setiap ceramahnya, Seorang Kiai yang gerbang utama pesantrennya terletak di pinggiran jalan raya Mimbaan, Panji, Situbondo, bermaksud memancing kesadaran akan pentingnya “menghadirkan” Allah.

Bahwasanya Kiai Kholil, demikian biasa masyarakat menyebutnya, mengajak kepada kita agar jangan lupa bersyukur setiap kali mendapati hal-hal positif yang ada dan terjadi dalam diri kita. Pun, olehnya kita juga disarankan agar sesegera mungkin memohon ampun kepada Allah jika didapati dalam diri kita suatu keburukan (kesalahan). Demikian dimaksudkan agar “kehadiran” Allah senantiasa tertanam begitu kuat dalam jiwa kita, sehingga apa pun yang kita lakukan tak lepas dari bersandar kepada-Nya.

Sebab, hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah dan mengandalkan-Nya yang akan menjadikan diri kita terbebas dari sesuatu selain-Nya. Seperti halnya setiap kegundahan yang dirasakan, adalah merupakan sesuatu selain Allah, dan ia akan dengan mudah merasuk hingga merusak hati siapa pun yang lupa akan “kehadiran”-Nya.

Kemudian, Kiai Kholil juga menuturkan, “Bede pole, penika kaangghuy masa depan. Nga’-nginga’i masa lalu, se sa-jem, otabe sa-are, sa-minggu, ajege sopaje abe’ ka masa depanna, sopaje te-ngate. Nambei persiapan bhegus kaangghuy masa depan, baik masa depan neng e dhunnya, masa depan e akherat.”

Maksudnya bahwa, tujuan dari pengontrolan diri adalah juga dimaksudkan supaya seseorang dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Dengan mengembalikan ingatan dan mengingat kembali sesuatu hal menyangkut masa lalu yang pernah dilalui, seseorang dapat mengambil pelajaran berharga. Ketika yang ditemukan dari perbuatan di masa lalunya itu buruk, diharapkan agar seketika ia memohon ampun kepada Allah.

Sehingga, yang demikian akan mengantarnya menjadi lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan pada masa selanjutnya, dan kemudian dapat menjadikannya pribadi yang memperoleh kebaikan, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.

Pos terkait