Kyai Kholil As’ad: Muhammad Memang Sempurna

  • Whatsapp
KHR. Kholil as’ad pengasuh ponpes walisongo situbondo
Oleh: Khalil bin Malwi

Engkaulah manusia
Yang paling manusia
Yang mengerti manusia
Yang berakhlak manusia

Mula-mula demikian bunyi dari sekian bait syair gubahan Kyai Kholil As’ad yang kira-kira dua tahun lalu hampir di setiap acara pengajiannya selalu didendangkan oleh Al Mahabbah, jam’iyah hadroh yang dipimpinnya.

Baca Juga

Yang menjadi objek dalam syair-syair tersebut tak lain dan tak bukan adalah Nabi Muhammad, sosok manusia yang paling sempurna secara fisik maupun metafisiknya.

Secara naluri, fungsi fisik dan aneka macam kebutuhannya tentu Nabi Muhammad tidaklah berbeda dengan manusia lain. Namun secara sifat dan keluhuran budi, adalah Allah sendiri yang membimbingnya, mengistimewakan kedudukannya dan bahkan memujinya sebagai manusia yang paling agung akhlaknya.

Adalah bisa diterima akal, manakala madzhab Ahlussunnah (antara lain baca: Jauharah At-Tauhid karya Ibrahim Al-Laqqani) berpendapat bahwa maqam nabi, apalagi rasul, tidak dapat diperoleh dengan ikhtiar atau upaya keras manusia, melainkan murni merupakan kehendak serta pengukuhan langsung dari Allah.

Nah, itulah sebabnya selepas kenabian Nabi Muhammad mutlak tiada nabi lagi. Kalaupun kemudian ada yang mengaku nabi, hendaknya cepat-cepat memeriksakan diri.

Begitupun terkait kesempurnaan Nabi Muhammad, seperti salah seorang ulama kenamaan asal Mesir bernama Abbas Al-Aqqad (antara lain baca: Falsafah Nubuwwah karya Khalil bin Malwi) yang memetakan manusia menjadi empat tipologi. Pemikir, pekerja, seniman dan orang yang betul-betul tekun dalam beribadah.

Sama sekali tak ada seseorang pun yang mampu mencapai empat tipe tersebut dalam kualitasnya yang seluruhnya purna. Ada seorang pemikir, tapi dia bukanlah pekerja. Atau, selain pemikir mungkin sambil lalu dia bekerja, tapi tidak akan semaksimal sebagaimana orang yang prioritas utamanya hanya sebagai pekerja.

Semisal lain, ada seseorang yang teramat tekun beribadah, pastilah dia tidak maksimal jika merangkap menjadi seorang pemikir sekaligus. Begitupun seorang seniman misalnya, pada saat yang sama akan cukup kesulitan menjadi orang yang sangat tekun dalam hal ibadah.

Adapun Nabi Muhammad, menurut Abbas Al-Aqqad, merupakan sosok yang memiliki kriteria keempat-empatnya, bahkan berada dalam kapasitasnya yang paling puncak dan sempurna. Nabi Muhammad sebagai seorang pemikir, pekerja keras, seniman dan yang ibadahnya begitu sangat luar biasa baik upaya maupun nilainya.

Seperti dalam bidang seni. Sebagaimana pada masa turunnya Islam orang-orang Arab paling tergugah oleh kepiawaian berbicara dan beretorika, seni bahasa dan berpikir yang dimiliki Nabi Muhammad selalu betul-betul penuh makna dan sangat menggugah mereka.

Selanjutnya, seusai bait-bait permulaan dari syair-syairnya sebagaimana tertulis di atas diselingi gubahan-gubahan sholawat, kemudian Kyai Kholil As’ad melanjutkan dengan menggubah antara lain:
Yang tahu manusia
Yang paham manusia
Penyayang manusia
Pendidik manusia

Tahu, yang dalam bahasa Arab disebut ilmu, identik dengan terang. Siapa pun tak akan tahu terhadap apa pun yang terdapat di hadapannya kecuali ruangan yang mana dia ada di dalamnya itu dalam keadaan terang. Bayangkan jika situasinya gelap! Bagaimana mungkin bisa tahu sesuatu sedangkan melihatnya saja tidak mampu?

Paham, yang menurut rumus logika ia pun mengaplikasikan silogisme dalam berpikir, akan tercapai jika dibangun oleh lebih dari satu yang diketahui. Artinya, paham merupakan kesimpulan seseorang menyangkut dua atau lebih pengetahuan yang dia tahu. Untuk kemudian dapat menyimpulkan, yang berarti mulai/sudah paham, tentu yang dia tahu tidak hanya satu benda/persoalan.

Sehingga pernah di dalam kesempatan ceramahnya, Kyai Kholil As’ad mengatakan bahwasanya puncak dari tahu (pengetahuan), adalah mengetahui Allah. Demikian dikatakannya lantaran berpijak pada ayat yang berbunyi, “Fa’lam annahû lâ ilâha illallâh.”

Nah, oleh karena yang memperkenalkan Allah kepada manusia pun manusia kepada Allah adalah Nabi Muhammad, sehingga maklum jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad-lah yang paling tahu dan sekaligus paling paham terhadap Allah dan manusia.

Adapun sifat penyayang, adalah Allah sebagai sumber pemiliknya yang kemudian dianugerahkan-Nya kepada umat manusia, terkhusus Nabi Muhammad yang memang dinobatkan sendiri oleh firman-Nya, “…bilmu’minîn raûfun rahîmun.”

Begitupun dengan Nabi Muhammad yang berjiwa pendidik. Dalam bukunya Falsafah Nubuwwah, Khalil bin Malwi menerjemahkan makna “tarbiyyah” dengan pendidikan.

Kata “tarbiyyah”, demikian menurut Khalil bin Malwi, seakar dengan kata “rabb” yang maknanya berasosiasi pada Tuhan Yang Maha Mendidik. Walhasil, adakah yang menjadi sumber abadi sebagai pendidik yang pendidikannya mengantarkan lagi mendekatkan manusia kepada Allah selain Nabi Muhammad? Jelas, hanya Nabi Muhammad pendidik yang sejati!
Nabi Muhammad memang sempurna.

Pos terkait