Kiai Kholil As’ad: Sayangi Pasanganmu

  • Whatsapp
KHR. Moh. Kholil as'ad :Pengasuh Ponpes Walisongo Situbondo
Oleh: Khalil bin Malwi
ketua paguyuban PESAN (Pecinta Shalawat Nariyah) Yogyakarta

 

“Karena ngabes kalaben senneng, ngabes kalaben sayang, genika bhekal olle kesayangan deri Allah.” Begitu tutur Kiai Kholil As’ad menyangkut pentingnya sepasang suami istri untuk saling mencintai dan menyayangi karena Allah. Demikian dinyatakannya di tengah-tengah ceramahnya yang seluruhnya berdurasi 17 menit lebih sedikit saat mengisi walimah bagi pernikahan sepasang mempelai yang usai melangsungkan ijab kabul.

Baca Juga

Dalam rangka mencurahkan isi hati yang bernuansa sekaligus bernada kasmaran buat pasangan, melalui ceramahnya, Kiai Kholil As’ad menyarankan agar hendaknya bagi sepasang suami istri selalu berusaha untuk menampakkan rasa cinta dan sayang di hatinya bahkan sejak sebelum diungkapkan dengan lisan. Dengan sekadar melihat sang istri, begitupun sebaliknya yakni saat istri melihat sang suami, maka jadikanlah penglihatan tersebut sebagai pandangan yang tulus dari hati yang memang mencintai dan menyangi, yang di dalamnya menjadi tanda kalau hati terpesona oleh keberadaannya (pasangan).

Hal demikian dianjurkan guna mendorong hati untuk terus-menerus merasa senang terhadap keberadaan pasangan. Sehingga cukup dengan hadirnya saja di sisi, rasa hati menjadi sedemikian senang lagi berbunga-bunga. Dan, selanjutnya akan bernilai lebih spesial hingga menghujam ke hati yang paling dalam jika yang bersangkutan mau mengungkapkan dengan lisannya menyangkut rasa senang yang saat itu tengah dialaminya pada pasangan, hingga jadilah kalimat indah yang diucapkannya itu teramat istimewa oleh sebab didasari cinta dan sayang yang lahir dari ketulusan hati yang sesungguhnya. Karena apa yang diungkap oleh hati, masuknya ke hati juga.

Ketika apa yang dituturkan dan dianjurkan sekaligus oleh Sang Kiai kelahiran Situbondo itu diterapkan sebaik mungkin di dalam kehidupan berumah tangga, maka akan terhindar dari perasaan jemu kepada pasangan, apalagi bosan. Kebersamaan keduanya akan senantiasa harmonis, yang bahkan sanggup mengamankan kondisi yang mungkin dirasakan pahit. Seperti halnya hidup pas-pasan atau bahkan berkekurangan sekalipun, tetap akan terasa manis.

Karena cinta yang tulus, pengaruh positifnya akan terus-menerus, yang kemudian dapat membuat rasa senang pada pasangan tiada putus-putus.

Bahkan Kholil As’ad, sebagai kiai penuh wibawa yang pada usia mudanya digunakannya untuk menuntut ilmu di Makkah, di mana tempat yang menjadi pilihannya menimba ilmu kala itu berada dalam kepengasuhan Syaikh Ismail Zain kelahiran Yaman, menyatakan bahwa rasa sayang sedemikian rupa yang dicurahkan buat pasangan dapat bermanfaat bukan hanya bagi kelanggengan hidup berumah tangga ketika di dunia saja, tapi juga akan abadi sampai di akhirat. Sebab, menurutnya, curahan sayang kepada pasangan (halal) akan mengundang curahan sayang dari Allah, sebagaimana sifat-Nya adalah rahman dan juga rahim.

Kemudian, setelah menyatakan yang kalimatnya sudah penulis nukil dalam paragraf pertama di atas, di hadapan semua yang hadir Kiai Kholil As’ad membacakan sebuah hadis—tapi yang dibacanya hanya sebagian kalimatnya saja—yang berbunyi:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Kasihani se e bumi, otamana keluargana, be’en bhekal ekasayangi ben ahli langnge. Anapa tekka’ po seppo ma’ ghi’ sayang ka seppona, che’ pon pade seppo, pade kero’ kakabbhi, ma’ ghi’ sayang? Karena ngarep sayang deri langnge’. Sayangi, be’en bhekal ekasayangi ben ahli langnge’. Pagghun ngabes Allah subhanahu wata’ala. Karena ghi’ molea ka akherat.

Antara lain demikian kutipan dari ceramahnya dalam bahasa Madura.

Kasihilah yang ada (makhluk) di bumi, terutama keluargamu, maka akan disayangi oleh yang ada di langit. Apa sebab yang menjadikan sepasang suami istri yang sudah sama-sama berusia lanjut, bahkan jasmaninya sudah sama-sama lemah dan keriput, itu masih sedemikian saling menyayangi? Itu karena semata-mata mengharap curahan sayang dari langit, secara khusus berharap kepada Allah curahan rahmat yang memang merupakan puncak dari tiga tujuan pernikahan, yakni sakinah, mawaddah dan rahmah.

Dengan kata lain dari apa yang dituturkan Kiai Kholil As’ad adalah, bahwa rasa sayang antarsuami istri yang dapat melanggengkan terhadap kebersamaannya adalah ketika berlandaskan Allah, keduanya menjadikan Allah sebagai niat, motivasi dan tujuannya dalam membangun mahligai rumah tangga. Dengan begitu, mereka berdua akan senantiasa sadar, bahwa kelak akan pulang ke akhirat; menuju alam kebahagiaan yang abadi.

Seperti dapat disimak sebelumnya, yakni pada permulaan ceramahnya, terlebih dahulu para hadirin diberi pencerahan oleh Kiai Kholil As’ad mengenai bagaimana menjalin hubungan yang baik dan semestinya antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana disampaikannya, ketika seorang laki-laki dan perempuan saling suka dan satu sama lain saling tertarik tetapi tidak berada dalam bingkai ikatan halal berupa pernikahan, hasrat ketertarikan antarkeduanya itu akan dibuat semakin menjadi-jadi oleh setan.

Memang bahwasanya setan, demikian menurut seorang kiai yang akrab disapa Ki Kholil itu mula-mula mengawali ceramahnya, itu akan berusaha untuk menjerumuskan sepasang kekasih yang berada di luar jalur ikatan suci lagi halal ke dalam perbuatan yang tidak semestinya lewat cara di antara keduanya itu dibuat kian bertambah ketertarikannya berikut hasratnya agar bisa mendekat, lalu berdekatan, kemudian berdua-duaan, hingga terjadilah suatu perbuatan yang di dalamnya adalah bentuk kedurhakaan kepada Allah yang telah mengharamkan zina; di mana mendekatinya juga diharamkan.

Akan tetapi, begitu Kiai Kholil As’ad menambahkan keterangannya lagi di hadapan semua yang hadir di acara walimah al’urs kala itu, di dalam menyikapi sepasang kekasih yang memang hubungannya telah halal, setan justru mengubah haluan dan juga tujuan. Yakni, jika sebelumnya menggoda agar antara laki-laki dan perempuan bisa berdekatan di dalam kemaksiatan, lalu setelah berada dalam ikatan yang halal oleh setan diupayakan agar bagaimana masing-masing dari sepasang suami istri mudah terpicu oleh kebencian yang mengantar pada ketidaksukaan dan menyebabkan saling berjauhan, hingga kemudian terjadilah perpisahan.

Jika penulis mengingat dan kemudian memperhatikan salah satu ayat dari surah Al-Baqarah di dalam Al-Quran, tepatnya pada ayat 102, di dalamnya ditemukan bahwasanya yang mula-mula menjadi sebab keberadaan sihir pertama kali di pentas kehidupan dunia ini adalah dua malaikat yang diturunkan oleh Allah ke bumi, yaitu Harut dan Marut. Tetapi, sebelum mengajarkan kepada orang-orang pada masa itu, yakni sebelum masa Nabi Sulaiman berkuasa, kedua malaikat tersebut memang mengingatkan menyangkut betapa bahayanya sihir berikut fitnahnya.

Walhasil, sihir yang diajarkan oleh kedua malaikat Allah itu kepada manusia di bumi, ilmunya (sihir) “dicuri” juga oleh setan. Sehingga, setelah mendapatkan ilmu sihir, setan pun kemudian selalu berupaya dalam menggoda manusia, terutama mereka yang memiliki ilmu sihir, agar menggunakan ilmu sihir yang diketahuinya untuk keburukan. Yaitu, salah satunya dan yang menjadi tujuan utama dari setan sebagaimana termaktub dalam salah satu ayat dari surah Al-Baqarah (2:102), adalah untuk merusak dan memperdaya hubungan suami istri; dan membuat terpisah antarkeduanya. Atau, dalam ayat yang lain, perhatikan bagaimana mula-mula iblis yang merupakan atasan setan-setan membujuk hingga membuat Nabi Adam dan istrinya terpisah.

Untuk itu, oleh karena kelihaian tipu daya setan dalam memperburuk apa yang baik dan memperindah apa yang buruk, sebaiknya bagi siapa pun dari kita untuk selalu berhati-hati, berupa, mengekspresikan kehati-hatian dengan cara terus-menerus berupaya dalam mengindahkan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Terutama menyangkut relasi antarlawan jenis. Dan, meneruskan kembali penuturan Kiai Kholil As’ad dalam ceramahnya:

“Karena oreng lake’ ben reng bini’ nika thile lebur, mun suami istri, nika madeteng barakah, madeteng rahmah. Mun ghi’ tak suami istri, lebur lebur, nika madeteng murkana Pangiran, madeteng kacube’en.

Pergaulan yang baik dan keintiman yang sedemikian mesra oleh sepasang suami istri akan mengundang keberkahan, dan mendatangkan rahmat dari Allah. Sebaliknya, yaitu akan mendapat murka dari Allah jika “kedekatan” yang terjalin, adalah oleh mereka yang tidak suami istri.

Pos terkait