Kiai Kholil As’ad: Kanjeng Nabi Laksana Matahari di Waktu Pagi

  • Whatsapp
Kiai Kholil As’ad: Kanjeng Nabi Laksana Matahari di Waktu Pagi
Penulis: Khalil bin Malwi

Bisa saja Anda menyukai seseorang, atau dalam arti mengidolakan, sekalipun tidak mengenalnya. Maka, yang Anda rasakan itu adalah terlahir karena sebab pengetahuan. Di saat yang demikian Anda sebatas tahu siapa dan seperti apa dirinya. Tapi, untuk kemudian bisa mengagumi, yang merupakan tahap lebih tinggi di atas rasa suka, diperlukan sekali bagi Anda agar mengenalnya.

Kalau merujuk pada apa yang pernah diungkap Gadamer, seorang pakar hermeneutika dari Jerman yang lahir pada tahun 1900 dan meninggal tahun 2002 Masehi, yang mana menurutnya memahami juga sama artinya dengan menyepakati maka, di saat Anda menyukai seseorang, sebetulnya, Anda sudah—atau sekurang-kurangnya berada dalam proses—memahaminya..

Baca Juga

Namun, secara hermeneutis dan juga substantif, makna paham seperti dimaksudkan Gadamer agaknya berada di atas lebih tinggi dari sekadar perasaan suka. Sebab, untuk seseorang berkenan memahami, terlebih dahulu baginya diperlukan menyukai. Saat sudah menyukai, selanjutnya akan tertarik untuk bersedia memahami bahkan dengan lebih jauh. Setelah menemukan kecocokan di dalam diri seseorang yang sedang dipahami, maka lahirlah kesepakatan. Itulah sebabnya kesepakatan yang terus-menerus baik dalam hal selera ataupun apa saja akan melahirkan kedekatan yang lebih, bahkan tak jarang jika kemudian benih-benih cinta bisa tumbuh.

Teringat sebuah kalimat memukau dan mengagumkan yang pernah disampaikan Sang Nabi:
اَلْاَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا اِئْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ
“Bahwasanya ruh seseorang dengan ruh seorang lainnya oleh Sang Nabi, adalah diibaratkan dengan sekelompok tentara yang sedang berkumpul. Di mana eksistensi mereka adalah untuk saling membantu dan menguatkan demi menaklukkan pasukan lawan.”

Mengenai persamaan dari sekumpulan tentara yang berkelompok dengan ruh-ruh antarmanusia ketika saling mengenal yang dipersamakan oleh Sang Nabi secara metaforis melalui sabdanya sebagaimana tertulis di atas adalah, selain memang dapat bermanfaat untuk memperteguh kekuatan, di dalamnya juga berimplikasi ketertarikan dan keterikatan. Maksudnya, ketika di antara kita, atau antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedemikan saling mengenal, maka ketertarikan dan keterikatan yang terjalin akan semakin kuat. Demikian tentu berbeda jika sebaliknya, yakni ketiadaan saling mengenal cenderung mengakibatkan seringkali berselisih, dan bahkan saling bermusuhan.

Oleh karenanya seperti yang telah penulis asumsikan dalam paragraf pertama sebagai pembuka tulisan sederhana ini, bahwasanya perkenalan memanglah diperlukan sekali untuk menumbuhkan kekaguman. Semakin mengenal, semakin pula mengagumi.

Lantaran mengagumi berada di atas tahap menyukai sehingga dapat berarti secara makna serupa dengan menyayangi. Karena itu wajar saat banyak orang berkata, “Tak kenal maka tak sayang.”

Nah, bermula dari pengertian semacam di atas itulah sehingga lahir jawaban Kiai Kholil As’ad; selepas menerima pertanyaan dari salah seorang hadirin. Berikut jawabannya dalam bahasa Madura:

“Ghenika, bahasana oreng se kagum ka Kanjeng Nabi”

Tentu saja jawaban demikian diawali oleh latar belakang berikut pertanyaannya. Yaitu, di suatu malam, dalam kesempatan pengajiannya bersama masyarakat umum yang bertempat di pesisir pantai, Kholil As’ad, sebagai sosok kiai yang diam maupun geraknya selalu menjadi perhatian para pengagum dan pecintanya, baik untuk didokumentasikan maupun untuk direkam setiap apa yang dituturkannya, mempersilahkan kepada segenap yang hadir untuk menanyakan apa pun yang belum begitu dipahami menyangkut arti dan juga maksud dari seluruh syair yang telah digubahnya. Hingga didapatilah kemudian seseorang di antara para hadirin yang bertanya. Masih dengan bahasa Madura, begini pertanyaannya:

“Abdina korang paham de’ syi’iran: kau matahari di waktu pagi, bulan purnama di waktu malam.”

Berkenaan dengan syair yang ditanyakan, secara langkap silahkan disimak berikut ini:
Kau matahari di waktu pagi
Bulan purnama di waktu malam
Engkau bagaikan kesehatan
Yang menjadi segarnya badan
Kau dijadikan sumber kedamaian
Menjadi rohmat semesta alam
Kau kegembiraan kau kesenangan
Bagi pengenal pecinta Tuhan

Mengumpamakan Sang Nabi dengan matahari yang terbit di waktu pagi, merupakan ungkapan metaforis yang lahir dari hati yang merasa kagum kepadanya. Atau, menurut kacamata balaghoh yang merupakan disiplin ilmu yang diperlukan guna memperluas pengertian sekaligus pemahaman menyangkut makna yang terungkap di dalam bahasa Arab, maknanya itu majazi, sama sekali bukanlah hakiki.

Sang Nabi bukanlah matahari. Tapi kehadirannya lebih menerangi ketimbang matahari. Bahkan, ketika seseorang berucap dengan penuh kekaguman bahwa Sang Nabi adalah matahari, sebenarnya belumlah mewakili untuk menggambarkan kesempurnaan sebenarnya tentang sejatinya Sang Nabi. Lantas bagaimana? Maka Kiai Kholil As’ad memberikan solusi:

“Eghemberrekie ben napa? Eghemberrekie sa nogghena. Sa nogghena pon. Padahal Kanjeng Nabi lebih deri ghenika.”

Kholil As’ad, sebagai seorang kiai asal Jawa Timur yang setiap tahunnya juga rutin bersafari dakwah di Yogyakarta, mempersilahkan terhadap siapa pun untuk berimajinasi, sesuai kemampuan imajinatif yang dimilikinya, dalam menciptakan ilustrasi guna memudahkannya di dalam memahami siapa sebenarnya Sang Nabi.

Selanjutnya, terhadap kreasi matahari sebagai ungkapan yang menggambarkan kehadiran Sang Nabi yang sebetulnya belum cukup mewakili itu, sehingga Kiai Kholil As’ad lalu menambahkan padanya dengan mengungkap “di waktu pagi”. Olehnya dijelaskan menyangkut kondisi dan pengaruh matahari di kala pagi.

Ditanyakannya, “Adakah sinar matahari di waktu pagi itu panas?” Olehnya lalu dijawab tidak. “Adakah menyengat?” Tidak. Menurut Kiai Kholil As’ad, pengaruh dari sinar matahari di waktu pagi itu menyegarkan lagi menyehatkan. Demikian sama sekali berbeda dengan kondisi matahari di saat siang, yaitu panas dan menyengat. Dan, menurutnya lagi, itu sebabnya Al-Qur’an, ketika menerangkan ayat-ayat yang juga berkaitan dengan siapa seorang Muhammad, menyebutkan yang artinya:

“Demi waktu dhuha.”

Dhuha, yang kemudian menjadi nama untuk salah satu shalat sunnah yang waktu pelaksanaannya adalah di pagi hari.

Kehadiran Seorang Muhammad, selain menerangi apa dan siapa yang sebelumnya mengalami atau dalam keadaan gelap, adalah juga menyegarkan. Sebagaimana matahari yang terbit di pagi hari, cukuplah mampu membangun dan memotivasi semangat bagi siapa yang bangun dan kemudian melangkah prepare guna berangkat kerja dan mencari penghidupan. Terlebih, pagi hari merupakan waktu yang penuh dengan berkah. Bagi yang istiqamah memenanginya, ia akan memenangkan dunia; dalam arti kebutuhan dunianya dicukupi dan diberkahi.
Dan, yang tak kalah penting, Kiai Kholil As’ad juga mengatakan:

“Mun oreng nika asambhung ka Kanjeng Nabi, melihat ka Kanjeng Nabi, nika pas seggher ka Pangiran.”

Sebagaimana matahari di waktu pagi begitu menyegarkan ketika dinikmati, maka siapa yang menyambung ruhani dengan Sang Nabi, berhubungan dengan Allah baginya pasti terasa menyegarkan. Demikianlah memang Sang Nabi. Merasakan kesegaran karenanya akan mengundang kesegaran dalam menikmati hubungan dengan-Nya; beribadah kepada-Nya.

Pos terkait