Kiai Kholil As’ad: Allah Sebagai Puncak Kesenangan

  • Whatsapp
KHR. MOH. KHOLIL AS AD
Oleh: Khalil bin Malwi

Siapa pun, sepanjang akalnya sehat, pasti menginginkan kesenangan, bukan? Disadari atau tidak bahwa kesenangan, yang tak lain merupakan dimensi mikro atau bagian dari kebahagiaan, selalu menjadi harapan setiap insan. Seperti apa dan bagaimana dia bergeming, bergerak dan juga berjalan, dipastikan bahwa tujuan yang diinginkan olehnya adalah agar dirinya dapat merasa nyaman, atau mendapatkan kenyamanan di mana kenyamanan itu merupakan bagian dari kesenangan.

Semisal, bagi mereka yang bujangan atau populer dengan sebutan jomblo, duduk bersantai di taman yang indah menghijau atau nongkrong di warung kopi mungkin bisa membuatnya nyaman, yang kemudian mengantarkannya betah untuk berlama-lama berdiam diri di sana. Setelah dia merasa jenuh, seketika hasratnya ingin beranjak ke tempat lain, yang lebih bisa membuat keinginan hasratnya memperoleh kenyamanan baru di tempat yang berbeda itu. Dan, bagi yang berpasangan, duduk bersama pasangan akan membuat cahaya mukanya tampak berseri-seri lantaran hatinya yang merasa sudah sedemikian nyaman, senang dan bahkan bahagia. Baginya duduk sejenak sedikit pun tak terlintas sama sekali di benaknya. Dia ingin berlama-lama berada bersama pasangannya, tersebab rasa nyaman telah dirasakannya.

Baca Juga

Begitupun, misalnya, bagi kaum dagang akan merasa senang jika dagangannya laris, dan merasa gelisah atau bahkan bersedih ketika dalam perniagaan atau dagangannya mengalami stagnasi atau memasuki masa-masa defisit. Yang hartawan merasa senang ketika tumpukan hartanya kian bertambah. Yang berkedudukan merasa senang ketika jabatannya naik pangkat. Dan lain sebagainya.

Jika diperhatikan dengan seksama dari sekian macam permisalan di atas, terdeteksi bahwasanya kesenangan yang kemudian dirasakan oleh mereka itu, penyebabnya berdasar atau bahkan bergantung pada hal-hal yang bersifat eksternal, yaitu faktor-faktor yang berada di luar diri. Baik lingkungan dan suasananya, orang lain dan statusnya, kedudukan dan kualitasnya maupun harta dan kuantitasnya. Tentu saja penulis tak bermaksud menafikan semua faktor itu berikut pula pengaruhnya. Tetapi, sejatinya kenyamanan, kesenangan dan kebahagiaan yang sejati adalah terletak di dalam diri. Bahwa yang sejati, sekali lagi penulis tekankan, itu bukanlah yang dari luar, melainkan dari dalam. Yaitu apa yang terjadi di dalam diri sendiri.

Sementara itu, kalau merujuk pada apa yang diwejangkan Imam Al-Ghazali, ditemukan di dalamnya puncak dari kebahagiaan yang merupakan tujuan manusia yang sejati, menurutnya, adalah makrifat. Ma’rifatullah. Mengenal Allah. Dan, sebagaimana disabdakan, sarana untuk kemudian seseorang dapat mengenal Allah adalah dirinya sendiri. Dengan pembacaannya secara serius dan sungguh-sungguh serta perhatiaannya terhadap dirinya sendiri itulah yang akan mengantarnya mengenali Allah dan keagungan-Nya. Bahwa yang mengenali dirinya niscaya mengenali Tuhannya.

Nah, bagi orang yang betul-betul mengerti apa kesenangannya, bagaimana agar dirinya bisa bahagia, dan yang demikian tidaklah berdasar apalagi bergantung pada apa yang di luar melainkan bersumber dari dalam, maka di mana pun dia berada dan seperti apa suasananya tidak akan mempengaruhi susah ataupun senang kondisi hatinya. Karena dia mengerti bagaimana semestinya mengatur dan mengontrol dirinya sendiri. Oleh karena itu, Kiai Kholil yang merupakan putra dari seorang mediator berdirinya Nahdlatul Ulama bernama Kiai As’ad, lewat ceramahnya dalam pengajian umum beberapa hari yang lalu, memperkenalkan kepada kita bahwa kesenangan puncak adalah Allah.

Sementara mungkin bakal muncul pertanyaan, “Bagaimana caranya?” Atau bahkan, “Apa maksudnya?” Yang pasti, kesenangan yang dimaksud itu bukan yang berasal dari luar–sebagaimana sudah penulis singgung sebelumnya. Setelah mengerti akan sejatinya diri dan kemudian mengantarkan pada puncak kesadaran menyangkut Mahakuasa Allah yang benar-benar luar biasa dan sungguh agung peranannya di dalam diri setiap insan, barulah dipahami bahwa kesenangan yang dimaksudkan Sang Kiai yang menjadi pengasuh pesantren Walisongo di Situbondo itu memanglah tidak bersumber dari yang selain Allah.

Bertempat di Alun-Alun Besuki, dalam acara Ngaji & Bersholawat yang dilaksanakan pada malam Rabu sesaat sebelum pergantian tahun baru Masehi beberapa waktu lalu, Kiai Kholil As’ad, sebagai pembicara puncak yang kurang dari satu jam sebelumnya juga mengisi acara pengajian umum yang bertempat di Alun-Alun Situbondo, menyampaikan sekaligus menekankan tentang betapa pentingnya mencari kesenangan lewat taat kepada Allah dan rasul-Nya.

Dalam ceramahnya, seorang kiai yang akrab dipanggil Ki Kholil itu memotivasi segenap orang yang hadir untuk senantiasa meningkatkan ketaatan. Tidak sampai di situ, tetapi Sang Kiai juga menganjurkan bagaimana agar ketaatan kepada Allah yang diupayakan dapat memberikan kepuasan dan kesenangan kepada setiap pelakunya. Demi menguatkan apa yang dituturkannya itu, beliau lalu membacakan sebuah doa:
اَلّلهُمّ أغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Bukan hanya dibacakannya, tetapi dari rangkaian doa di atas diharapkan agar maknanya begitu dihayati oleh para hadirin.

Setelah diterjemahkan, maka makna dari doa di atas dapat disimak sebagai berikut. Pertama, kita memohon kepada Allah agar dianugerahi sesuatu yang halal dan dilindungi dari sesuatu yang haram. Kedua, kita memohon agar oleh Allah kita diberi pertolongan untuk giat di dalam taat dan dijauhkan dari berbuat maksiat. Ketiga, kita memohon agar Allah mencukupi kita hanya dengan anugerah-Nya, sehingga tak terpikir oleh kita meminta pada yang selain-Nya.

Bahkan, terhadap doa yang kandungannya mula-mula berisi permohonan akan diberikan-Nya kepada kita setiap yang halal dan dihindarkan dari yang haram, menurut penulis, pemaknaan yang disampaikan Kiai Kholil As’ad melalui ceramahnya tidaklah terpaku pada teks semata. Jika penulis mengingat bahwa dalam epistemologi pemaknaan yang oleh salah seorang pemikir muslim dibagi menjadi tiga yakni bayani, burhani dan irfani, maka penulis mengkategorikan pemaknaan beliau menyangkut doa di atas itu ke dalam metode memaknai yang paling tinggi sekaligus paling puncak, yaitu irfani, ialah merupakan pemaknaan yang hanya mungkin diperoleh oleh orang-orang yang selain sebagai ahli ilmu, jiwanya telah bersih dari kotoran-kotoran duniawi. Sederhananya ilmu sedemikian itu adalah cenderung bersifat intuisi, atau ilham.

Di hadapan para hadirin di Alun-Alun Besuki pada malam menjelang Tahun Baru, yang mana mereka memilih hadir ke pengajian dalam rangka bersholawat dan juga berkumpul duduk di majelis ilmu yang diisi oleh ulama, Kiai Kholil As’ad mengajak agar senantiasa berupaya sekuat kemampuan untuk dapat merasa puas dengan ketaatan yang dilakukan. Sehingga, sebagaimana yang disampaikan oleh beliau, ketika seseorang telah merasakan kepuasan dengan melakukan taat maka tak akan ada lagi kemauan untuk berbuat maksiat.

Beliau juga berharap, jadikanlah ketaatan sebagai penghibur, yang senantiasa menghibur hati setiap pelakunya. Dengan begitu, setiap kali melakukan sesuatu ibadah yang mengekspresikan ketaatan kita kepada Allah, setiap itu pula hati kita terhibur oleh Allah. Maka, ketika itu, sebuah ketaatan menjelma jadi hiburan yang menyenangkan, pun merasa senang dengan Allah. Ketaatan yang demikianlah yang dimungkinkan sekali akan mengantar siapa saja untuk merasakan kesenangan hanya dengan Allah semata, sehingga baginya Allah menjadi satu-satunya puncak kesenangan. Bukan yang lain, bukan yang selain Allah.

Pos terkait