KHR. Kholil as’ad : Menghadiri Pengajian Isro’ Mi’roj Sama Seperti Bertamu Kanjeng Nabi Muhammad

  • Whatsapp
KHR. Kholil as’ad pengasuh ponpes walisongo situbondo
Oleh: Khalil bin Malwi

Sebelum mengungkap pesan penting dari kalimat mauidhoh yang diwejangkan Kyai Kholil As’ad dalam pengajian umum Isro’ Mi’roj yang diselenggarakan pada tanggal 16 Maret 2020 malam Selasa kemarin di Alun-Alun Kota Situbondo, agaknya relevan jika penulis terlebih dahulu mengajak pembaca yang budiman untuk merefresh kembali ingatan menyangkut kendaraan yang menjadi sarana transportasi Kanjeng Nabi sewaktu melakukan perjalanan malam dari Masjid Al-Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina yang kemudian puncaknya sampai ke Shidrah Al-Muntaha, bertamu di hadapan Allah Ta’ala.

Pastinya tak menggunakan kapal terbang. Sebab di jaman Kanjeng Nabi tidaklah seperti sekarang.

Baca Juga

Adalah buroq namanya. Ia berbadan sejenis kuda, namun bersayap. Ia berwajah mirip manusia, berparas menawan. Sebagian ulama berpendapat bahwa buroq berwajah wanita yang cantik nan jelita, seperti halnya bidadari surga. Dan, di keningnya tertulis nama “Muhammad” dalam bahasa Arab.

Agaknya cukup dengan tak memaparkan argumen lebih detail terkait apakah benar berwajah wanita atau tidak buroq itu. Walhasil, sebagaimana malaikat buroq pun tak berjenis kelamin.

Setiap melalui jalan tanjakan yang berarti naik, termasuk terbang ke udara, buroq yang berkaki empat akan secara otomatis melempitkan dua kakinya yang depan, tidak dengan dua kakinya di belakang. Sebaliknya manakala melalui jalanan rendah atau terjun ke bawah. Demikian dilakukannya semata-mata hendak membuat posisi duduk Kanjeng Nabi supaya tetap stabil, sehingga yang beliau rasakan seolah-olah perjalanan hanya lurus, tanpa merasakan naik turun dan sama sekali tak terasa oleh beliau jalanan berbelok-belok.

Ajaib bukan? Lebih tepatnya demikianlah yang disebut mukjizat.

Sebagaimana diriwayatkan, kelak buraq-lah yang akan menjadi alat transportasi bagi orang-orang yang beriman setelah berada di dalam surga.

Namun, bagaimanapun, terkait wujud buraq tetaplah Allah Yang Maha Mengetahui hakikat sebenarnya, begitupun Kanjeng Nabi yang memang diistimewakan dengan menyaksikannya serta menjadikannya sebagai tunggangan sewaktu mengantar beliau pergi bertamu lalu bertemu Allah Ta’ala.

Oleh sebagian ulama mengenai tunggangan Kanjeng Nabi yang sedemikian rupa itu, dikemukakan bahwa di dalamnya mengandung aneka pesan simbolik. Antara lain, kestabilan buroq dalam membawa Kanjeng Nabi yang oleh mereka dikonotasikan sebagai simbol keistiqamahan, adalah untuk mengingatkan bahwasanya jalan menuju Allah, hendaklah berusaha untuk senantiasa lurus.

Selalulah istiqamah dan stabil. Janganlah mudah melempem saat digonjang-ganjing oleh naik turun uji-coba kehidupan. Berupayalah melakukan sterilisasi dengan terus-menerus, agar perjalanan menuju Allah Ta’ala selalu nyaman dan mulus.

Belum lama ini, menghadiri malam peringatan Isro’ Mi’roj dinilai oleh Kyai Kholil As’ad tak ubahnya dengan memposisikan diri sebagai tamu di hadapan Kanjeng Nabi.

Adalah Allah Ta’ala yang dahulu mengundang langsung Kanjeng Nabi untuk hadir ke hadapan-Nya pada malam Isro’ Mi’roj. Sehingga, siapa pun yang merayakan dan mengistimewakan malam tersebut akan dianggap seperti halnya memenuhi undangan-Nya pula, yang mana hal demikian juga direpresentasikan oleh hadirnya para hadirin di malam pengajian yang memperingati malam sakral itu.

Dengan berpijak pada makna simbolis buroq yang menjadi tunggangan Kanjeng Nabi sebagaimana yang dikemukakan oleh sebagian ulama di atas, maka bertamu ke hadapan Kanjeng Nabi yang pernah menjadi tamu Allah Ta’ala lewat hadir ke malam peringatan Isro’ Mi’roj, seolah-olah seseorang betul-betul sedang memenuhi undangan-Nya. Dan, hendaknya kemudian ia beristiqamah dalam melakukannya.

Memenuhi undangan Allah Ta’ala dapat diwujudkan melalui shalat, terlebih ia memanglah merupakan oleh-oleh spesial yang dibawa Kanjeng Nabi sepulang dari perjalanan Isro’ Mi’roj. Nah, itu sebabnya selepas menyampaikan kalimat mauidhohnya sebagaimana termaktub dalam judul di atas, Kyai yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah umroh itu kemudian menekankan pada segenap yang hadir di malam itu tentang pentingnya istiqamah dalam menghidupkan peringatan Isro’ Mi’roj, bahkan sekalipun seusai acara atau tak sedang menghadiri malam pengajian yang memperingati Isro’ Mi’roj Kanjeng Nabi.

Lebih tepatnya dalam Bahasa Madura disampaikannya begini, “Nika Isro’ Mi’roj kothu terros esambhung depak ka romahna masing-masing.”        

  Dari sini lalu penulis menangkap pesan penting yang hendak disampaikan oleh Kyai Kholil As’ad. Yaitu, hendaklah segenap yang hadir terus-menerus berupaya menyambung tali temali guna menghubungkan sekaligus menyambung ikatan dengan Allah Ta’ala dan Kanjeng Nabi. Lewat shalat seseorang akan terhubung kepada Allah Ta’ala dan lewat shalawat seseorang akan terhubung kepada Kanjeng Nabi.

Pos terkait