Ketika Adab Melambungkan Derajat Syaikhona Kholil Bangkalan

  • Whatsapp

Bangkalan, suarasantri.co.id – Sudah masyhur bahwa Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan merupakan ulama besar dari Bangkalan Madura. Karenanya dalam tulisan ini penulis ingin menyajikan gambaran sosok Syaikhona Muhammad Kholil dari sisi akhlak mulia beliau, sehingga mendapatkan derajat agung di sisi Allah dan hambaNya.

Selama ini banyak yang memandang Syaikhona sebagai sosok waliyullah pemilik ribuan karomah, yang seringkali perilakunya tidak bisa dinalar akal orang-orang biasa.

Syaikhona juga dikenal sebagai salah satu Inspirator berdirinya organisasi Islam terbesar di dunia hari ini yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Syaikhona merupakan seorang “murobbi” sejati yang murid-muridnya berhasil menjadi ulama-ulama besar yang menyebarkan Islam di seluruh penjuru Nusantara.

Namun disini kami tidak akan membahas tentang ribuan karomah dan keajaiban yang Syaikhona miliki, selain karena memang sudah banyak yang menceritakannya, lagi pula, terlalu banyak membahas bab karomah hanya akan membuat generasi muda saat ini menganggap bahwa Syaikhona adalah sosok yang tak bisa terjangkau dan dijadikan panutan.

Padahal tujuan utama kita mengkaji sejarah seorang ulama adalah untuk meneladani tindakan dan sikapnya. Kami hanya akan menunjukkan satu “kunci”, dimana dengannya Syaikhona bisa meraih dan menggapai semua kemuliaan yang terus mengalir sampai detik ini, dimana dengan “kunci” itu hingga hari ini nama Syaikhona Kholil masih sangat diagungkan, hingga ribuan peziarah datang ke petilsan Syaikhona sampai hari ini.

Kunci kemuliaan itu adalah Adab atau sopan santun. Adab mulia nan luhur adalah hal yang paling menonjol dari sejarah hidup seorang Syaikhona.

Dimulai dari masa-masa beliau menuntut ilmu

Ketika mondok di Pasuruan, setiap memasuki kawasan pesantren Sidogiri (setelah berjalan kaki sepanjang 7Km dari Kebon Candi tiap harinya) beliau selalu mencopot sandalnya sebagai wujud ta’dhim terhadap para Masyayikhnya.

Ketika mondok di Genteng Banyuwangi, Syaikhona berkhidmah penuh kepada sang guru KH. Abdhul Bashir dengan mengisi bak mandi, mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak untuk Sang kiai. Beliau juga bekerja sebagai pemetik buah kelapa dengan upah 3 sen setiap 80 pohon. Dan yang lebih menakjubkan lagi, Syaikhona sama sekali tidak memakai sepeser-pun dari hasil jerih payahnya itu. Semua uang penghasilannya, beliau persembahkan untuk gurunya. Sementara untuk kebutuhan makan sehari-harinya, Syaikhona lebih memilih untuk memungut makanan sisa kiainya.

العبد و ما ملك ملك لسيده

” hamba sahaya dan semua yang ia miliki adalah milik dari tuannya “

Mungkin kalam shufi satu ini bisa mewakili prinsip seorang Syaikhona, “saking” tinggi-nya adab dan hormat beliau terhadap gurunya, sampai-sampai beliau menganggap dirinya adalah seorang hamba sahaya yang bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa dihadapan sang Guru.

Pun ketika Syaikhona menuntut ilmu di Mekkah. Ketika berguru kepada Syaikh Muhammad Arrahbini yang merupakan seorang tunanetra, setiap malam Syaikhona sengaja tidur di pintu Musholla Sang guru, dengan harapan ketika Sang guru memasuki pintu musholla, Syaikhona terinjak lantas beliau terbangun dan menuntun gurunya menuju tempat imam.

Di Makkah, Syaikhona terkenal memiliki tulisan indah. Tak jarang beliau menulis kitab Alfiah dengan tangannya sendiri lantas menjualnya dengan harga 200 Ryal per-kitab. Seperti ketika mondok di Banyuwangi, lagi-lagi hasil jerih payahnya itu beliau persembahkan untuk para gurunya, sedangkan untuk makanan sehari-harinya, Syaikhona lebih memilih untuk memungut dan memakan kulit-kulit semangka.

Masih pada fase pendidikan Syaikhona di Mekkah, Adab luhur yang menjadi prinsip beliau disana adalah, beliau sama sekali tidak pernah membuang hajat di tanah Suci Mekkah. Untuk menghormati Kota kelahiran Kanjeng Nabi ini, Syaikhona rela berjalan sejauh 6km keluar batas tanah suci untuk membuang hajat.

Tak cukup sampai disitu, ketika sudah menjadi seorang kiai besar yang disegani dimana-mana. Kala itu beliau pernah menaiki sebuah dokar, ditengah perjalanan beliau bertanya pada si kusir :

“kudanya bagus pak, dari mana ? “

” Dari Bima Kiai,” jawab sang kusir.

Mendengar Nama itu beliau teringat akan seorang gurunya di Makkah yang berasal dari Bima. Beliau ingat bahwa gurunya itu mempunyai ratusan ekor kuda. Beliau lantas menyuruh kusir berhenti, Syaikhona lekas saja turun dari dokar itu karena beliau khawatir kuda tersebut merupakan salah satu keturunan dari kuda-kuda yang dimiliki oleh gurunya dari Bima, Syaikh Abdul Ghoni Al-bimawi

Dalam menghormati ilmu dan ulama, Syaikhona selalu total dan tak pernah tanggung-tanggung. Setiap hal yang berkaitan dengan ilmu, sekecil apapun nisbat-nya akan beliau muliakan. Kisah beliau dengan kuda dari Bima di atas adalah buktinya.

Beradab tinggi terhadap ilmu dan ulama adalah harga mati bagi Syaikhona, bahkan meski ulama itu adalah murid hasil didikan beliau sendiri. Sebagaimana dikisahkan oleh Kh. Ahmad Ghazali Muhammad dalam kitabnya “Tuhfah Arrawi”. Sebelum wafatnya, Syaikhona pernah berkunjung ke Jombang untuk mengikuti pengajian Hadits yang diasuh oleh santrinya sendiri yaitu Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari di Tebuireng. Tak hanya itu, Syaikhona bahkan mengambil lalu membalik sandal Kiai Hasyim sebelum beliau turun dari musholla layaknya seorang santri yang mengharap berkah dari gurunya.

Tentunya masih banyak kisah-kisah tentang kehebatan adab dan akhlak Syaikhona yang belum termaktub hingga saat ini. Dan dengan itulah Syaikhona berhasil meraih semuanya, kejayaan, kemuliaan, dan nama agung yang masih sangat semerbak baunya sampai saat ini. (*)

Tulisan ini disarikan dari sebuah tulisan berjudul *Memperingati Haul Maha Guru Ulama Nusantara yang ke 97 : Ketika Adab melambungkan derajat Syaikhona Kholil Bangkalan*, yang ditulis oleh @Ismael Amin Kholil

Pos terkait