Haul, Berdzikir untuk Kyai Ahmad Sufyan Situbondo

  • Whatsapp
Penulis: Khalil bin Malwi

Minggu malam pada tanggal sembilan Februari menjadi moment di mana haul ke-8 almaghfurlah Kyai Ahmad Sufyan dilangsungkan. Tampak ribuan orang dari berbagai daerah berdatangan. Hampir sama sekali tak didapati sebab kedatangan mereka dalam menghadiri pelaksanaan haul kecuali dengan maksud mengharap berkah yang diyakini akan tercurah lewat kewalian seorang kyai yang masyhur dipanggil Ki Sufyan itu.

Sebelum lebih lanjut membaca tulisan ringkas ini, agaknya perlu diketengahkan terkait mengapa penulis tanpa ragu menyebut Kyai Ahmad Sufyan sebagai “wali’. Maka, hendak penulis kemukakan paradigma berpikir sederhana.

Baca Juga

Ada banyak indikator yang menunjukkan bahwa Kyai Ahmad Sufyan memanglah seorang wali. Antara lain silakan perhatikan aspek, bagaimana orang-orang yang hidup saat ini masih sedemikian mengenalnya dan bahkan begitu sangat mengingatnya. Padahal, sosok kyai yang disakralkan haulnya pada malam Senin kemarin itu sejak tahun 2012, jasadnya sudah tiada; dikebumikan di Makkah sana.

Dikemukakan oleh Syaikh Ibrahim Al-Baijuri dalam salah satu kitab karyanya yang khusus mensyarahi kitab Jauharah At-Tauhid karya Syaikh Ibrahim Al-Laqqani, bahwasanya sebagian ahli hakikat berkata, “Siapa yang karomahnya tidak tampak setelah wafatnya sebagaimana sewaktu hidupnya, maka kewaliaannya itu tidak benar.”

Baca juga: Mengenang KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin

Diistimewakannya seseorang oleh mayoritas orang yang mengenalnya, menandakan bahwa dia adalah sosok yang berkharisma. Sementara, jika penulis merujuk pada penuturan Max Weber yang kepakarannya dalam ilmu sosiologi sulit untuk diragukan, bahwa menurutnya kharisma merupakan suatu kondisi yang tidak mudah dinalar akal, dan kharisma melekat di dalam pribadi seseorang adalah sebagai anugerah atau pemberian dari Tuhan. Sebab, hampir tidak mungkin kiranya membuat orang lain sedemikian menghormat dan bahkan selalu manut kecuali jika mereka diberi upah. Sedangkan yang terjadi pada pribadi seseorang yang berkharisma adalah begitu mudah membuat orang-orang yang mengenal dan melihatnya menghormat dan patuh meski tanpa dibayar dengan gaji.

Nah, dengan begitu, aneka keistimewaan/karomah yang dimiliki Kyai Ahmad Sufyan selama hidupnya, dalam hal ini sebagai sosok kyai yang berkharisma, memanglah pemberian dari Allah, pun dengan keistimewaan di setelah wafatnya.

Namun demikian, yang terpenting dan paling penting dari diistimewakannya seseorang dengan karomah atau kekeramatan bukanlah yang dibuktikan oleh “keluarbiasaan-keluarbiasaan” yang semata berkonotasi fisikal atau kasat mata, seperti kebal atau bahkan bisa terbang. Tetapi, seorang wali yang dianugerahi karomah atau kekeramatan itu menandakan bahwa hubungan batinnya sudah sangat intim dengan Nabi Muhammad.

Sebab, wujud karomah atau kekeramatan tak lain adalah bagian dari mukjizat Nabi Muhammad, dan akan terus-menerus dianugerahi kepada setiap wali hingga Hari Kemudian—kiamat. Maka sangatlah wajar jika yang tersambung dan terhubung dengan Nabi Muhammad-lah yang akan memperoleh karomah yang merupakan bagian dari mukjizat beliau.

Dalam pelaksanaan haul yang bertempat di ponpes Manbaul Hikam Panji Situbondo itu, adalah Kyai Kholil As’ad menjadi pembicara. Di dalamnya, Kyai Kholil As’ad menyampaikan apa yang menjadi harapan Kyai Ahmad Sufyan. Sebagaimana dikatakannya, Kyai Ahmad Sufyan sangat ingin dan berharap agar pembacaan sholawat terus-menerus dibaca, bukan hanya oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Situbondo waakhowatuhu, melainkan juga membumi di Nusantara ini.

Menurut Kyai Kholil As’ad, semua sholawat itu baik. Dan, yang diketengahkannya salah satunya berupa sholawat Nariyah. Bahkan, masih menurut pengasuh ponpes Walisongo itu, yang menjadi komando atas kemestian membaca sholawat itu adalah Allah—sebagaimana secara tersurat dengan jelas tertulis dalam surah Al-Ahzab di ayat 56.

Tentu saja, terdapat banyak keistimewaan yang bahkan pasti diperoleh bagi siapa saja yang membaca sholawat. Namun, oleh Kyai Ahmad Sufyan masyarakat dimotivasi agar yang paling menjadi tujuan sekaligus harapan setiap kali sholawat dihaturkan, adalah supaya bisa mendekat dan merapat dengan Nabi Muhammad. Sehingga, kembali menurut Kyai Kholil As’ad yang merupakan menantu dari Kyai Ahmad Sufyan, apa yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad juga diberikan kepada pembacanya, termasuk kita semua. Aamiin.

Pos terkait