Gua Sukarno Tempat “Riyadhoh” Orang Terkemuka

  • Whatsapp

Gua Alami

Gua Sukarno terletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura. Lokasi Gua Sukarno berada di bawah bebatuan gersang dan tandus serta berbatu. Hanya semak berduri yang tumbuh liar di atas gua. Gua eksotis yang ramai diperbincangkan, terutama di sosial media, mulai dilirik keberadaannya oleh banyak orang. Lahan parkir dengan pengelola sudah selesai digarap seluas kurang lebih 2000 meter persegi. Akses masuk jalan beraspal sudah bagus. Rencananya di pinggir lahan parkir ini akan dibangun beberapa kios tempat berjualan bagi masyarakat sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Menurut Ceng Rasidi, keberadaan Gua Sukarno sudah ada ratusan tahun yang lalu. Luas gua tersebut sekitar 3000 meter persegi. Lumayan luas untuk ukuran sebuah gua, bisa menampung ribuan orang di dalamnya. Destinasi wisata baru yang sangat direkomendasikan ini adalah gua alami. Memang ada bekas galian yang diambil batunya untuk dijual, begitu keterangan Ceng Rasidi ketika penulis menjumpainya. Batu-batu tersebut yang ada kadar posfatnya dijual ke perusahaan-perusahaan besar di Pulau Jawa. Namun tidak beberapa lama kemudian, gua tersebut tidak digali lagi karena kadar batu fosfat sudah tidak memenuhi standar seperti yang ditetapkan perusahaan. Akhirnya gua tersebut dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kedalaman Gua Sukarno bervariatif antara 12-17 meter. Ada dua akses jalan ke luar-masuk gua. Ceng Rasidi sebagai pemilik lahan Gua Sukarno, menjelaskan bahwa gua tersebut memang sudah ada sebelum kakeknya. Kakek Ceng Rasidi juga tidak tahu siapa yang dulu membuat/menggali gua cantik itu. Jadi sangatlah meyakinkan jikalau gua itu sudah ada ratusan tahun yang lalu. Hal ini memang terbukti adanya stalaktit dan stalagmit di dalam gua yang sangat mempesona. Stalaktit adalah jenis speleothem yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes. Stalaktit terbentuk  dari pengendapan  kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang terendapkan pada larutan air bermineral. Sedangkan stalagmit adalah pembentukan gua secara vertikal. Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ditemukan di lantai gua, biasanya langsung ditemukan di bawah stalaktit. Mineral yang dominan dalam pembentukan stalagmit adalah kalsit.

Kenapa gua itu dinamakan Gua Sukarno? Dulu gua tersebut pernah menjadi rumah sepasang suami-istri, yaitu Sukardi dan Puhana. Sukardi beragama Islam kejawen dan ada beberapa orang sebagai pengikut ajarannya.  Bahkan keberadaan Sukardi pernah menjadi sorotan negatif oleh beberapa kalangan muslim di Pasongsongan karena agama yang dianutnya berbeda paham dengan Islam yang dianut masyarakat Pasongsongan umumnya. Perbedaan paham ini pula yang membuat Sukardi sering dipanggil oleh aparatur pemerintah Kecamatan Pasongsongan untuk tidak memperkeruh suasana masyarakat sekitarnya. Sukardi pun menyepakatinya demi sebuah kondisi masyarakat di Desa Panaongan dan sekitarnya.

Sosok Sukardi sangat mengidolakan presiden RI pertama Sukarno, Sang Proklamator. Sebagai bentuk kekagumannya, dia meletakkan beberapa lembar gambar presiden Sukarno di dinding gua.  Sebagian besar orang yang pernah bertamu ke Sukardi lantas menamakan gua tempat tinggal Sukardi itu dengan nama Gua Sukarno, karena gua ini tidak mempunyai nama sebelumnya.

Sepasang suami-istri itu sekarang sudah meninggal dunia. Sedangkan gua yang didiaminya beberapa tahun itu dibiarkan terbengkalai  sekian lama, sampai pada akhirnya datang Hairul Anwar sebagai penggagas ide besar untuk gua ini. Gua Sukarno lewat idenya sekarang disulap menjadi lebih cantik dan unik dengan tidak meninggalkan kesan artistik dan natural. Kesan yang sungguh menakjubkan sebagai sebuah gua.

Jalan masuk ke Gua Sukarno tidak terlalu lebar. Setelah jalan agak turun beberapa langkah kemudian akan terlihat pemandangan dinding gua yang mempesona dengan stalaktit dan stalagmit. Hawa di dalam gua sangat sejuk dengan sirkulasi udara yang cukup dan tidak pengap. Karena di ruang pertama ini ada lubang di atasnya sehingga cahaya matahari menerangi ke sebagian ruang gua. Di sisi timur ada patung kelelawar besar pas di tengah aula ada onggokan batu dengan hiasan pagar terbuat dari batu. Konon patung kelelawar dan hiasan batu di tengah gua itu Sukardi yang membuatnya.

Berjalan ke samping kiri kita akan meniti jembatan yang di bawahnya ada penampungan air. Air tersebut berasal dari atas gua, menetes tanpa henti. Sampan kecil di bawah jembatan juga telah disiapkan untuk bisa dinaiki oleh pengunjung.

Di ruang kedua sudah ada kursi-kursi cantik berbahan kayu jati. Di situ juga ada cafeteria tempat memanjakan wisatawan dalam menikmati keelokan Gua Sukarno. Di ruangan ini juga ada lubang menganga di atasnya. Hanya di ruangan ini lubang di atas gua yang paling lebar. Sinar matahari menerobos bebas di ruangan ini. Luar biasa mempesona, sungguh menakjubkan bagi mata siapa saja yang melihatnya.

Di areal kedua ini ada sumur yang dalamnya sekitar 41 meter dari dasar gua yang sengaja ditutup untuk menanggulangi kotoran agar tidak masuk ke sumur. Sumur ini ditutup atasnya saja tetapi airnya yang alami tetap dimanfaatkan sebagai air minum.  Menurut keterangan Ceng Rasidi, sumur itu dibuat sendiri oleh Sukardi karena ia sangat membutuhkan air sebagai keperluan memasak dan mandi.  Belakangan ini ada seorang ahli geologi yang menyatakan  bahwa air di sumur itu kandungan mineralnya sangat tinggi, terang Ceng Rasidi bersemangat. Wajar saja karena sumur ini tidak tercemar. Dan sumur tersebut tidak pernah habis kendati musim kemarau panjang.

Di areal ini juga tersedia tempat untuk berselvi (swa foto), mengabadikan diri menggunakan kamera digital atau kamera telepon. Tempatnya sangat bagus dengan pintu kayu jati. Di situ juga ada ruangan dengan pernak-pernik yang terkesan glamour. Membebaskan pengunjung untuk mendapatkan memori kalau dirinya sudah ke Gua Sukarno.

Kemudian penulis melewati lorong yang di dindingnya ada lukisan presiden RI pertama dan kereta kuda. Naik ke atas undakan masih ada aula yang lebih luas lagi. Di areal ini juga ada lubang gua tidak terlalu lebar.  Dan hawa yang sejuk terasa di sekujur tubuh, sungguh menentramkan. Di ujung barat daya ternyata ada pintu keluar lebih lebar ketimbang pintu yang pertama ketika penulis masuk. Di ruang ini juga terdapat kamar tempat peristirahatan Sukardi beserta anak-istrinya. Kamar tidur tersebut naik ke atas melewati undakan batu. Luas kamar berukuran 3×4 meter. Barangkali memang sengaja Sukardi meninggikan kamarnya agar dia terbebas dari bahaya ular atau semacamnya.

Seperti dilansir dari beberpa berita online, Hairul Anwar  sebagai investor Gua Sukarno menyatakan, bahwa kedepannya di areal ini akan dibangun perpustakaan. Tujuannya adalah sebagai sarana/media edukasi (sarana pembelajaran) bagi pengunjung, baik dewasa maupun anak-anak.

Hairul Anwar  juga sangat care bagi kemajuan sumber daya manusia. Intinya selain berlibur kita bisa menyempatkan diri  untuk belajar banyak hal terutama tentang alam ini.Tuhan telah memberikan alam ini kepada kita, sepantasnya kalau kita merawat dan menjaganya, tandasnya setengah berfilsafat.

Hairul Anwar asli putra Desa Panaongan juga mempunyai harapan besar kalau keberadaan Gua Sukarno akan menyajikan manfaat bagi warga Pasongsongan dan sekitarnya. Bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat lebih baik. Sebuah kesejahteraan hidup dalam meretas jurang pemisah yang kaya dan yang miskin, itulah impian Hairul Anwar ke depannya.Yaitu dengan membangun kios makanan dan cindera mata sehingga perekonomian mereka sedikit lebih baik dan lebih sejahtera lagi kedepannya.

Areal kios makanan, minuman, souvenir, toilet, musalla, parkir, dan lain-lain ada di luar gua. Sedangkan di dalam gua hanya menyediakan minuman spesial dengan harga terjangkau.

Memang tak berlebihan kiranya kalau semua pengunjung gua akan berdecak kagum melihat hasil kreatifitas seniman-seniman Madura yang dituangkan lewat karya artistik, totalitas maha karya yang sungguh menakjubkan. Kita akan terperangah dibuatnya. Lampu wana-warni semakin menambah daya magis namun tidak menyeramkan. Kebersihan di setiap ruang gua begitu terjaga karena pengunjung tidak diperkenankan untuk membuang sampah sembarangan.

Pos terkait