Gua Sukarno Tempat “Riyadhoh” Orang Terkemuka

  • Whatsapp
Penulis: Yant Kaiy

Antara Mitos dan Situs

Objek wisata Gua Sukarno telah banyak menyedot perhatian masyarakat ramai dari segala penjuru negeri ini. Beragam tulisan pun menghiasi hingar-bingar kehadirannya dibanyak media massa.  Beberapa pengamat wisata juga turut memaknainya dari perspektif yang beraneka-macam. Para tokoh sejarah dan tokoh masyarakat tidak terkecuali juga terlibat adu argumen dan opini untuk mendekat pada sisi historis yang melingkupi Gua Sukarno. Sesungguhnya hakikat semua itu semakin menambah khasanah pengetahuan pada manusia itu sendiri. Fase selanjutnya kita implementasikan analisis itu sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebab kita mengkaji tentang hasil ciptaan-Nya yang sangat eksotis dan tiada bandingnya.

Baca Juga

Berbagai analisis yang dikemukan tentu memiliki pijakan yang berbasis dari beragam penemuan dan cerita/folklor para tokoh  adat sepuh setempat. Memang kadang ada tendensi ego demi mengembangkan folklor sebagai manifestasi kebanggaan  tak terukur yang tak jarang kebablasan dan bersifat bombastis. Nuansa bombastis inilah yang menyebabkan ketidaknyamanan dari beberapa kalangan. Dan hal ini justru akan mendiskreditkan keagungan Gua Sukarno di mata publik. Memang kita tidak hidup di jaman mereka. Kita sebagai manusia yang lemah; baik sebagai pengamat atau pemerhati tidak bisa menjustifikasi segala sesuatu berdasarkan power nalar semata. Sebab power nalar tidak berbanding lurus dengan power metafisika. Maka tugas pengamat atau pemerhati harus bisa memfilter faktor-faktor yang bisa melahirkan polemik yang berujung pada kegaduhan dari beberapa kalangan. Apalagi sampai melahirkan konflik atau gesekan-gesekan antar individu. Kehati-hatian inilah yang harus dijaga agar kita tidak sembarangan menggelindingkan opini ke tengah-tengah masyarakat awam. Kita tentu tidak ingin terjebak pada konfrontasi sejarah antar sesama yang berbeda sudut pandang. Sebab urgensi dari semua analisa tentu berbasis pada fakta di lapangan yang dikaitkan dengan beberapa cerita yang meliputinya. Dan kebenaran di atas muka bumi ini sangat relatif.  Bisa saja menurut kita benar saat ini, mungkin di suatu saat nanti akan menjadi salah dan terdengar lucu pada generasi yang akan datang. Oleh karena itu, manusia tidak bisa memvonis segala sesuatu, bahwa dirinyalah yang paling benar dan paling baik. Kecuali ketetapan dari Sang Pencipta yang tidak akan bergeser sampai hari kiamat. Sungguh ironis memang, tetapi begitulah manusia yang tidak bisa lepas dari khilaf, lemah, dan dosa.

Publik sudah banyak tahu kalau kebenaran di alam fana ini nisbi adanya, begitu kalimat bijak yang sering mengalun dari kaum cendekiawan, akan tetapi mereka yang tergolong kolot akan menyimpulkan segala sesuatunya berdasarkan daya nalar yang kerdil. Padahal mereka juga sering mendengar slogan, kalau hakikat kebenaran yang sejati hanya terletak pada Allah SWT. Maka sepatutnya kita harus menetralisir semua itu demi terciptanya iklim kebersamaan sebagai anak bangsa.

Saling menyudutkan dalam melontarkan analisis dari berbagai kalangan adalah sebuah sikap yang kurang bijak rasanya. Karena kita mafhum, bahwa di atas langit masih ada langit. Sejatinya kita menghormati dari beragam argumen itu sebagai ilmu yang tak ternilai harganya. Karena bagaimanapun juga, eksistensi Gua Sukarno tetaplah gua yang penuh magnet bagi siapa saja yang ingin menikmati maha karya dari Sang Khalik.

Kendati demikian, opini dan argumen dari banyak pemerhati sejarah yang sudah menatalkan narasi ke ranah publik, semestinya bisa menggiring pada pendekatan histori. Endingnya, pemufakatan berjamaah pada background riset yang telah dilaksanakannya. Wujud dari semua itu bukanlah akhir dari episode penelitian yang selama ini telah banyak kalangan lakukan. Suatu saat nanti akan lahir juga neo-opini yang mungkin lebih bernas, lebih tajam, dan lebih berbobot. Semua tidak menutup kemungkinan.

Dari sekian banyak opini yang berkembang di tengah-tengah publik, kali ini kita akan meminimalisasi analisis dari dua sudut pandang saja. Kalau kita cermati, sesungguhnya Gua Sukarno mempunyai dua sisi interpretasi yang tidak terpisahkan antara mitos dan situs. Sebagai mitos, Gua Sukarno menyimpan banyak arti tentang kisah masa lampau perihal keberadaannya yang baru mengorbit belakangan ini. Kisah-kisah klasik pun tidak bisa dibendung lagi seiring sudah banyak orang mengunjunginya. Bagai bola batu yang menggelinding dari ketinggian puncak gunung. Kemudian publik pun mengemas cerita itu sedemikian rupa agar orang lain percaya terhadap folklor yang dihadirkannya. Selanjutnya folklor tersebut dicross-check dengan realitas di lapangan.

Sebagai situs, Gua Sukarno memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Panaongan dan Pasongsongan, karena gua ini ternyata mempunyai korelasi dengan seorang tokoh ulama besar, yakni Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Dia adalah sosok penting bagi lahirnya sejarah Desa Pasongsongan. Sosok penyebar agama Islam di Pasongsongan ini telah membawa masyarakat di daerahnya menjadi umat yang madani, yaitu suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya.

Menurut Agus Sugianto yang beberapakali ke Gua Sukarno ketika Sukardi masih hidup, dirinya sangat meyakini kalau Gua Sukarno adalah tempat Syekh Ali Akbar menjalani riyadah atau banyak orang bilang bersemedi. Pernyataan itu dideskripsikan sendiri oleh Sukardi kepadanya tanpa tedeng aling-aling lagi di hadapan banyak orang. Bagi Sukardi tak ada urusan orang lain percaya atau tidak terhadap statemen dirinya. Juga baginya tidak ada keuntungan apapun dalam mengabarkan hal gaib pada orang lain. Sukardi menyampaikan pernyataan tersebut kepada Agus Sugianto ketika Sukardi sedang menerima rombongan tamu satu bus dari Jakarta. Sukardi sebagai sosok yang memiliki pandangan mata batin secara gamblang menyatakan jikalau Agus Sugianto sebagai orang yang tepat untuk mengetahui berita gaib yang didapatnya. Sebab trah Agus Sugianto berasal dari salah satu keturunan Syekh Ali Akbar dan hal itu benar adanya. Ia cukup terkejut demi mendengar ‘ramalan’ Sukardi tentang dirinya, dan ia sangat percaya kalau Sukardi memiliki pandangan mata batin sangat tajam.

Pada mulanya Agus Sugianto tidak menyanggah pernyataan Sukardi  kala itu. Sukardi dengan tanpa beban mengillustrasikan pertemuannya dengan Syekh Ali Akbar di alam gaib; tentang perkenalannya, tentang dialognya, sampai beberapa potongan cerita masa lampau yang mengiringi perjalanan hidup Syekh Ali Akbar. Beberapa item cerita gaib Sukardi yang tidak dipahaminya langsung ditanyakan waktu itu juga dengan Agus Sugianto. Setelah lewat perenungan yang mendalam dan banyak wawancara kepada para keturunan Syekh Ali Akbar, barulah Agus Sugianto mulai mempunyai kesimpulan, bahwa apa yang diriwayatkan Sukardi masuk akal dan sejalan dengan beberapa keterangan dari tokoh agama yang masih punya hubungan darah dengan Syekh Ali Akbar.

Lebih jauh Agus Sugianto (saat itu dirinya sudah berstatus guru yang mengajar di salah sebuah SDN di Pulau Masalembu) menggarisbawahi statemen Sukardi, bahwa akal tidak bisa disejajarkan dengan hal yang berbau metafisika. Bahwa seseorang yang berada di level syariat tentu tidak akan mampu menjangkau pada level makrifat. Anak SD tidak mungkin sanggup menyerap pelajaran siswa SMA. Sukardi seolah ingin menegaskan kembali, bahwa dialog antara dirinya dan Syekh Ali Akbar di alam gaib bukanlah narasi bualan semata. Hal itu adalah realitas dari sebuah perjalanan riyadah (hidup prihatin) selama dirinya berada di Gua Sukarno.

Pos terkait