GSC dalam Konteks Hukum Islam

  • Whatsapp

GSC dalam Konteks Hukum Fiqih

Bukhari dari segi Fiqihnya yang berkaitan dengan AKAD TRANSAKSI, MANAGEMENT, DAN PENGELOLAAN SERTA ALOKASI DANA nya, yang Insya Allah akan Saya jelaskan nanti. Dan setelah itu silahkan Anda Nilai sendiri dan Putuskan. GSC masuk kategori Hukum yang mana.. TENTUNYA harus BERDASARKAN dengan HUJJAH secara FIQIH dan SYARI’AT AGAMA.

Bacaan Lainnya

Dan apa yang nanti saya uraikan bisa jadi “bukan menjadi tolok ukur pembenaran mutlak” dan atau “merasa paling benar” Karena dalam Fiqih tentunya Saya tidak Menafikan adanya Perbedaan Pendapat (KHILAFIYAH)
Mohon di simak sampai selesai dengan tujuan agar Khilafiyah menjadi Rahmah bukan menjadi Fitnah.

Selanjutnya.. yang perlu di ketahui dalam urusan Muamalah Bisnis, demi mendapatkan Suatu Hasil / Keuntungan sebagaimana yang terdapat dalam FIQIH MUAMALAH, bukan hanya TIJAROH/BERDAGANG= JUAL BELI saja, akan tetapi didalamnya juga ada: MUSYAROKAH= KERJASAMA, MUDHOROBAH= BAGI HASIL, QIRODH= HUTANG PIUTANG, MUWAKKALAH, DLL..
Adapun MUAMALAH2 di atas pada Pokok dan Asalnya dalam pandangan Agama adalah Suatu Perkara yang di perbolehkan, sehingga ada Dalil yang Jelas dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits, Ijma’ ‘Ulama dan Qiyas yang menyatakan dan menjelaskan akan Keharamannya. Berdasarkan Hadits Nabi dan Qoidah Ushul Fiqih:
ما احل الله فهو حلال وما حرم الله فهو حرام وما سكت عنه فهو مما عفو
Apa yang Allah telah jelaskan Halal maka Ia Halal dan apa yang Allah telah jelaskan Haram maka Ia Haram dan apa2 yang Allah tidak jelaskan maka merupakan PengampunanNya.

الأصل فى الأشياء الاباحة الا أن يدل دليل على تحريمها.
Asal/Pokok dari suatu perkara adalah boleh, sampai ada Dalil yang Mengharamkannya.

Karena Ketika dalam Al-Qur’an tidak di Jelaskan secara spesifik/rinci Kehalalan dan Keharamannya, Perintah dan Larangannya. Contoh seperti pada Ayat:

واحل الله البيع وحرمالربا
Allah telah menghalalkan Jual beli dan mengharamkan Riba.

Pada Ayat tersebut tidak di jelaskan secara spesifik Jual beli yang Halal, dan Haramnya Riba itu seperti apa?..
Maka ini di perlukan pula tinjauan dari dasar hukum yang lainnya diantaranya adalah QOIDAH USHUL FIQIH yang berkaitan dengan MUAMALAH tersebut (jual beli & riba) Karena JUAL BELI pun ada yang bisa menjadi Haram dan Riba, Jika di tinjau dari FIQIH MUAMALAH nya, seperti Jual Beli dengan barang yang sejenis yangت masuk kategori barang Ribawi yaitu: Mas, Perak, Makanan Pokok. dengan kadar/ukuran yang berbeda atau Jual beli dengan Sistem Hutang Piutang/Kredit yang mengambil biaya tambahan jika ada keterlambatan dari waktu yang di tentukan. Atau pula Jual Beli dengan adanya satu transaksi dengan dua Aqad seperti contoh: Saya jual ini barang jika cash dengan harga 10rb, dan jika kredit/hutang dengan harga 20rb.
Begitupula sebaliknya Tentang RIBA, Yang umumnya sebagian Orang berpendapat jika si pemberi hutang mendapat lebih/tambahan dari pokok yang di hutangi, maka itu pasti Riba. Padahal belum tentu.. dan itu bisa menjadi Halal jika “Tidak ada akad/perjanjian di awal” untuk mendapatkan lebih/tambahan dari pokok hutang.
Dan Disinilah QOIDAH USHUL FIQIH berlaku:
(الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما)
Hukum itu berputar beserta ‘Illatnya dari sisi wujudnya maupun ketiadaanya.

Bagaimana dengan GSC?..

Sebagaimana yang telah saya uraikan di atas tentang hukum MUAMALAH, GSC jika di tinjau dari FIQIH MUAMALAH, maka masuk kepada kategori MUSYAROKAH atau MUDHOROBAH yaitu Kerjasama Bisnis Investasi (Berbasis Online) dengan sistem bagi hasil dari sebuah BISNIS yang REAL yaitu ada pada Trading/Perdagangan/Jual Beli Forex dll.. yang di kelola Secara termenej dan tersistem dengan AKAD yang di sepakati bahwa, Investor/Pemodal berMUWAKALAH / Mewakilkan Dananya untuk di kelola oleh manajemen GSC yang dalam hal ini sebagai penerima AKAD MUWAKKALAH adalah CEO GSC Bpk Rezky Steanley (Sebagaimana komunikasi Saya dengan Beliau pada awal pertama Join GSC) Dengan sistem bagi hasil Keuntungan FIX 16% perbulan SEKALIPUN Keuntungan dari hasil Pengelolaan dana bisa mencapai 30-60% perbulan atau lebih, DENGAN TUJUAN bilamana terjadi Risiko Kerugian atau Risiko lainnya dalam Trading/Perdagangan, INVESTOR tetap mendapatkan Hak Keuntungan 16% perbulan yang di keluarkan dari Keuntungan2 Sebelumnya, yang di masukkan dalam Saldo Kas bersama yang di perlihatkan/di laporkan setiap seminggu sekali.
Ilustrasi atau contoh mudahnya MUSYAROKAH/MUDHOROBAH “GSC” seperti ini:
Anggaplah upama ada 10 Orang Investor dengan satu wadah pengelolaan/management untuk membangun suatu Bisnis/Usaha Waralaba dengan masing2 menginvestasikan Uang 10jt total 100jt dan dari hasil keuntungan yang telah terukur minimal Perhari 1jt dan maksimal 5jt dan mungkin bisa lebih. Dengan Akad kesepakatan semua Investor hanya menerima 50rb saja perhari, berarti Pengeluaran untuk bagi hasil hanya 500rb saja perhari, mau hasil keuntungan dari usaha minimal maupun maksimal, dan sisa Keuntungan tersebut masuk ke Kas bersama dengan tujuan bilamana terjadi Risiko dalam suatu hari tidak mendapat untung akibat sepi nya Konsumen atau Risiko lainnya, Investor tetap menerima masing² 50rb yang di ambil dari kas bersama. Dan jika Saldo kas terus bertumbuh maka dapat di gunakan untuk membuka cabang di tempat lain (memperluas bisnis/usaha) agar Bisnis semakin Berkembang dan Keuntungan Long Life.
Sistem dan Manajemen GSC tersebut bisa juga masuk Qoidah Ushul fiqh yang berdasarkan Hadits Nabi:
ولا ربح ما لم يضمن
Tidak ada Keuntungan tanpa menanggung Risiko Kerugian.
الخراج بالضمان
Hasil Keuntungan itu sebagai ganti dari Risiko yang di tanggung.

Selaras dengan Qoidah tersebut, GSC menggunakan sistem dan manajemen di atas, untuk siap dengan Risiko, dan juga sudah mempersiapkan Antisipasinya. Karena Pokok dasar dalam Muamalah Bisnis adalah mengharapkan Keuntungan yang stabil dan meminimalisir Risiko.

Dan juga Perlu di Perhatikan bahwa, di awal maupun di akhir GSC tidak ada Aqad dengan pola dan sistem HUTANG PIUTANG atau SIMPAN PINJAM dan Pengelolaan Dananya pun bukan bergerak di bidang BISNIS HUTANG PIUTANG dan SIMPAN PINJAM sebagaimana sebagian dari Lembaga Keuangan pada umumnya yang mengakibatkan terjadinya Transaksi Ribawi.
Dan juga GSC bukan suatu sistem yang mengakibatkan terjadinya GHARAR= TIPU MENIPU dan MAYSIR= UNSUR PERJUDIAN/UNTUNG2AN seperti SKEMA PONZI atau MONEY GAME. Sehingga terjadinya AKAD BATHIL.
Karena GSC. Alokasi dana Sangat Jelas ada pada Trading/Perdagangan dengan MANAGEMENT Keuangan dan RISIKO yang telah Terukur.

Jika Suatu Bisnis Sudah sesuai dengan SYARI’AT AGAMA dan QOIDAH2 USHUL FIQIH maka Sudah tidak di perlukan lagi yang namanya LABEL/LEGALITAS dari MUI. Ibarat sebuah Toko yang memperjualbelikan produk Halal dengan Akad transaksi sesuai standar Syari’at dan Fiqih, Apakah Toko tersebut harus memiliki juga Label/Legalitas dari MUI? Jawabannya, Tidak Perlu. Karena Umumnya Label/Legalitas MUI hanya di peruntukkan bagi Bisnis/Usaha yang terindikasi di Ragukan Kehalalannya, Seperti Restoran Upamanya.

Dalam istilah memahami suatu LABEL kita juga harus cermat dan bijak dalam menilai jangan sampai terjadi salah memilih dan menilai (ibaratnya) antara: MINYAK KELAPA CAP BABI atau MINYAK BABI CAP KELAPA.

MOHON KOREKSI JIKA ADA SALAH..
MOHON DENGAN HUJJAH JIKA MENYANGGAH..

وبالله التوفيق.
والله اعلم بالصواب..

Pos terkait