Dampak Pandemi Covid- 19 pada Dunia Pendidikan

  • Whatsapp
Oleh:Shania Puspa Dewi

Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) mengeluarkann SE (Surat Edaran) tertanggal 24 Maret 2020 yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat penyebaran corona virus disease (Covid-19). Kebijakan “Belajar dari Rumah” ini solusi dari Kemendikbud untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. Namun kebijaakan ini kurang bahkan tidak efektif untuk proses belajar mengajar terhadap siswa dan guru maupun mahasiswa dan dosen. Proses belajar mengajar secara daring tidak difasilitasi dengan baik dari sekolah maupun perguruan tinggi. Masih banyak kendala – kendala yang harus dihadapi oleh para siswa dan mahasiswa.

Padahal proses pembelajaran di sekolah merupakan alat kebijakan publik sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan skill. Namun pembelajaran tatap muka harus dihentikan karena pandemi yang sedang merebak saat ini.

Baca Juga

Situasi Indonesia dengan negara-negara lain di belahan dunia harus segera diatasi secepatnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dipimpin oleh Menteri Nadiem Makarim, membuat kebijakan untuk pembelajaran daring. Sekolah maupun Perguruan tinggi perlu memaksakan diri menggunakan media daring. Namun penggunaan teknologi pasti ada masalah yang harus dialami siswa maupun mahasiswa, banyak jenis masalah yang menghambat terlaksananya efektivitas pembelajaran dengan metode daring diantaranya adalah:

1. Keterbatasan Penguasaan Teknologi

Teknologi bukanlah hal yang tabu lagi pada masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat menguasai fasilitas yang telah diberikan oleh teknologi pada abad ke 20 ini. Masih banyak orang yang masih gagap teknologi, tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi pada guru ataupun dosen kita yang sudah tidak muda lagi. Hal ini, mengurangi keefektivitasan saat pembelajaran daring.

2. Penyediaan Anggaran yang Kurang

Pada zaman sekarang hampir rata rata orang memiliki smartphone, tetapi tidak semua orang yang mampu membeli kuota internet yang lebih banyak dari biasanya untuk fasilitas proses belajar mengajar. Apalagi pada masa pandemi seperti sekaraang perekonomian orang tua siswa/mahasiswa tidak semua lancar.

3. Akses Internet yang terbatas

Jaringan internet masih belum merata di pelosok negeri. Jika ada pun jaringan internet kondisinya masih belum mampu mengcover media daring. Terkadang ada siswa/mahasiswa harus ke dataran tinggi agar mendapat jaringan internet.

4. Kerugian Siswa/ Mahasiswa pada Proses Penilaian

Ada beberapa kerugian mendasar bagi siswa/mahasiswa ketika terjadi penutupan sekolah ataupun kampus. Contohnya saja target-target skill maupun keahlian tertentu yang semestinya harus dikuasai oleh semua siswa ataupun mahasiswa, jadi terkendala pada pembelajaran daring. Kasus lain untuk mahasiswa di perguruan tinggi, adalah pelaksanaan ujian secara daring. Penilaian bagi mahasiswa bisa saja memiliki kesalahan pengukuran, tidak seperti pengukuran seperti biasa dilakukan.

Pos terkait