Berobat Kepada Nabi Muhammad

  • Whatsapp
Penulis: Khalil bin Malwi Ketua Paguyuban PESAN (Pecinta Shalawat Nariyah) Yogyakarta
Oleh Khalil bin Malwi

Sebisa mungkin teruslah berpikir positif, sebab sumbahsihnya terhadap imunitas tubuh hampir menempati posisi paling urgent. Tidak hanya berguna bagi kesehatan, dan tidak juga berlatar artifisial seperti halnya obat-obatan, pikiran yang positif merupakan stimulus alami yang sedemikian berdaya guna bagi ketahanan tubuh agar tetap kebal dari penyakit, termasuk dari serangan virus.

Sehingga, tidaklah mengherankan jika ternyata (maaf) orang gila jarang mengalami sakit atau terserang penyakit, bahkan virus pun enggan menjangkit. Salah satunya karena pikiran orang gila, tidak dihantui oleh hal-hal yang negatif sekalipun perilakunya, bagi orang yang waras, tak memberikan dampak positif.

Baca Juga

Bahkan, terkadang dijumpai jika ada orang gila yang sebetulnya “berpangkat” wali. Boleh jadi karena, selain memang terbebas dari taklif atau kewajiban-kewajiban ukhrawi juga karena hati sekaligus pikiran orang gila cenderung lebih bersih dari hal-hal negatif dan kotoran-kotoran duniawi. Pun, mata batin orang gila terkadang lebih tajam dari mereka yang waras.

Sebaliknya, terlalu sering berpikiran negatif yang tak jarang dapat memicu stres akan dengan mudah mendatangkan penyakit. Sebagaimana diungkap oleh Ibnu Sina, seorang filosof muslim dan juga sebagai dokter terkenal (hidup tahun 980 sampai 1037 Masehi) yang karangan kitab-kitabnya di bidang pengobatan menjadi inspirasi sekaligus pengantar bagi kemajuan orang-orang Eropa di bidang ilmu kedokteran, bahwa menurutnya terdapat keterkaitan antara kesehatan mental dan fisik. Pikiran yang negatif, menurut Ibnu Sina, dapat menyebabkan penyakit.

Karenanya, menjaga wajah untuk tetap tersenyum dengan maksud meniru pribadi Nabi Muhammad yang berjuluk “al-bassâm” sebagai tanda bahwa hati beliau terus-menerus berpikir positif, selain berbuah pahala juga berguna bagi kesehatan jiwa dan raga

Sehingga, dalam aspek ittibâ’ atau meneladani lelaku hidup Nabi Muhammad, orang-orang yang sedemikian sungguh meneladani wajahnya akan tampak berseri-seri. Aura wajahnya, menyejukkan hati orang yang melihatnya.

Selanjutnya, benarkah Nabi Muhammad itu sebagai obat?

Di dalam salah satu redaksi sholawat, tercatat bahwasanya beliau memang sebagai obat. Pertama, thibb al-qulûb wa dawâihâ, yaitu dokternya hati dan obatnya. Kedua, wa ‘âfiyah al-abdâni wa syifâihâ, yaitu memberikan kesehatan badan dan mengobatinya. Ketiga, wa nûr al-abshâr wa dliyâihâ, yaitu menjadi cahaya mata hati dan sinarnya.

Sholawat yang akrab dengan sebutan Tibbil Qulub di atas, menyebut Nabi Muhammad sebagai dokternya hati dan obatnya di urutan yang pertama. Padanya cukup memberikan pemahaman bahwa yang paling efisien dalam mensterilkan hidup seseorang adalah dengan betul-betul menjaga kualitas hati, begitupun pikiran.

Dalam tubuh manusia, terdapat stem cell yang berfungsi sebagai sistem perbaikan guna mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak. Stem cell, atau yang biasa disebut sel induk, akan menginduksi hingga kemudian sel yang menjadi sasaran dari induknya tersebut teraktifasi, yakni aktif kembali. Sehingga, penyakit berikut rasa sakit yang diderita seorang pasien ketika mendapat suntikan berupa stem cell, akan menjadi sembuh lalu hilang rasa sakitnya.

Namun sayangnya, keberadaan dari stem cell begitu “rahasia”, serta “tidak mudah”, dan untuk dilakukannya proses tranplantasi dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Nah, dengan mengutip pendapat seorang dokter Raja Arab, seorang dokter perempuan jebolan Universitas Gajah Mada Yogyakarta bernama Aisyah Dahlan mengungkap bahwasanya stem cell atau sel induk itu adalah Nur Muhammad. Karena itu, menurut Aisyah Dahlan, Islam yang telah memerintahkan penganutnya untuk membaca sholawat sebenarnya tidak hanya menjanjikan pahala dan syafaat baik di dunia lebih-lebih di akhirat, melainkan juga akan bermanfaat pada kestabilan dan kesehatan tubuh pembacanya.

Dan, oleh karena sedemikian rahasia posisi stem cell sehingga dibutuhkan berulang-ulang dalam membacanya. Sehingga, bilamana sholawat yang dibaca kemudian berhasil menangkap lalu mengakses stem cell yang tak lain adalah Nur Muhammad, betapa akan sangat terasa manfaatnya.

Itulah sebabnya orang yang memang sedemikian intim hubungan ruhaninya dengan Nabi Muhammad hidupnya cenderung selalu sehat. Semakin berusia tua, semakin ia memahami dunia. Tidak gampang pikun sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan orang ketika sudah sangat tua.

Pos terkait