Beragama Secara Hakikat, Benarkah?

  • Whatsapp
Penulis: Khalil bin Malwi Ketua Paguyuban PESAN (Pecinta Shalawat Nariyah) Yogyakarta

Oleh: Khalil bin Malwi
ketua paguyuban PESAN (Pecinta Shalawat Nariyah) Yogyakarta

Andai kalimat pertanyaannya dibalik menjadi “hakikat beragama”, sepertinya akan lebih mengena dan maksudnya akan mudah dinalar. Jika tidak, maksud yang tersirat dari pertanyaan dalam judul di atas justru cenderung partikular lagi berkesan tendensius. Untuk tahu di mana letak perbedaannya, mari, akan saya bahas.

Baca Juga

Menjalankan agama atau beragama secara hakikat sebetulnya berpotensi membuat seseorang terjebak dan terbuai oleh khayalannya sendiri, sehingga akan menjadikannya gampang berhalusinasi menyangkut realitas hidup yang ia jalani. Begitupun, praktik beragama secara hakikat cenderung menyebabkan yang bersangkutan kehilangan eksistensinya dan terlempar dari realitas lingkungannya sendiri. Hal ini didasarkan karena entitas dari hakikat, atau sesuatu yang hakiki, pada dasarnya merupakan sebatas reaksi (gejala) batin tentang “sesuatu hal” yang dialami oleh seseorang, yang akan menjadi nyata dan berguna jika yang mengalaminya kemudian mau untuk “merealisasikan”.

Seseorang yang jatuh cinta misalnya, hakikatnya tengah merasakan “sesuatu hal” tersebab sebelumnya ia menerima pengaruh dari orang yang ia cintai. Sementara reaksi batin seperti yang ia alami, yang berarti berada dalam kondisi secara hakikat yang dalam hal ini berupa jatuh cinta, tidak akan berimplikasi apa-apa sampai ia mau menunjukkan dan membuktikannya dengan aksi nyata. Dengan mengutarakan perasaannya dan mengekspresikan dengan perilaku atau perbuatan yang berdampak terhadap kelangsungan cinta yang dirasakannya barulah ia dapat eksis di hadapan orang yang dicintainya sehingga kehadirannya pun menjadi diakui, tidak akan tersingkirkan.

Jika dikaitkan dengan hakikat beragama, berarti tidaklah cukup bagi seseorang ketika beragama hanya secara hakikat, melainkan yang lebih diwajibkan kepadanya adalah mau berkomitmen terhadap syariat. Karena, secara ontologis, seperti halnya bernegara yang perlu mentaati undang-undang maka perihal beragama juga demikian, yaitu mula-mula dan sekaligus selamanya agama mewajibkan penganutnya untuk mematuhi berbagai aturan yang sudah disyariatkan.

Selain itu, juga tidak jarang dijumpai dari sebagian orang yang mengaku telah beragama secara hakikat justru bersikap over dikotomis. Mereka menganggap berbeda dengan orang yang, menurut mereka, beragama hanya secara syariat. Bahkan mereka juga menganggap bahwa level keberagamaan mereka berada di atas keberagaamaan orang syariat. Agaknya hal semacam ini cenderung disebabkan oleh pretensi mereka sendiri yang merasa lebih mampu menemukan “yang sebenarnya” di dalam agama.

Kalau kembali mengingat sejarah bagaimana Nabi Saw menyampaikan risalahnya, khususnya pada periode Madinah, di dalamnya ditemukan bahwa yang paling ditekankan oleh beliau adalah terciptanya agama yang sifatnya impersonal, yang dengannya interaksi lahiriah antarmanusia kemudian menjadi tertata dan harmonis. Tentu saja tidak berarti mengabaikan spirit keilahian. Tidak. Perlu diketahui, bahwasanya Nabi Saw, yang juga berperan sebagai politisi (baca: History of the Arabs karya Philip K. Hitti), dalam menghadapi realitas kehidupannya adalah selalu berlandaskan pada jiwa spiritualnya yang luar biasa intens.

Artinya, yang dikehendaki oleh agama tak lain adalah dengan menyatukan antara motivasi syariat dan spirit hakikat. Akan terasa hampa keberagamaan seseorang berikut penghambaannya, ketika yang menjadi orientasi beragamanya adalah hanya terfokus pada formalitas-formalitas belaka. Begitupun, akan sulit diverifikasi ketika seseorang hanya memfokuskan orientasi pada kondisi batin saja sehingga mengabaikan yang sifatnya lahiriah di dalam menjalankan agama.

Untuk itu, agar tidak terkesan over dalam merespons teks-teks keagamaan, di mana hal tersebut cenderung mengakibatkan—meminjam istilah Prof. Dr. Abdul Mustaqim yang disampaikannya dalam Pidato Pengukuhan Guru besar-nya dengan judul “Argumentasi Keniscayaan Tafsir Maqashidi Sebagai Basis Moderasi Islam” di bidang Ulumul Qur’an di UIN Sunan Kalijaga—penyembahan terhadap teks, dan juga agar tidak terkesan abai sehingga memicu terjadinya desakralisasi terhadap teks-teks keagamaan, maka hendaknya seseorang beragama dengan utuh dan menyeluruh. Tidak secara syariat saja atau secara hakikat saja, melainkan menyatukan keduanya. Yaitu dengan selalu memperhatikan dimensi eksoterisitas dan juga dimensi esoterisitas di dalam menjalankan agama; menjadi hamba Allah Ta’ala. Siapa yang mampu mengaktualisasikan keduanya, ialah seorang yang benar-benar paham terhadap hakikat beragama.

Pos terkait