JAKARTA – Peringatan peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 menjadi momentum penting bagi umat untuk merefleksikan kembali makna perjalanan hidup. Wakil Ketua Umum MUI yang juga Ketua PP Muhammadiyah, KH Anwar Abbas, memaparkan bahwa peristiwa ini mengandung pesan mendalam tentang dua dimensi perjalanan manusia: horizontal dan vertikal.
Dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026), Anwar Abbas menjelaskan bahwa Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi’raj (naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha) adalah simbol keseimbangan yang harus dijaga oleh setiap individu dalam kehidupan modern saat ini.
Dimensi Horizontal: Urusan Keduniaan Perjalanan horizontal dimaknai sebagai aktivitas duniawi manusia. KH Anwar Abbas menekankan bahwa setiap orang wajib bekerja dan berusaha dalam mengurus kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun politik. Namun, ia mengingatkan agar perjalanan duniawi ini tidak dilakukan tanpa arah.
Dimensi Vertikal: Mengoneksikan Diri dengan Tuhan Di sisi lain, dimensi Mi’raj menuntut manusia untuk selalu mengaitkan setiap langkahnya dengan Yang Maha Kuasa.
"Dalam bidang apa pun, termasuk ekonomi dan politik, kita harus 'mi’raj' atau mengomunikasikannya dengan Tuhan. Kita harus berusaha membuat semua yang kita kerjakan tidak bertentangan dengan kehendak-Nya," ujar KH Anwar Abbas.
Salat Sebagai Benteng Moral dari Perbuatan Keji Salah satu inti dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah salat lima waktu. Menurut KH Anwar Abbas, salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan instrumen untuk menjaga hubungan permanen dengan Allah SWT di tengah kesibukan duniawi.
Mengutip Surah Al-Ankabut Ayat 45, ia menegaskan bahwa salat berfungsi sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar. Jika seseorang masih melakukan perbuatan terlarang, seperti korupsi atau mencuri, hal itu menjadi indikasi bahwa iman dalam dirinya sedang menurun (yanqush).
"Bila ada orang yang korupsi, maka iman mereka telah terbang dari dalam dirinya. Inilah hikmah salat lima waktu; agar kita tidak jatuh ke dalam hal-hal yang tidak disukai-Nya," tambahnya.
Dicintai Penduduk Langit dan Bumi Sebagai penutup, KH Anwar Abbas berpesan bahwa jika manusia mampu menjaga keseimbangan antara hubungan vertikal (Tuhan) dan horizontal (sesama manusia), maka ia akan memperoleh keberkahan ganda. Manusia tersebut tidak hanya akan dicintai oleh Allah SWT di langit, tetapi juga akan mendapatkan cinta serta kehormatan dari sesama manusia dan makhluk lain di bumi.
Peringatan Isra Mi’raj tahun ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat integritas moral dan spiritual dalam setiap sendi kehidupan.