Nestapa Penderitaan Petani Gula Akibat Mafia Gula di Republik Indonesia



NUSANEWS, JAKARTA - MASALAH besar pangan yang terkait dengan impor gula adalah masalah mandulnya Koordinasi Kemenko Perekonomian yang membawahi Kementan, Kemendag, Kemenprin, KemenBUMN dan Bulog sebagai rantai kebijakan ekonomi dan pangan nasional, dimana gula sudah dikuasai mafia impor gula dan mencapai lebih dari 70% dari kebutuhan gula nasional. Sisanya 30% dihasilkan pabrik gula didalam negeri dan ironisnya petani gula yg notabene adalah "kuli tebu miskin" juga diperas dan dikenakan PPN 10%.

Buat negara Indonesia yang perpenduduk hampir sama dengan Amerika Serikat 258 juta jiwa, gula adalah bahan pokok utama makanan rakyat yang masuk dalam sembako (sembilan bahan pokok). Gula tidak bisa dipisahkan dari kehidupan rakyat karena sebagai pasangan baik sebagai bumbu cita rasa (vetsin) dan juga penghilang dahaga yg diminum dari pagi sampai malam hari dalam segala jenis minuman.

Total pabrik gula di Indonesia ada 76 unit dari jumlah itu 50 unit pabrik gula kristal putih di pulau Jawa dengan 33 unit di Jatim milik BUMN berbasis tebu yang dikelola BUMN, 23 dari 45 PG (pabrik gula) PTPN III atau 51% mau ditutup oleh MenBUMN (hasil RUPS KemenBUMN) dengan pelbagai alasan klasik seperti untuk mensejahterakan petani tebu dan pabrik sudah tua, mutu rendah serta tidak efisien. Sisanya 12 unit pabrik gula dikelola swasta.
Padahal untuk membangun 1 unit pabrik gula diperlukan dana US$300-350,000,000 per unit yang sangat mahal dengan perkebunan tebu membutuhkan 5 tahun sampai berproduksi normal (rendemen mencapai 8-10% dari berat tebu), padahal yang dibutuhkan adalah revitalisasi peralatan pabriksaja dan intensifikasi tanah perkebunan tebu dengan pupuk bukan bangun pabrik baru.

Penutupan pabrik gula milik BUMN hanya akan menambah jumlah impor gula yang saat ini 70% dikuasai oleh mafia impor tebu yg dikenal sebagai “7 Samurai Importir Gula” plus 1 pendatang baru total ada 8 pengimpor gula pasir putih yg menguasai 72% pansa pasar di Indonesia. Dengan penutupan pabrik gula maka tidak mengherankan kalau jumlah import dan importir kuota gula akan meningkat menjadi 80-85% gula pasir putih.

Data dunia menempatkan Indonesia sebagai penghasil tebu sebanyak 33,7 juta ton dengan rendemen makmismal 10% didapat 3,37 juta ton air tebu dan melalui proses ke gula pasir hanya menhasilkan 36% gula pasir dari air tebu atau setara dengan 1,213 juta ton gula pasir dari seluruh unit pabrik gula yang ada saat ini.

Tingkat konsumsi perkapita tahun 2017 adalah sekitar 23Kg/tahun (rata-rata dunia komsumsi perkapita sekitar 20Kg/tahun, Amerika 67Kg/tahun) atau total konsumsi gula di Indonesia sekitar 4,93 juta ton gula/tahun pada tahun 2017 (gula industri dan gula konsumsi) dan konsumsi gula industri makanan minuman tahun 2017 akan mencapai 3,5 juta ton/tahun, sedangkan kapasitas produksi hanya mencapai 1,213 juta ton/tahun atau selisih kurang lebih 3,7 juta ton gula yang musti di impor dengan sistim kuota.

Dari 3,7 juta ton gula yang akan diimpor 70-80% dikuasai 7 Samurai Importir gula atau setara dengan 2,775 juta ton gula yang dikuasai importir kuota gula (coba bandingkan dengan produksi gula nasional yg mentok di 1,2 juta ton). Dari jumlah 1,2 juta ton gula kontribusi “petani kuli tebu” maksimal hanya 10% di Jawa atau sekitar 120,000 ton/tahun.

Bandingkan dengan kartel importir gula yang menguasai 2,775 juta ton/tahun gula impor (Petani Kuli 120 ribu ton/tahun vs 7 Samurai Importir 2,775 juta ton). Kita masih ingat saking manisnya kuota impor gula kekuasaanpun ikut didalam perbisnisan gula dan kita masih ingat Ketua DPD-RI yang juga pemegang bintang Maha Putra ditangkap OTT pada tanggal 16 September 2016 oleh KPK karena manisnya bisnis ini. Manisnya bisnis gula juga membuat DJP Kemenkeu ingin menikmati dengan mengenakan PPN 10% dan sangat ironis dikenakan kepada “petani yang tidak lain adalah kuli” dari rantai proses pedagangan gula produksi dalam negeri.

Sewaktu menjabat Menko Maritim, Rizal Ramli pernah mengungkapkan permainan culas “Quota Holder” dari tujuh samurai gula yang seharusnya oleh Menko Perekonomian saat ini harus diubah menjadi Sistim Tarif untuk menghindari permainan atau tindakan jahat disektor perdagangan ini. Karena dengan sistim kuota sebagai celah subur tumbuhnya kartel gula atau komodititas lainnya.

Misalnya pada saat harga gula per ton murah, rakyat Indonesia harus membayar dua kali lipat harga pasaran dunia. Apalagi dengan penutupan 23 pabrik gula atau 51% produksi nasional BUMN hanya akan menambah jumlah kuota impor gula (lihat data diatas) untuk memenuhi kekurangan pasok gula di DN. Tidak ada leverage atau kekuatan apa-apa dari pemerintah yg sudah menjual/memberi kuota impor gula kepada kartel ini.

Kecurigaan kuat akan bertambahnya jumlah impor gula timbul seperti dengan membuat kesepakatan dan mengatur harga gula, dan membatasi produksi dalam negeri dengan pelbagai alasan seperti pabrik sudah tua, pabrik berebut ladang tebu dan sebagainya. Apalagi kebijakan koordinasi antar kementerian oleh kantor Menko Perekonomian saat ini sangat lemah, padahal sistim kuota ini diciptaka oleh pemerintah untuk bbagi-bagi jatah impor gula dengan harapan harga gula akan mencapai disparitas harga dengan kekurangan gula didalam negeri.

Kebijakan yg tidak terkontrol oleh Kemenko Perekonomian menyebabkan Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) yg jumlahnya 1,4 juta petani kuli tebu nasional teranncam/sudah bangkrut massal akibat dari praktek mafia gula yang selama ini berkuasa mengatur jumlah impor gula yg terus meningkat tanpa terkontrol dari tahun ke tahun. [***] (rm) NUSANEWS.NET

BACA JUGA:

BAGAIMANA KOMENTAR ANDA?

loading...
Nama

Bisnis,1673,Daerah,946,Edukasi,66,Ekonomi,1058,Hukum,6634,Inspiratif,24,Investasi,29,Islami,73,IsNews,999,Jabodetabek,5769,Jurnalistik,1121,Keamanan,387,Mancanegara,2262,Mualaf,139,Nasional,1353,News,1769,Olahraga,222,Otomotif,12,Peristiwa,8474,Pilkada,741,Politik,14215,Ramadhan,17,Seleb,1027,Story,23,Suara Publik,288,Tekno,188,Tips,40,TOP,19,Unik,43,Video,877,Wow,26,
ltr
item
NUSANEWS: Nestapa Penderitaan Petani Gula Akibat Mafia Gula di Republik Indonesia
Nestapa Penderitaan Petani Gula Akibat Mafia Gula di Republik Indonesia
MASALAH besar pangan yang terkait dengan impor gula adalah masalah mandulnya Koordinasi Kemenko Perekonomian yang membawahi Kementan, Kemendag, Kemenprin, KemenBUMN dan Bulog sebagai rantai kebijakan ekonomi dan pangan nasional, dimana gula sudah dikuasai mafia impor gula dan mencapai lebih dari 70% dari kebutuhan gula nasional. Sisanya 30% dihasilkan pabrik gula didalam negeri dan ironisnya petani gula yg notabene adalah "kuli tebu miskin" juga diperas dan dikenakan PPN 10%.
https://4.bp.blogspot.com/-Qt5IJIXL2pc/WWwOBGn05qI/AAAAAAAABqM/Kj60-2wywy4QYfgaTFqVXY4c3MNwKw2CACLcBGAs/s640/342183_04014317072017_rusli.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-Qt5IJIXL2pc/WWwOBGn05qI/AAAAAAAABqM/Kj60-2wywy4QYfgaTFqVXY4c3MNwKw2CACLcBGAs/s72-c/342183_04014317072017_rusli.jpg
NUSANEWS
http://www.nusanews.net/2017/07/nestapa-penderitaan-petani-gula-akibat.html
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/2017/07/nestapa-penderitaan-petani-gula-akibat.html
true
5398521020948470106
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts TAMPILKAN SEMUA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Beranda Halaman Berita View All SARAn UNTUK ANDA KATEGORI ARSIP CARI BERITA ALL POSTS Berita yang Anda Cari Tidak Ditemukan! Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Baru Saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow KONTEN INI TERBATAS! Silahkan Bagikan Untuk Membuka atau Melihatnya Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy