Kata Jokowi: Saya Ndak Perlu Popularitas



NUSANEWS, JAKARTA - Hujan kritikan atas terbitnya Perppu Ormas dan pemblokiran telegram tidak membuat Presiden Jokowi keder. Sebaliknya, menurut eks ketum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Jokowi tetap santai, siap menerima resikonya, termasuk ikhlas jika tidak populer akibat kebijakannya ini.

Hal ini diutarakan Syafii Maarif usai bertemu Presiden di Istana, kemarin. Buya datang untuk berdiskusi ihwal permasalahan bangsa. Mulai dari urusan ekonomi hingga politik. Termasuk, soal pro kontra Perppu Ormas yang diterbitkan Jokowi, Selasa (12/7).

"Soal ini, kan orang banyak tanya, nanti popularitas Bapak gimana? Presiden (jawab), 'Saya ndak perlu popularitas, ini rakyat yang punya'. Saya bilang berani sekali, orang kurus begitu ternyata berani," ujar Buya.

Menurut Buya, Jokowi berani melangkah karena menyakini tindakannya ini bisa membuat masalah di negeri ini beres. Buya pun yakin, pro kontra soal ini meledak karena isunya digoreng sana sini.

"Orang bilang Perppu ini melawan umat Islam. Islam yang mana? Ini kan digoreng isu menuju 2019, dan Jokowi nggak peduli itu. Dia ndak punya beban, dan ndak korup, dan juga bukan pengusaha besar," lanjut Buya.

Perppu Ormas, memang tengah menjadi polemik. Bahkan, ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyebut Jokowi sudah bertingkah bak seorang diktator atas terbitnya Perppu Ormas. HTI, merupakan ormas yang hendak dibubarkan pemerintah karena dianggap tidak Pancasilais.

Tokoh Muhammadiyah, Amien Rais juga berkomentar bahwa kebijakan Jokowi ini salah langkah, bahkan condong mengarah kepada Islamphobi, alias ketakutan berlebihan terhadap Islam. "Saya menilai langkah Jokowi yang fatal," ujar Amien, di Masjid Raya Mujahidin Bandung, Rabu (13/7).

Selain soal Perppu Ormas yang bisa memerosotkan popularitas Jokowi, Buya juga menyampaikan saat ini suhu politik Tanah Air sedang tidak sehat dan kurang bermartabat. Termasuk, soal kunker Presiden Jokowi ke Jerman beberapa waktu yang turut membawa keluarga. Menurut Buya heboh kunker ini adalah penggorengan isu, dan ini tidak sehat.

"Politik kita yang kurang bermartabat ini jadi membungkam para petarung, bukan saja Presiden, tapi juga menteri-menteri, dirjen-dirjen harus mempertimbangkan," tuturnya.

Kepada Buya, Jokowi tidak melulu bercerita soal politik. Persoalan ekonomi bangsa juga menjadi perbincangan serius antara keduanya. Buya menyampaikan kepada Presiden, bahwa saat ini tengah terjadi ketimpangan ekonomi, dan perlu ditangani seepatnya.

"Persoalan pertama adalah ketimpangan ekonomi. Ini perlu cepat, pemerintah sudah bekerja tapi harus dipercepat. Sebab kalau tidak, ini timbul lagi nanti prahara sosial, Mei 1998. Itu kan hancur kita," kata Buya Syafii.

Politisi PDIP di DPR, Eva Kusuma Sundari menegaskan Perppu Ormas dan gonjang-ganjing politik Tanah Air tak berimplikasi terhadap popularitas Jokowi. Menurutnya, kinerja Presiden Jokowi bukanlah mengejar popularitas, melaikan kerja untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

"Jokowi sudah mengendarai badai berkali-kali sebelumnya dengan pembenahan kebijakan publik yang tidak populer. Misalnya, penataan subsidi BBM, dan yang barusan listrik. Kebijakan Jokowi bukan pencitraan tapi rasional untuk kesejahteraan. Faktanya kepuasan terhadap kinerja meningkat," ujar Eva, di Jakarta, kemarin.

Mengenai Perppu Ormas, Eva juga menghimbau, jangan lupa banyak riset yang menunjukkan Indonesia saat ini dalam kondisi darurat intoleran, alias anti Pancasila. Bisa jadi, dengan adanya Perppu ini justru menuai dukungan dari masyarakat.

"Jada, menurutku, elektabilitas Jokowi tidak akan tergerus. Malah sebaliknya, banyak pihak yang lega dengan keberanian dan ketegasan Presiden Joko Widodo untuk penegakkan Pancasila yang adalah dasar dari pada Negara ini (Indonesia)," pungkasnya.

Hingga kemarin, di linimasa, masih banyak yang mengkritisi Jokowi soal Perppu Ormas. "Perppu Ormas Bukti Rezim Jokowi Otoriter," cuit @mediaumatislam.

Meski begitu, pendukung Jokowi juga tidak kalah banyak. Para politisi hingga pengamat pro Jokowi sejak kemarin sudah berseliweran mendukung langkah Presiden Jokowi.

Kebijakan Pemerintahan Jokowi sudah tepat baik PERPPU Ormas & Blokir Aplikasi Telegram, agar tidak terjadi lagi Juara 2 Pengekspor "JIHADIS" cuit @ruhutsitompul. Ruhut merupakan tim sukses Ahok-Djarot pada Pilgub DKI lalu.

Dukungan juga diberikan Ketua DPR, Setya Novanto melalui akun Twitter miliknya, "Saya telah membahas Perppu Ormas dgn Presiden @jokowi Pada prinsipnya, saya sepakat bahwa Ormas tidak boleh bertentangan dengan Pancasila." cuit @sn_setyanovanto

Pengamat politik Boni Hargens juga menyampaikan dukungannya. "Alhamdulilah, Perppu Ormas sudah ditandatangani Bapak Presiden Jokowi. Artinya, ormas-ormas anti Pancasila segera dibubarkn. Tks PakDe @jokowi," cuit @bonihargens.

Untuk diketahui, hingga saat ini belum ada lembaga survei yang melaunching popularitas Jokowi pasca terbitnya Perppu Ormas. Terkahir, survei dimunculkan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Juni lalu. SMRC, mensurvei tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Jokowi.

Hasilnya, mayoritas responden mengaku puas terhadap kinerja Presiden Jokowi. Hasil survei SMRC menunjukkan persepsi masyarakat tentang kinerja Presiden Jokowi merasa puas sebesar 67 persen, sementara 58 persen merasa cukup puas, dan 9 persen merasa sangat puas. Sedangkan masyarakat yang kurang puas hanya 29 persen, tidak puas sama sekali 2 persen, dan tidak menjawab atau tidak tahu sebanyak 2 persen

"Persepsi masyarakat mengatakan 67 persen puas dengan kinerja Presiden. Ini kan lebih dari mayoritas, yang mengatakan kurang puas ada 31 persen, sebagian masyarakat kita menilai kinerja Presiden memuaskan," ujar Djayadi Hanan, peneliti SMRC, di Jalan Cisadane Nomor 8, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/6). Nah, apakah popularitas Jokowi nantinya akan merosot? Kita lihat saja. (rm) NUSANEWS.NET

BACA JUGA:

BAGAIMANA KOMENTAR ANDA?

loading...
Nama

Bisnis,1670,Daerah,945,Edukasi,66,Ekonomi,1058,Hukum,6631,Inspiratif,24,Investasi,29,Islami,73,IsNews,998,Jabodetabek,5767,Jurnalistik,1121,Keamanan,387,Mancanegara,2262,Mualaf,139,Nasional,1353,News,1769,Olahraga,222,Otomotif,12,Peristiwa,8473,Pilkada,741,Politik,14211,Ramadhan,17,Seleb,1027,Story,23,Suara Publik,288,Tekno,188,Tips,40,TOP,19,Unik,43,Video,877,Wow,26,
ltr
item
NUSANEWS: Kata Jokowi: Saya Ndak Perlu Popularitas
Kata Jokowi: Saya Ndak Perlu Popularitas
Hujan kritikan atas terbitnya Perppu Ormas dan pemblokiran telegram tidak membuat Presiden Jokowi keder. Sebaliknya, menurut eks ketum Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Jokowi tetap santai, siap menerima resikonya, termasuk ikhlas jika tidak populer akibat kebijakannya ini.
https://1.bp.blogspot.com/-k_EB7-n4AVw/WW4Bdz-dWdI/AAAAAAAAB3w/NKaguS9nU4cmKomSGooqA6Eb-jYOr9G3QCLcBGAs/s640/753164_09295918072017_Jokowi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-k_EB7-n4AVw/WW4Bdz-dWdI/AAAAAAAAB3w/NKaguS9nU4cmKomSGooqA6Eb-jYOr9G3QCLcBGAs/s72-c/753164_09295918072017_Jokowi.jpg
NUSANEWS
http://www.nusanews.net/2017/07/kata-jokowi-saya-ndak-perlu-popularitas.html
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/2017/07/kata-jokowi-saya-ndak-perlu-popularitas.html
true
5398521020948470106
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts TAMPILKAN SEMUA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Beranda Halaman Berita View All SARAn UNTUK ANDA KATEGORI ARSIP CARI BERITA ALL POSTS Berita yang Anda Cari Tidak Ditemukan! Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Baru Saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow KONTEN INI TERBATAS! Silahkan Bagikan Untuk Membuka atau Melihatnya Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy