Didakwa Kesaksian Palsu, Miryam Haryani Terancam 12 Tahun Penjara


NUSANEWS, JAKARTA - Terdakwa Miryam S Haryani terancam hukuman 12 tahun penjara setelah didakwa melakukan perbuatan berlanjut dalam memberikan keterangan palsu. Hal itu mengacu Pasal 22 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Hal tersebut terungkap saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan surat dakwaan Nomor 40/24/07/2017 atas nama mantan anggota Komisi II DPR dan Badan Anggaran (Banggar) 200-2014 yang kini anggota Komisi V dari Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani.

Dakwaan dibacakan Jaksa yang diketuai Kresno Anto Wibowo dengan anggota Ikhsan Fernandi Z, Luki Dwi Nugroho, dan Roy Riady di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Sebagai catatan, surat dakwaan atas nama Miryam hanya lima lembar. Jaksa hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Jaksa Kresno Anto Wibowo membeberkan perbuatan Miryam dilakukan kurun 23 Maret hingga 30 Maret 2017 bertempat di Pengadilan Tipikor Jakarta atau tempat lainnya.

Miryam didakwa telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut.

Sebagai saksi, dalam persidangan perkara korupsi persetujuan anggaran dan proyek pengadaan pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun 2011-2012 atas nama terdakwa Irman dan Sugiharto dengan perkara Nomor 41/Pid.Sus/TPK/2017/PN.JKT.PST.

"Dengan sengaja memberikan keterangan tidak benar dengan mencabut semua keterangannya yang pernah diberikan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidikan yang menerangkan bahwa antara lain, adanya penerimaan uang dari Sugiharto," tutur Jaksa Kresno membacakan surat dakwaan.

Dia mengatakan, pencabutan BAP dilakukan Miryam di hadapan persidangan dengan alasan ditekan dan diancam tiga penyidik saat menjalani pemeriksaan di KPK.  Padahal, kata dia, alasan yang disampaikan tersebut tidak benar.

Jaksa Kresno menguraikan, saat dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Irman dan Sugiharto beberapa waktu lalu, terlebih dahulu Miryam disumpah untuk memberikan keterangan yang benar.

Rupanya saat sidang, Miryam mencabut seluruh isi BAP setelah dikonfirmasi ketua majelis hakim atas keterangan dalam BAP tertanggal 1 Desember 2016, 7 Desember 2016, 14 Desember 2016, dan 24 Januari 2017 yang diparaf dan ditandatangani Miryam.

Di sisi lain, kata dia, Miryam membenarkan seluruh tanda tangan dan paraf yang dia bubuhkan. Pencabutan seluruh isi BAP karena Miryam mengaku ditekan dan diancam tiga penyidik.

"Hakim kembali mengingatkan agar terdakwa (Miryam) memberikan keterangan yang benar di persidangan karena sudah disumpah. Selain itu, menurut hakim keterangan terdakwa dalam BAP sangat tuntut, sistematis, dan tidak mungkin bisa mengarang seperti itu. Sehingga kalau mencabut keterangan harus dengan alasan yang logis agar bisa diterima oleh hakim," tutur Kresno.

Hakim juga mengingatkan Miryam mengenai ancaman pidana penjara apabila memberikan keterangan palsu sebagai saksi. Meski sudah diperingatkan hakim, Miryam tetap mengaku ditekan dan diancam penyidik.

Singkat cerita, tutur Kresno, JPU yang menangani perkara Irman dan Sugiharto menghadirkan tiga penyidik, yakni Novel Baswedan, MI Susanto, dan A Damanik sebagai saksi verba lisan dan diambil sumpahnya di hadapan majelis hakim pada Kamis (30/3/2017).

Novel, Susanto, dan Damanik kemudian dikonfrontasi dengan Miryam tererkait ancaman dan tekanan dari penyidik, seperti yang dituding Miryam. Secara umum, tiga penyidik memastikan tidak pernah mengancam apalagi menekan Miryam. Dalam empat kali pemeriksaan, Miryam sudah membaca, memeriksa, dan mengoreksi keterangannya dalam BAP pada setiap akhir pemeriksaan.

"Selain itu pada setiap awal pemeriksaan lanjutan, terdakwa juga diberikan kesempatan untuk membaca dan mengoreksi keterangan yang pernah diberikan dalam BAP sebelumnya," kata JPU Kresno.

Hakim kemudian mengonfirmasi ke Miryam. Dia membantah pernah menerima uang dari Sugiharto. Bagi JPU, keterangan yang disampaikan Miryam sebagai saksi di persidangan terdakwa Irman dan Sugiharto adalah keterangan palsu.

Keterangan Miryam dikatakan bertentangan dengan tiga hal. Pertama, keterangan tiga penyidik. Kedua, bukti-bukti lain berupa dokumen draf BAP yang telah dicoret-coret atau dikoreksi dengan tulisan tangan Miryam. Ketiga, rekaman video pemeriksaan yang menunjukan tidak adanya tekanan dan ancaman tersebut.

Keterangan Miryam bahwa tidak pernah menerima uang dari Sugiharto juga dikatakan JPU bertentangan dengan keterangan Sugiharto sebagai terdakwa saat itu yang menyebut sudah memberikan sejumlah uang kepada Miryam.

Kresno membeberkan, saat itu juga JPU yang menangani terdakwa Irman dan Sugiharto sempat memita majelis hakim mengeluarkan penetapan agar Miryam ditetapkan sebagai pelaku pemberi keterangan palsu.

"Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 22 junto Pasal 35 ayat 1 UU Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2011 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 64 ayat 1 KUHP," kata Kresno.

Mengacu ketentuan Pasal 22, Miryam terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara. Pasal ini secara utuh berbunyi setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun dan atau denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta.

Sementara Pasal 35 ayat 1 menyatakan, setiap orang wajib memberi keterangan sebagai saksi atau ahli, kecuali ayah, ibu, kakek, nenek, saudara kandung, istri atau suami, anak, dan cucu dari terdakwa. Ayat 2, orang yang dibebaskan sebagai saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dapat diperiksa sebagai saksi apabila mereka menghendaki dan disetujui secara tegas oleh terdakwa. Ayat 3, tanpa persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2, mereka dapat memberikan keterangan sebagai saksi tanpa disumpah.‎

Di hadapan majelis hakim, Miryam S Haryani keberatan dengan dakwaan JPU dan akan mengajukan eksepsi (nota keberatan). Usai persidangan, Miryam menyampaikan beberapa hal terkait dakwaan.

Pertama, mengucapkan terima kasih sidangnya telah dimulai pada hari ini. Namun, dia merasa agak aneh karena baru mendapatkan informasi tersebut pada Kamis pukul 08.00 WIB pagi di rutan. Dia tidak mengetahui apakah sebelumnya tim kuasa hukumnya sudah diberitahu atau belum.

"Kedua, saya keberatan atas dakwaan yang dibuat jaksa. Karena keberataan itu saya tidak mengatakan keterangan yang tidak benar sesuai Pasal 22 itu. Jadi saya enggak tahu keterangan mana yang merasa tidak benar itu menurut jaksa. Padahal saya sudah memberikan keterangan yang benar di pengadilan kalau misalnya keterangan benar ada di penyidikan, nah proses penyidikan yang saya jalani itu saya agak tertekan dan cukup stres waktu itu," kata Miryam.

Dia mengakui penyidik yang paling menekannya adalah Novel Baswedan. Pun kalau misalnya ada dugaan tekanan dari sejumlah anggota DPR seperti misalnya yang diutarakan Novel, Miryam mempertanyakan sikap KPK yang tidak lantas memberinya perlindungan.

"Kok didiamkan? saya question lho. Pemeriksaan satu dan keempat ada jeda cukup lama itu saja," ujarnya.

Dia mengaku keberatan dengan keterangan Novel tersebut. Dia sudah mengirimkan keberatannya sebagai bentuk pengaduan ke Pansus Hak Angket DPR terhadap KPK. (sn) NUSANEWS.NET

BACA JUGA:

BAGAIMANA KOMENTAR ANDA?

loading...
Nama

Bisnis,1670,Daerah,945,Edukasi,66,Ekonomi,1058,Hukum,6631,Inspiratif,24,Investasi,29,Islami,73,IsNews,998,Jabodetabek,5767,Jurnalistik,1121,Keamanan,387,Mancanegara,2262,Mualaf,139,Nasional,1353,News,1769,Olahraga,222,Otomotif,12,Peristiwa,8473,Pilkada,741,Politik,14211,Ramadhan,17,Seleb,1027,Story,23,Suara Publik,288,Tekno,188,Tips,40,TOP,19,Unik,43,Video,877,Wow,26,
ltr
item
NUSANEWS: Didakwa Kesaksian Palsu, Miryam Haryani Terancam 12 Tahun Penjara
Didakwa Kesaksian Palsu, Miryam Haryani Terancam 12 Tahun Penjara
Terdakwa Miryam S Haryani terancam hukuman 12 tahun penjara setelah didakwa melakukan perbuatan berlanjut dalam memberikan keterangan palsu. Hal itu mengacu Pasal 22 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
https://1.bp.blogspot.com/-TSfQZGnqkHw/WWdxniE1GhI/AAAAAAAABOw/1ZBw94W-3hEacwiM6fwhrsAceJFmgJvYwCLcBGAs/s640/miryam-haryani-terancam-dihukum-12-tahun-penjara-8V5.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-TSfQZGnqkHw/WWdxniE1GhI/AAAAAAAABOw/1ZBw94W-3hEacwiM6fwhrsAceJFmgJvYwCLcBGAs/s72-c/miryam-haryani-terancam-dihukum-12-tahun-penjara-8V5.jpg
NUSANEWS
http://www.nusanews.net/2017/07/didakwa-kesaksian-palsu-miryam-haryani.html
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/
http://www.nusanews.net/2017/07/didakwa-kesaksian-palsu-miryam-haryani.html
true
5398521020948470106
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts TAMPILKAN SEMUA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Beranda Halaman Berita View All SARAn UNTUK ANDA KATEGORI ARSIP CARI BERITA ALL POSTS Berita yang Anda Cari Tidak Ditemukan! Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des Baru Saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow KONTEN INI TERBATAS! Silahkan Bagikan Untuk Membuka atau Melihatnya Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy